Kemudahan Bisnis Turun, Tanda Paket Kebijakan Ekonomi Mandeg

0
160

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Jokowi tentu saja kecewa, kalau tidak dikatakan marah, menyaksikan peringkat kemudahan bisnis (Ease of Doing Business (EoDB) Indonesia 2019 turun dari 72 ke 73 dari 190 negara di dunia.

EoDB merupakan peringkat yang dibuat Bank Dunia dengan menggunakan 11 indikator. Untuk EoDB 2019 Indonesia turun satu peringkat, sekaligus mengonfirmasi para menteri terkait belum bekerja sungguh-sungguh untuk merealisasikan cita-cita Presiden Jokowi. Apalagi tahun 2019 Jokowi menginginkan agar kemudahan bisnis di Indonesia bisa masuk peringkat 40 pada 2019.

Peringkat EoDB Indonesia di 73 ini berada di bawah Peru, Vietnam, Kirgistan, Ukraina, dan Yunani. Dari 11 indikator yang menjadi acuan Bank Dunia dalam penilaian EoDB ini, Indonesia menunjukkan perbaikan pada tiga indikator.

Pertama, untuk indikator kemudahan memulai bisnis, Indonesia berhasil memangkas dan menyederhanakan prosedur pasca pencatatan administratif, antara lain dalam hal administrasi pajak, jaminan sosial, dan perizinan.

Kedua, untuk indikator kemudahan pendaftaran properti, Indonesia berhasil meningkatkan efisiensi administratif.

Ketiga, untuk indikator pemerataan informasi kredit, Indonesia berhasil mengembangkan cakupan informasi yang dikumpulkan dan dilaporkan oleh biro kredit. Indonesia mendapatkan skor 67,96, naik 1,42 poin dibandingkan tahun lalu.

Indikator-indikator lainnya yang tidak menunjukkan perbaikan adalah kemudahan dalam perizinan konstruksi, kemudahan untuk mendapatkan listrik, serta penguatan hak para kreditur dan debitur di mata hukum.

Selain itu, Indonesia belum menunjukkan perbaikan dalam perlindungan untuk investor minoritas, kemudahan dalam pembayaran pajak, perdagangan antarnegara, eksekusi kontrak bisnis, penyelesaian masalah kepailitan, dan aturan perburuhan.

Penurunan peringkat Indonesia dalam kemudahan berusaha ini menunjukkan Indonesia masih jauh dari target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di posisi ke-40 dunia. Padahal, peringkat Indonesia pada tiga tahun sebelumnya cukup signifikan. Pada laporan 2016, Indonesia berada di peringkat ke-106 kemudian meningkat ke peringkat 91 pada laporan 2017. Lonjakan yang paling besar terlihat dalam laporan EoDB 2018, di mana Indonesia naik 19 peringkat ke posisi 72.

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim menyebutkan, sejak diluncurkan pada 2003 laporan EoDB telah menginspirasi 3.500 reformasi di sepuluh area bisnis. Pada periode 2017-2018, sebanyak 128 negara melakukan 314 reformasi dalam kemudahan berusaha.

Peringkat kemudahan bisnis di Indonesia untuk 2019 menurut versi Bank Dunia merosot dari 72 ke 73.

Cuma otak-atik prosedur

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengakui dalam 12 bulan terakhir, pemerintah kehilangan momentum dalam memperbaiki peringkat kemudahan bisnis di Indonesia. Hal ini menyebabkan peringkat EoDB menurun satu peringkat.

Menurutnya, negara lain fokus pada perbaikan kemudahan berusaha dengan semangat yang berapi-api, sementara Indonesia kehilangan fokus. Sejak 2017 Indonesia mulai kehilangan fokus. Semangat Indonesia dalam mengangkat EoDB tidak sama dibandingkan tahun 2014-2016.

Selain itu, Lembong menilai dalam tiga tahun terakhir, ranking EoDB diperoleh bukan lewat cara yang semestinya yaitu perbaikan fundamental pada sistem kerja pemerintahan. Kita hampir kaya pakai cara-cara hacker dengan otak-atik prosedur.

Ia juga menyindir soal kebijakan pemangkasan prosedur administrasi dari tiga minggu menjadi tiga hari. Selain itu menurunkan biaya administrasi dari Rp3 juta menjadi Rp300 ribu. Menurut Lembong, cara tersebut tidak akan membuat perbaikan signifikan dari perbaikan yang sudah ada sebelumnya. “Kalau kita hanya sebatas otak-atik prosedur, kita akan mentok,” kritik Lembong.

Untuk perbaikan peringkat menjadi 40 besar, Lembong menginginkan perbaikan harus dilakukan dari akar permasalahan, yaitu keseluruhan sistem pemerintahan, termasuk pola kinerja, penilaian, dan prestasi yang menitikberatkan pada prosedur dan pemenuhan syarat, serta bukti kepatuhan peraturan.

Dia mengatakan, Presiden Joko Widodo sempat mengamanatkan birokrasi harus berpindah fokus dari aturan menjadi fokus pada hasil. Sedangkan kondisi saat ini, fokusnya masih pada aturan. Proses izin berusaha banyak memakan waktu di adminsitrasi dengan berbagai syarat dan berkas.

Menurut dia, perubahan fundamental pada sistem tersebut diperlukan bukan hanya bagi pelaku birokrasi tetapi juga penegak hukum. Ia pun mengingatkan langkah Jokowi pada 2-3 tahun yang lalu yang memanggil lembaga audit dan lembaga penegak hukum untuk fokus kepada hasil dan mengurangi tindakan korupsi.

Lembong juga mengingatkan tantangan lain perbaikan EoDB dari Pemerintah Daerah (Pemda) dan pemerintah pusat masih serupa, yaitu terjebak pada pola kegiatan yang tidak produktif. Selain itu, para pejabat masih melakukan praktik saling sandera dan peras.

Sementara Menko Perekonomian Darmin Nasution berpendapat reformasi birokrasi tidak bisa sebatas mempercepat prosedur administasi. “Orang lain reform-nya jauh mendasar. Dia mengubah bisnis proses secara mendasar, bukan cuma otak-atik,” cetus Darmin.

Lepas dari penurunan EoDB dan apologi yang diutarakan, nampaknya Pemerintahan Jokowo secara umum sudah kehilangan fokus. Terutama saat memasuki tahun politik 2018, khususnya masa pemilihan presiden (Pilpres), upaya untuk meningkatkan kemudahan bisnis makin menjauh.

Hal itu bisa dipahami mengingat Presiden Jokowi harus sibuk berkampanye sehingga fokus perhatiannya sudah bergeser. Walaupun dikatakan kampanye hanya sabtu dan minggu, namun faktanya seluruh raga dan perhatiannya tersita untuk pilpres.

Padahal kalau Presiden Jokowi mau memperketat penerapan 16 Paket Kebijakan Ekonomi yang dibangun sejak 2014, mestinya peringkat kemudahan bisnis Indonesia terus mananjak. Tapi apa boleh buat, ini tahun politik Bung, maklum lah kalau peringkat kemudahan bisnis itu merosot.

Cilakanya para menteri yang memiliki key performance indicator (KPI) untuk mengatrol EoDB malah cuci tangan dan memberi komentar atas amanah Presiden yang diembankan pada dirinya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here