Kenapa Amerika Mulai Gunakan ‘Induk dari Segala Bom’?

0
417

Nusantara.news – Kamis (13/4) merupakan hari naas bagi warga di distrik Achin, Provinsi Nangarhar Afganistan, kawasan pegunungan terpencil, dekat dengan perbatasan Pakistan. Sebuah bom berdaya ledak besar, GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) atau dikenal sebagai ‘induk segala bom’ (Mother of All Boms), dijatuhkan militer Amerika Serikat dari pesawat MC-130 dan menawaskan paling sedikitnya 92 orang anggota ISIS di wilayah itu.

Meski bom ditujukan untuk kelompok teroris ISIS, tapi karena daya ledaknya yang dahsyat sangat dimungkinkan memakan korban warga sipil. Dari perhitungan simulasi menunjukkan efek bom mencapai radius 1,6 kilometer. Oleh karena itu, sangat dimungkinkan terjadinya kerusakan pada wilayah sekitar.

Dalam sebuah laporan, menurut seorang anggota parlemen Nangarhar, Esmatullah Shinwari, penduduk setempat mengatakan kepadanya bahwa seorang guru dan putranya telah tewas.

“Saya hidup dalam perang, dan saya telah mendengar berbagai jenis ledakan sepanjang 30 tahun, serangan bunuh diri yang menimbulkan gempa bumi, dan berbagai jenis ledakan. Tapi saya tidak pernah mendengar (ledakan) seperti ini,” kata sumber tersebut.

Lalu kenapa militer AS mulai menjatuhkan bom non-nuklir paling dahsyat, yang belum pernah digunakan sebelumnya? Dan kenapa pula di Afganistan?

Konon, GBU-43/B atau MOAB merupakan bom terbesar dan terkuat ketiga yang digunakan AS dalam pertempuran setelah dua bom nuklir yang pernah dijatuhkan di Jepang.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan, penggunaan bom tersebut sebagai pemenuhan dari janji kampanye untuk menumpas kelompok teroris ISIS. Meskipun pernyataannya itu cukup membingungkan. Kalau memang sasarannya ISIS, Kenapa tidak dijatuhkan di Raqqa, Suriah atau Irak, misalnya, tempat dimana secara de facto menjadi basis utama ISIS.

Faisel Pervaiz, pengamat masalah Asia Selatan yang bekerja untuk perusahaan intelijen berbasis di Texas Austin, Stratfor, dalam sebuah wawancara dengan Vice menjelaskan, serangan bom GBU-43/B di Afghanistan menjadi pertanda bahwa Pemerintah AS telah melihat Afganistan sebagai basis dari cabang ISIS di luar Irak dan Suriah. “Kehadiran mereka sangat nyata dan tangguh di sana,” kata Faisel.

Penggunaan bom MOAB menandakan bahwa target penyerangan berada di bawah tanah. “Ketika mereka berada di lorong-lorong bawah tanah, tentu sulit melakukan serangan udara. Penggunaan bom seberat 10,3 ton cukup beralasan karena dengan begitu akan menciptakan semacam gempa mini,” tambah Faisel.

Selain soal serangan kepada kelompok ISIS yang merupakan janji Donald Trump ketika kampanye sebagai Presiden AS, penggunaan bom juga secara geopolitik dapat diartikan sebagai “unjuk kekuatan” militer AS terhadap negara yang menjadi pesaing utama militernya seperti Rusia. Seperti halnya di Suriah, Rusia juga tengah berupaya memperkuat pengaruhnya di Afganistan, tentu saja dalam kepentingan yang sama, menumpas kelompok ISIS.

Selain itu, seperti halnya serangan rudal terhadap Suriah, serangan bom dengan kekuatan dahsyat ke wilayah Afganistan, juga bisa jadi merupakan peringatan bagi Korea Utara yang saat ini tengah memasuki masa puncak ketegangan militer dengan AS.

Mungkin, Trump ingin mengatakan kepada Kim Jong-Un, “Ini bom yang kami (AS) miliki, dan masih ada lagi yang lebih dahsyat.”

Berikut video mengenai efek pengeboman MOAB di wilayah Afganistan yang dirilis pihak militer AS:

Seberapa dahsyat MOAB?

MOAB atau dalam istilah militer biasa disebut ‘Induk dari Segala Bom’ memiliki panjang 9 meter dengan bobot sekitar 9.800 kilogram.

MOAB dilengkapi GPS sehingga mampu membidik dan menghantam sasaran dengan akurat, ini dibantu dengan keberadaan parasut dan empat sirip pada senjata ini.

Bom diledakkan sesaat sebelum mencapai permukaan tanah. Efeknya, sangat massif, bisa mencapai radius 1,6 kilometer dari segala arah. Daya ledak yang sangat besar karena bom ini dibuat dengan 8 ribu kilogram bahan peledak Trinitrotoluena (TNT).

Casing GBU-43/B terbuat dari alumunium dengan tujuan memaksimalkan ledakan. Meski berdaya ledak sangat tinggi bom ini ternyata terkategori sebagai bom non-nuklir, sehingga penggunaannya di lapangan tidak memerlukan persetujuan langsung dari Presiden AS.

GBU-43/B mulai dikembangkan militer AS pada saat melancarkan perang di Irak, tujuannya untuk menghancurkan terowongan serta fasilitas bawah tanah di negara itu. Bom merupakan yang terberat di antara bom-bom lain yang dimiliki AS sehingga untuk menggunakannya diperlukan pesawat MC-130. Bom dikembangkan sebuah perusahaan bernama Dynetics yang berkantor di Alabama.

Selain AS, Rusia juga mengembangkan bom serupa dengan nama, ‘Bapak segala Bom’ sebagai tandingan  MOAB. Bom ini terkategori senjata thermobaric, yang memanfaatkan oksigen di sekitarnya untuk menghasilkan ledakan dengan daya dan temperatur tinggi.

Selain berdaya ledak tinggi kedua bom yang diproduksi AS dan Rusia, juga berfungsi memberi efek psikologis, yaitu membuat ketakutan di pihak lawan.

Setelah ‘induk segala bom’ jatuh di Afganistan, apa langkah Trump berikutnya di wilayah itu? Seperti diketahui Trump selalu tidak mempunyai rencana jangka panjang.

Seperti penyerangan bom ke Suriah, Trump akhirnya menyatakan tidak ada niatan terlibat terlalu dalam dalam perang Suriah. Padahal sebelumnya Kepala Dewan Keamanan Nasional Jenderal McMaster mengatakan akan menumpas ISIS sekaligus menggulingkan rezim Bashar Al-Assad di Suriah.

Trump mengatakan kepada wartawan bahwa penggunaan bom GBU-43/B di Afganistan merupakan ‘misi  yang sangat sukses’, tapi ketika ditanya tentang strategi jangka panjangnya, dia tidak dapat menjelaskan.

Sesaat setelah GBU-43/B meledak di Afganisatan, anggota kongres Demokrat Barbara Lee dari California mengatakan, “Presiden Trump berutang kepada rakyat Amerika menjelaskan tentang eskalasi kekuatan militer AS di Afghanistan dan strategi jangka panjang untuk mengalahkan ISIS di sana. Presiden tidak boleh diberi cek kosong untuk perang tak berujung,” demikian katanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here