“Kemesraan” Seumur Jagung Trump dan Putin

0
108

Nusantara.news – Latihan gabungan angkatan darat, laut dan udara Rusia di Semenanjung Crimea pekan lalu—dinilai terbesar sepanjang sejarah angkatan bersenjata negara itu—, serta kesediaan Donald Trump menghadiri pertemuan puncak pemimpin NATO bulan Mei mendatang di Brussel, menjadi sinyal cukup kuat untuk membaca bahwa “kemesraan” yang ditunjukkan kedua pemimpin, Rusia dan Amerika Serikat mungkin segera berakhir, hanya seumur jagung.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menunjukkan momen-momen “kemesraan” di saat-saat awal pemerintahan baru AS. Trump dan Putin bahkan sudah merencanakan pertemuan lebih lanjut, setelah pada Januari lalu berkomunikasi lewat telepon.

Dalam pembicaraan hampir 45 menit yang hangat itu, Putin mengucapkan selamat atas dilantiknya Trump sebagai Presiden AS. Itu ucapan yang kedua kalinya setelah sebelumnya Putin juga menelepon untuk ucapkan selamat setelah penghitungan suara Pemilu AS menentukan Trump sebagai pemenang.

Tidak terungkap secara terbuka apa saja poin penting pembicaraan Trump dan Putin, namun sejumlah kalangan menduga masalah-masalah terorisme di Timur Tengah, ISIS di Suriah, Iran, dan pencabutan sanksi Amerika dan negara-negara Eropa atas Rusia termasuk yang dibicarakan. Ekonomi Rusia cukup terpukul dengan sanksi itu.

Media Rusia di awal-awal terpilihnya Presiden Trump menyebut keakraban Putin dan Trump sebagai babak baru hubungan kedua negara, setelah pada tahun-tahun sebelumnya mengalami krisis hubungan yang cukup parah, terkait pengembangan program senjata nuklir serta pencaplokan Crimea oleh Rusia.

Kehangatan Trump dan Putin tidak serta merta membuat hubungan baik dua negara yang sangat berpengaruh di dunia itu menjadi otomatis mudah untuk dibangun. Ada banyak pertentangan, termasuk dari kalangan dalam Donald Trump sendiri. Tidak sedikit pejabat senior AS dan anggota parlemen dari Partai Republik, partai yang mendukung Trump, menolak kerja sama AS dan Rusia.

Nyatanya, tidak lama setelah Trump mengisi Gedung Putih, isu campur tangan Rusia dalam Pemilu AS menjadi bola liar yang menggelinding ke mana-mana. Tidak saja anggota parlemen dari partai oposisi (Demokrat) sejumlah anggota parlemen dari Republik juga mendukung agar isu keterlibatan Rusia dalam Pemilu AS dibongkar. Puncaknya, Direktur FBI James Comey pada Senin (20/3) secara terbuka menegaskan untuk pertama kalinya di hadapan Komisi Intelijen di Kongres AS bahwa FBI sedang menyelidiki hubungan Presiden Trump dan Rusia dalam mempengaruhi kampanye Pemilu Presiden AS 2016 yang dimenangkan Trump.

Comey dan Direktur National Security Agency (NSA) Laksamana Mike Rogers, menjelaskan bahwa penyelidikan mengenai hubungan Moskow dan pemilu AS pada bulan November bisa berlangsung selama berbulan-bulan.

Comey juga menolak untuk menarik pernyataannya bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak hanya meninginkan capres dari Partai Demokrat Hillary Clinton kalah dalam Pemilu tetapi dia juga menginginkan Donald Trump menang.

Tidak hanya masalah keterlibatan Rusia dalam meretas Pemilu AS, pemerintahan baru Donald Trump juga “diganggu” dengan dugaan adanya komunikasi ilegal antara penasihat keamanan dalam negeri saat itu, Michael Flynn dengan Sergei Kislyak, Duta Besar Rusia untuk AS, yang membicarakan soal pencabutan sanksi atas Rusia yang dijatuhkan pada era Pemerintahan Obama terkait pelanggaran Crimea. Meski tuduhan-tuduhan itu tetap dibantah Trump, namun penasihat keamanan dalam negeri Trump, Flynn terpaksa “dipecat” untuk menghadapi proses pemeriksaan. Flynn kemudian digantikan oleh Letnan Jenderal HR McMaster yang pandangannya berbeda 360 derajat dengan Flynn, Master adalah seorang anti Rusia.

Setelah pengunduran diri Michael Flynn, tampaknya perubahan terjadi di dalam lingkaran tim Presiden Trump. Tampaknya, mereka mulai mengakui bahwa memperbaiki hubungan AS-Rusia jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.

Meski juru bicara Gedung Putih Sean Spicer masih mengatakan keinginan Trump untuk dekat dengan Rusia, kenyataannya Presiden Trump telah secara jelas mengharapkan Pemerintah Rusia untuk mengurangi kekerasan di Ukraina dan mengembalikan Crimea.

Begitu pula, pada saat Konferensi Keamanan di Munich beberapa pekan lalu, Wakil Presiden AS Mike Pence menegaskan perlunya Rusia menghormati kesepakatan Minsk dan mengurangi kekerasan di Ukraina. Pada saat sama, Pence menekankan perlunya mencari kesamaan dalam hubungan.

Trump sendiri pernah men-tweet kalimat bernada ketidaksetujuan dengan Putin meskipun itu lebih ditujukan kepada Obama, “Krimea dipakai oleh Rusia selama pemerintahan Obama. Apakah Obama terlalu lunak pada Rusia?” cuit Trump.

Lebih tegas lagi Trump menyatakan, “Saya pikir Putin mungkin menganggap bahwa dia tidak dapat membuat kesepakatan dengan saya lagi karena politik itu akan menjadi tidak populer bagi seorang politisi.”

Bagaimana sikap Rusia dengan perkembangan yang terjadi di AS? Mereka juga tampaknya saat ini mulai skeptis. Ditunjukkan dengan pemberitaan di media-media Rusia yang menyatakan bahwa “terlalu dini bagi Rusia untuk menyanjung Trump. Sekarang saatnya berhenti untuk mengatakan kami “suka” dengan Trump.

Pemerintah Rusia sendiri melihat perubahan sikap AS sebagai kesalahan sistem politik AS, ketimbang menyalahkan Trump, karena telah bersekongkol memblokir keinginan untuk meningkatkan hubungan AS-Rusia. Dalam kasus pengunduran diri Flynn, Senator Rusia Aleksey Pushkov mentweet bahwa “target-nya bukan Flynn tapi hubungan AS dengan Rusia.”

Tapi, dengan Rusia unjuk kekuatan lewat latihan perang terbesar di Krimea tanpa seizin NATO, dan keinginan Trump untuk menegaskan komitmen AS bersama negara-negara Eropa di NATO pada bulan Mei mendatang, jelas sudah kedua negara ini agaknya sulit dipersatukan dalam sebuah kerja sama. Bagi Rusia, mempertahankan Crimea sangat penting, bukan saja karena Laut Hitamnya yang kaya sumber daya migas, tapi sebagian kekuatan nuklir Rusia, yang ditakuti oleh AS, berada di Crime.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, yang sejak awal sepertinya diproyeksikan untuk mengeratkan hubungan AS-Rusia, karena kedekatannya dengan Vladimir Putin saat CEO ExonMobil, mungkin saat ini dalam posisi tak enak hati. Bulan April mendatang, sedianya dia menghadiri pertemuan tingkat menteri NATO di Brussel, tapi entah kenapa dia lebih memilih untuk melawat ke Rusia. Mungkinkah masih ada celah bagi kerja sama AS-Rusia? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here