Ken Dedes, Wanita Agung yang Melahirkan Raja-Raja Jawa

0
867
Ilustrasi arca Pradjnaparamitha sebagai perwujudan dari Ken Dedes

Nusantara.news, Kota Malang – Sosok Ken Dedes telah terpatri di benak masyarakat malang bahkan penjuru nusantara. Sosoknya yang dianggap memiliki paras yang cantik ini menjadi ikon Kota Malang, dan daerah Malang Raya sekitarnya.

Putri yang disebut-sebut tinggal di Panawijen menurut beberapa prasasti, yang notabene sebuah daerah kelurahan yang bernama Polowijen Kota Malang, mencuat bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Singosari. Ken Dedes bersama Ken Arok (suaminya) adalah pendiri dari kerajaan.

Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Ken Dedes merupakan  istri dari Raja Singosari yakni Sang Amurwabhumi atau populer dengan nama Ken Arok. Sedangkan dalam Serat Pararaton disebutkan Ken Dedes adalah penganut agama Buddha Tantrayana yang taat dan pandai ilmu agama. Keterangan tersebut diperkuat sebab Ken Dedes sendiri merupakan putri dari Mpu Purwa, seorang Biksu Buddha aliran Mahayana dari desa Panawijen.

Ken Dedes juga digambarkan sebagai arca perwujudan Dewi Prajnaparamita yang merupakan salah satu Dewi dalam cerita Buddha yang memiliki ketaatan pada agama yang dianut. Arca asli Dewi Prajnaparamita ditemukan di kompleks Candi Singosari dan sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta, hal tersebut membuktikan bahwa Malang merupakan pusat kerajaan besar di wilayah Jawa berdasarkan keterangan Prasasti Mula-Malurung 1255 M.

Selain arca Prajnaparamita, juga ditemukan pathirthaan (pemandian) yang kini disebut sendang Ken Dedes di Singosari yang terletak di daerah Kelurahan Polowijen (Ponowijan)Kota Malang. Daerah Polowijen, yang diduga kuat dulunya bernawa Panawijan merupakan tempat tinggal seorang Biksu Buddha Tentrayana, yakni Mpu Purwa yang tak lain adalah orang tua dari Ken Dedes.

Kecantikan dan Pertautan Kekuasaan

Sosoknya yang dipandang sebagai wanita yang memiliki keanggunan, mengundang kontroversi pada zamannya. Kelebihan tersebut bisa menjadi dampak positif ketika Ken Dedes merupaka simbol putri yang terkenal dan kecantikan Ken Dedes membuat beberapa orang berselisih untuk memilikinya.

Arca Pradnya Paramitha (Sumber: Wiltakita)

Di balik kecantikan Ken Dedes, ada sebuah cerita pertautan kekuasan hingga meregang nyawa para pemujanya. Ken Dedes yang merupakan simbol wanita utama, wanita istimewa yakni Nareswari dalam Kitab Serat Pararaton. Itulah sebabnya Ken Arok berusaha keras untuk menikahinya meskipun harus mengorbankan banyak nyawa.

Ken Arok dan Tunggul Ametung, menjadi lakon utama perebutan hati Ken Dedes. Tunggul Ametung yang merupakan Adipati dari Tumapel, wilayah Kerajaan Kediri, bertemu Ken Dedes langsung jatuh hati, dan membawa Ken Dedes kabur ke keraton, tanpa seizin Mpu Purwa, Ayah Ken Dedes.

Ken arok kala itu menjadi abdi dalem Tunggul Ametung, terpincut melihat keanggunan dan keistimawaan dalam diri Ken Dede sehingga muncul hasrat untuk memiliki. Di sinilah pertautan antara Tunggul Ametung dan Ken Arok yang akhirnya Tunggul Ametung terbunuh di suatu malam oleh Ken Arok menggunakan keris Mpu Gandring.

Sementara itu ada juga versi yang menyatakan Ken Dedes memiliki wahyu keprabon. Selain itu, Ken Dedes adalah penganut Buddha yang telah menguasai ilmu Karma Amamadang. Pemilik Ilmu Karma Amamadang ini bertingkah laku sempurna, tanpa cela dan salah langkah.

Ibu Pararaton: Lahirnya Raja-Raja di Jawa

Memiliki simbol wanita Nareswari, wanita yang utama merupakan hakikan kesempurnaan tertinggi wanita dalam ajaran Buddha Tentrayana. Tak hayal dari rahim seorang wanita nareswari nantinya akan memiliki potensi untuk menjadi seorang pembesar kerajaan.

Dalam sejarah tercatat keturunan Ken Dedes yang pernah menikah dua kali yakni dengan Tunggul Ameting dan Ken Arok. Dari keturunan Tunggul Ametung lahir Anusapati hingga anak cucunya seperti Ranggawuni dan Kertanegara, yang menjadi raja maupun pembesar di Singosari. Sementara dari Ken Arok, Ken Dedes memberikan lahir Tohjaya hingga keturunannya menjadi orang-orang besar di Kerajaan Singosari dan Majapahit,  diantaranya Raden Wijaya (pendiri dan raja pertama kerajaan Majapahit) .

Sampai di garis keturunan keempat, terjadi penyatuan antara keturunan Ken Dedes dari darah Ken Arok yaitu Raden Wijaya dengan keturunan Ken Dedes dari darah Tunggul Ametung. Peristiwa ini diketahui dari pernikahan Raden Wijaya dengan dua putri Kertanegara, Tribhuana Prameswari dan Gayatri Rajapatni yang tercatat sebagai manusia-manusia tangguh dan besar yang di Kerajaan Singosari dan Majapahit.

Sultan Trenggana Raja Kesultanan Demak juga merupakan garis keturunan Ken Dedes. Raden Patah (pendiri Kesultanan Demak) yang merupakan putra Prabu Brawijaya, termasuk garis keturunan Raden Wijaya.

Ketika Demak digantikan Pajang yang diperintah Sultan Hadiwijayadi atau Joko Tingkir, anak Ki Ageng Pengging, juga keturunan Raden Patah yang masih satu gars keturunan darah dari Ken Dedes.

Keturunan Ken Dedes juga diyakini tetap memerintah di tanah Jawa karena hingga kini, Kasunanan Surakarta maupun Kesultanan Yogyakarta merupakan keturunan Sutawijaya.

Dari rahim Ken Dedes inilah telah menurunkan raja-raja besar Singosari dan Majapahit, dinasti Rajasa. Diantaranya raja Kerajaan Singosari yakni Raja Anusapati (meninggal 1248 M dan sosoknya dicandikan di Candi Kidal), Panji Tohjaya (meninggal 1250 M), Rangga Wuni (Abhiseka Wisnuwardhana meninggal tahun 1270 M dan dicandikan di Candi Jago), Mahesa Campaka (Bhatara Narasingamurti), serta Kertanegara (1254 M).

Duplikat patung Ken Dedes ditempatkan di sebelah kiri pintu masuk Kota Malang, bertujuan agar para pendatang yang memasuki Kota Malang mengetahui bahwa raja-raja besar di Jawa adalah keturunan orang Malang. Dan Malang dulunya pernah menjadi pusat peradaban kerajaan yang ada di jawa yakni Kerajaan Kanjuruhan dan Kerajaan Singosari. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here