Kenaikan BI Rate Masih Belum Sesuai Harapan

0
222
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan pihaknya telah menyiapkan empat langkah kebijakan moneter untuk menstabilisasi perekonomian.

Nusantara.news, Jakarta – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) hari ini memutuskan menaikkan untuk kedua kalinya suku bunga acuan 25 basis poin. Sudah mulai tampak penguatan rupiah dibandingkan posisi pekan lalu, namun penguatan itu masih jauh dari harapan.

Dalam RDG BI diputuskan suku bunga 7 Days Reverse Repo naik dari 4,50% menjadi 4,75% sebagai upaya pengendalian moneter jangka pendek. Ini adalah kenaikan kedua setelah dua pekan sebelumnya RDG BI menaikkan suku bunga acuan dari 2,25% menjadi 4,50%.

Kenaikan suku bunga acuan kedua itu ditempuh BI setelah pada kenaikan pertama tidak berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah. Rupiah yang tadinya diperdagangkan pada kisaran Rp13.925 malah melesat menembus level Rp14.200.

Sejak rencana kenaikan suku bunga acuan kedua, rupiah mulai jinak ke level Rp13.995 pada Senin lalu, dan pada realisasi penurunan bunga acuan kedua hari ini, rupiah hanya 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.993.

Siapkan empat langkah

Dalam konferensi pers Penguatan Koordinasi Untuk Stabilisasi dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi hari ini, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan empat langkah kebijakan moneter untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

Pertama, respons kebijakan suku bunga secara preemptive dan front loading untuk memperkuat serta menstabilkan nilai tukar rupiah. Hal ini juga dilakukan agar tetap konsisten dalam menjaga inflasi di kisaran 3,5% plus minus 1% pada 2018-2019.

Untuk itu, bank sentral sudah menjadwalkan RDG bulanan tambahan hari ini untuk merumuskan kebijakan tersebut. “Ini bukan RDG emergency, ini RDG tambahan,” tegasnya.

Kedua, memperkuat, dan mengoptimalkan intervensi ganda (dual intervention) yang telah dilakukan sejak 2013. BI tidak hanya menstabilkan kurs tapi juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Ketiga, terus mengarahkan agar likuiditas tercukupi, khususnya di rupiah dan pasar swap antar bank. Bank sentral bakal memastikan likuiditas perbankan cukup dan memenuhi berbagai kebutuhan likuiditas dari perbankan.

“Misalnya, hari ini suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) hanya sekitar 4%, sedikit lebih rendah dari policy rate kita,” tuturnya.

Keempat, komunikasi yang intensif dengan pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan ekonom untuk membentuk ekspektasi yang rasional. Langkah ini diyakini dapat menghindari perkiraan nilai tukar yang kecenderungannya terlalu melemah.

Pertanyaannya, sudah efektifkah kenaikan suku bunga acuan BI Rate ini dalam mengembalikan nilai tukar rupiah? Apakah kebijakan BI Rate ini dapat mengembalikan rupiah pada face value yang ideal saat ini?

Kalau mau merunut pelemahan rupiah diawali ketika Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengumumkan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate sebanyak tiga hingga empat kali dalam tahun ini. Saat itu rupiah masih dalam kisaran Rp13.600.

Sejak itu rupiah secara perlahan namun pasti terus melemah, bahkan tergelincir ke level terendah Rp14.257 pada perdagangan pekan lalu. Belakangan, ketika BI mengumumkan rencana kenaikan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo kedua, rupiah mulai berangsut naik ke level Rp13.995. Dan hari ini ketika RDG BI merealisasi kebijakan kenaikan suku bunga rupiah praktis hanya menguat 2 poin.

Inilah yang dikatakan bahwa keniakan suku bunga acuan kedua belum memenuhi harapan. Setidaknya rupiah diharapkan menguat hingga ke level Rp13.800 pada kenaikan kedua BI Rate tersebut. Artinya, pasar masih lebih tertarik untuk memegang dolar, belum sepenuhnya pasar melepas dolarnya dan mengkonversi ke dalam rupiah.

Apalagi investor asing lebih memiliih pulang kandang, karena imbal hasil treasury bill yang tinggi di Amerika, sehingga investor asing lebih nyaman memegang dolar AS.

Berdasarkan data di Bursa Efek Indonenesia (BEI), dana keluar (capital outflow) sudah mencapai Rp41 triliun. Hal ini tercermin dari penurunan nilai saham di pasar modal.

Hal lain yang masih belum sesuai harapan adalah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup melemah 0,94% atau 52,27 poin di level 6.011,05, setelah dibuka dengan pelemahan 0,51% atau 30,89 poin di level 6.037,43.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 6.001,80–6.095,83. Dari 584 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 162 saham menguat, 228 saham melemah, dan 194 saham stagnan.

Berdasarkan data Bloomberg, delapan dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona merah, dengan tekanan terbesar dari sektor aneka industry yang melemah 2,01%, disusul sektor infrastruktur yang turun 1,85%.

Adapun hanya sektor tambang yang menguat sebesar 0,26% dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut.

Mayoritas indeks lain di Asia juga melemah, dengan indeks Topix turun 1,46%, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,40%, dan indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,96%.

Bursa saham Asia memperpanjang aksi jual global pada karena krisis politik Italia berimbas ke pasar finansial, menjatuhkan euro ke level terendah dalam 10 bulan, mendorong kenaikan suku bnga di Italia, sehingga investor berlari ke aset yang lebih aman seperti obligasi pemerintah AS.

Menurut Reuters, investor khawatir bahwa pemilihan ulang negara dengan ekonomi terbesar ketiga di zona euro tersebut dapat menjadi referendum de-facto pada keanggotaan Italia di Uni Eropa.

“Arah gerak imbal hasil obligasi jangka pendek Italia yang melonjak membuat Anda berpikir risiko default mungkin terjadi. Ini menceritakan situasi yang buruk,” kata Makoto Noji, analis senior di SMBC Nikko Securities, seperti dikutip Reuters.

Tentu saja upaya RDG BI patut diacungkan jempol karena sedikit banyak telah mengangkat nilai tukar rupiah. Walaupun demikian kenaikan nilai tukar rupiah masih belum menyentuh level yang diharapkan, rupiah hanya menguat terbatas. Itu sebabnya kenaikan rupiah yang terbatas ini tak berdapak positif ke IHSG.

Nampaknya BI perlu menyiapkan kebijakan moneter lanjutan guna memaksimalkan penguatan nilai tukar rupiah dan tentu saja multiplier effect-nya pada perekonomian.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here