Kenaikan Tarif Listrik Langsung Picu Inflasi di Jawa Timur

0
84

Nusantara.News, Surabaya – Beberapa daerah di Jawa Timur mulai dirayapi inflasi akibat  dicabutnya subsidi listrik daya 900 Voltage Ampere (VA) pada 1 Mei 2017, oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Keputusan Pemerintah mencabut subsidi bagi 18,9 juta pelanggan se-Indonesia ini untuk  kategori Rumah Tangga Mampu (RTM).

Dihadapan beberapa wartawan di Surabaya, Kepala BPS Jawa Timur Teguh Pramono mengatakan, pencabutan subsidi listrik pelanggan 900 VA otomatis menjadi faktor utama kenaikan tarif listrik. “Kenaikan tarif listrik ini memberikan andil terbesar terjadinya inflasi di sejumlah daerah Jawa Timur pada April 2017. Selain itu ada beberapa komoditi lain yang ikut menyumbang inflasi seperti daging ayam ras dan emas perhiasan,” terangnya, Selasa (2/5/17).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mengungkap, terjadi inflasi sebesar 0,29 persen akibat kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pasca pencabutan subsidi pelanggan pascabayar dan baru. “Untuk wilayah tertinggi inflasi adalah Kabupaten Banyuwangi dengan nilai 0,48 persen, dan terendah adalah Sumenep sebesar 0,14 persen,” kata Pramono.

Kenaikan ini menjadi sinyal bagi stake holder agar segera mencari solusi agar tidak terus bertambah. Mengingat pada 2-3 bulan kedepan, kebutuhan ekonomi masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah bakal terkuras menghadapi 3 agenda sekaligus. Yakni bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan tahun ajaran baru.

Di Jember, laju inflasi April 2017 tercatat sebesar 0,28 persen dan inflasi “year-on-year” sebesar 3,61 persen. Data dari BPS setempat ini jauh lebih tinggi dari periode serupa tahun 2016 yang hanya sebesar 2,94 persen. “Penghapusan subsidi listrik tahap 2 untuk pelanggan 900 VA memang mempengaruhi. Apalagi tarif listrik juga jadi peyumbang inflasi pada Februari 2017,” sebut Kepala BPS Jember Indriya Purwaningsih dalam keterangan terpisah.

Indriya merinci, terjadinya inflasi karena perhitungan tarif listrik dari jumlah pelanggan pascabayar dan baru terasa dampaknya setelah melakukan transaksi pembayaran listrik atas penggunaan listrik bulan Maret 2017. “Tarif listrik mengalami inflasi sebesar 9,72 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,30 persen pada bulan April 2017,” tuturnya.

Hal ini berbeda jika pemerintah menunda atau meniadakan kenaikkan tarif listrik, Jember berpotensi mengalami deflasi sebesar 0,02 persen pada April 2017. Karenanya, Indriya memprediksi, hingga Juni 2017, kenaikan TDL tetap memberi dampak besar pada inflasi. Tak hanya di Jember, menjadi penyumbang inflasi tertinggi di delapan kabupaten/kota IHK di Jawa Timur, sehingga penyebab inflasi banyak didominasi oleh komponen yang diatur oleh pemerintah (administered price).

Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi sesuai Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah kelompok sandang yang mencapai 1,42 persen, sedangkan inflasi terendah ialah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,06 persen.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi di Jatim, kata Teguh adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,65 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,03 persen. “Untuk komoditas yang memberikan andil terbesar deflasi adalah cabai rawit, bawang merah, dan beras,” ucapnya.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengatakan, pencabutan subsidi listrik RTM pelanggan 900 VA dalam 2 tahap, hanya membuat pengeluaran perbulan bertambah tidak sampai 100 persen dari cost sebelum subsidi dicabut.

Di tahap pertama, tagihan yang awalnya Rp74.740/bulan menjadi Rp98ribu/bulan. Sedangkan di tahap kedua dari Maret-April 2017, bertambah lagi hingga menjadi Rp130 ribu/bulan. Namun itu bukan yang terakhir karena pada Juni mendatang, menjadi Rp185ribu/bulan sebagai bagian dari program efisiensi PLN dalam memproduksi listrik.

“Itu pencabutan tahap terakhir. Setelah itu, pelanggan 900 VA akan dikenakan skema penyesuaian tarif (adjusment),” katanya beberapa waktu lalu di Jakarta. Perubahan ini imbas dari penentuan harga minyak Indonesia (ICP) serta kenaikan kurs mata uang dolar Amerika terhadap rupiah dan inflasi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here