Kenapa Korut Masih Terus Meluncurkan Rudal?

0
145
Orang-orang di Seoul menonton sebuah program berita TV yang menunjukkan laporan sebuah peluncuran rudal oleh Korea Utara. Foto: AP

Nusantara.news – Korea Utara seolah tak mau berhenti menimbulkan kepanikan dan kegaduhan, terutama bagi negara penentangnya, Amerika Serikat. Saat pemimpin negara Paman Sam itu mengunjungi sekutu abadinya di Timur Tengah, Arab Saudi, dan dielu-elukan oleh para pemimpin negara-negara di Timur Tengah pada Minggu (21/5), Korea Utara malah kembali meluncurkan uji coba rudal yang kembali jatuh di dekat Laut Jepang, sekutu AS.

Rudal yang diuji coba pada hari Minggu itu adalah yang ke-11 di tahun ini, menunjukkan bahwa Korea Utara acuh tak acuh dengan tekanan PBB maupun tekanan dunia internasional.

Pemimpin otoriter Korea Utara, Kim Jong-Un, yang mengawasi langsung peluncuran rudal tersebut menyatakannya sebagai “sempurna,” sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Korea Utara KCNA, Senin (22/5) pagi waktu setempat.

Rudal yang diperkirakan merupakan tipe Pukguksong-2, dan termasuk rudal jarak menengah itu, diluncurkan dari sebuah lokasi di Pukchang, utara Pyongyang, pada pukul 04:29 waktu setempat, menurut keterangan Komando Pasifik AS dan kepala staf gabungan Korea Selatan. Rudal meluncur dengan jarak sekitar 310 mil atau lebih dari 500 kilometer dan mendarat di laut antara Semenanjung Korea dan Jepang.

Uji coba ini adalah yang terbaru, setelah serangkaian demonstrasi kekuatan militer Korea Utara yang sangat provokatif dilakukan negara itu sebelumnya, yang telah menimbulkan ketegangan di kawasan tersebut dan memprovokasi Gedung Putih untuk mengambil tindakan pengamanan.

Pertanyaannya, meski tidak ada perkembangan berarti dari tekanan AS yang telah mengirimkan sekelompok kapal induk Carl Vinson ke Semenanjung Korea, maupun tekanan dari pihak PBB, mengapa Korea Utara masih terus saja meluncurkan uji coba rudal, yang jelas sangat memprovokasi?

Seperti diketahui, sebagaimana dilaporkan Newsweek, Senin (22/5) Korea Utara saat ini tengah mengembangkan rudal balistik jarak jauh dan kapal selam yang akan diluncurkan untuk meningkatkan kapasitas militernya. Uji coba rudal Korea Utara kerap dilakukan pada tanggal-tanggal penting yang terkait dengan simbol bagi negara, seperti pada 17 Februari, memperingati ulang tahun mantan pemimpin negara Kim Jong-Il. Ini tentu berfungsi sebagai pernyataan propaganda untuk mengintimidasi lawan-lawannya di dunia internasional, terutama AS.

Ini bukan pertama kali Korea Utara meluncurkan rudal saat pemimpin AS bertemu dengan pemimpin negara lain. Uji coba rudal juga dilakukan Korea Utara pada saat berlangsungnya pertemuan Presiden Trump dengan pemimpin Jepang Shinzo Abe di Mar-a-Lago, Florida 11 Februari lalu. Rudal KN-15 berbasis darat diuji saat itu.

Kemudian peluncuran rudal KN-17 terjadi pada 4 April, tepat beberapa hari sebelum Presiden China Xi Jinping melakukan pertemuan dengan Presiden Trump di resor Mar-a-Lago, Florida, dimana kedua pemimpin negara terbesar ekonomi dunia itu membahas mengenai ambisi militer dan nuklir Korea Utara.

Pada minggu lalu, Korea Utara juga berhasil meluncurkan rudal balistik jenis baru yang, konon, mampu membawa hulu ledak nuklir.

Rudal darat ke darat (ground to ground), yang dijuluki sebagai Hwasong-12, mendarat di laut antara Korea Utara dan Jepang serta memberi isyarat bahwa ada kemajuan rezim otoriter tersebut dalam mengembangkan rudal balistik antarbenua.

Presiden AS Donald Trump yang saat ini tengah sibuk melakukan perjalanan pertamanya ke sejumlah negara dari Timur Tengah hingga Eropa, pernah mengkritik Korea Utara di akun Twitter miliknya dengan menuduhnya sebagai negara yang berperilaku “sangat buruk” dalam twit tertanggal 17 Mei 2017.

Namun, ketika itu dia juga menyatakan bersedia bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un. Trump juga mengatakan kepada Bloomberg dalam sebuah wawancara awal bulan lalu, dia bersedia untuk bertemu dengan Jong-Un.

Sebagai tanggapan atas serangkaian uji coba nuklir Korea Utara yang menjengkelkan itu, Trump sudah mengirimkan sistem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) ke Korea Selatan, tepatnya sebulan sebelum AS mengirimkan kelompok kapal induk Angkatan Laut AS Carl Vinson ke semenanjung Korea.

Korea Selatan dan Amerika Serikat pun sepakat untuk menerapkan sistem anti-rudal tersebut setelah adanya serangkaian uji coba rudal oleh Korea Utara pada tahun 2016. Sistem itu bertindak sebagai perisai pertahanan rudal untuk mencegat rudal jarak pendek hingga medium.

Bagaimana peran China?

Trump juga telah meminta China untuk memainkan peranan yang lebih besar dalam mengendalikan Korea Utara. Trump men-twit pada 17 Mei. “Jika (China) ingin menyelesaikan masalah Korea Utara, mereka bisa melakukannya.” Selain itu, menjelang pertemuan Trump-Xi Jinping di Florida, Trump mengatakan bahwa jika China tidak mau membantu menyelesaikan masalah Korea Utara, maka AS akan bertindak secara sepihak. Meskipun hingga sekarang tidak ada tindakan AS terhadap Korea Utara yang signifikan.

Sebagaimana diketahui, China adalah sekutu internasional bagi Korea Utara yang paling penting dan sebagai mitra dagang utama, meskipun dalam beberapa bulan terakhir hubungan antara kedua negara itu terkesan memburuk, gara-gara Korea Utara yang terus membandel.

Washington dan Beijing dilaporkan sedang membahas tanggapan Dewan Keamanan PBB yang baru atas uji coba rudal Pyongyang, seperti upaya peningkatan sanksi, dan pada bulan April lalu China telah menangguhkan sementara sejumlah penerbangan antara Beijing-Pyongyang.

Keterlibatan China dan AS dalam membahas sanksi dari PBB tersebut berdampak pada ancaman serius Korea Utara terhadap China. Korea Utara memperingatkan China akan “konsekuensi serius” jika ikut dalam pembahasan sanksi atas Korea Utara.

Sebelumnya, China juga dituding oleh Trump telah gagal menindaklanjuti janjinya untuk mendukung inisiatif diplomatik terhadap penyelesaian masalah Korea Utara. Presiden China Xi Jinping sendiri pernah mengungkapkan kepada Presiden AS Donald Trump melalui komunikasi telepon bahwa menangani Korea Utara bukanlah sesederhana yang dibayangkan. Atas pernyataan Xi, Trump baru menyadari bahwa China tidak memiliki pengaruh kuat terhadap Korea Utara seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

Apakah Korea Utara serius dengan perang nuklir?

Berbicara kepada Reuters bulan April lalu Trump mengatakan, “Benar. Ada kemungkinan kita bisa menghadapi konflik besar dengan Korea Utara.”

Sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2011, Kim Jong-Un memang terus meningkatkan program nuklir Korea Utara dengan melakukan serangkaian uji coba nuklir hingga kelima kali pada bulan September 2016, yang bertentangan dengan resolusi PBB.

Analis mengatakan, rudal yang diluncurkan pada hari Minggu lalu tampaknya merupakan rudal balistik jarak menengah yang bisa meluncur cukup jauh untuk menargetkan basis militer utama Amerika di Pasifik, termasuk di Guam. Uji coba ini merupakan tonggak penting, yang menunjukkan bahwa Korea Utara telah melangkah maju dengan proyek rudal balistik antarbenua.

Kim dengan cepat meningkatkan tempo uji coba rudal sejak dia berkuasa pada akhir tahun 2011. Pada era sang ayah, Kim Jong-Il, berkuasa hanya 16 rudal yang diluncurkan selama 17 tahun. Namun di era Kim Jong-Un ini telah sekitar 13 kali uji coba yang dilakukan pada tahun 2015 saja. Kim Jong-Un dinilai lebih agresif dari ayahnya.

Pejabat Gedung Putih yang menemani Trump dalam kunjungannya di Arab Saudi mengatakan, mereka mengetahui peluncuran rudal tersebut. “Sistem ini, yang terakhir diuji pada bulan Februari, memiliki jarak yang lebih pendek daripada rudal yang diluncurkan dalam tiga uji coba terakhir yang dilakukan Korea Utara,” kata pejabat itu kepada wartawan.

Di Tokyo, PM Jepang Shinzo Abe, seperti dilaporkan kantor berita Kyodo, mengatakan bahwa uji coba rudal yang terus menerus dilakukan Korea Utara telah “menginjak-injak upaya masyarakat internasional” untuk menemukan solusi damai dalam masalah nuklir.

Presiden Korea Selatan yang baru terpilih, Moon Jae-in juga kemudian mengadakan sebuah pertemuan dewan keamanan nasional untuk membahas respon terhadap peluncuran nuklir terbaru oleh Korea Utara.

Dewan Keamanan PBB juga dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada Selasa (23/5) untuk membahas provokasi terbaru Korea Utara tersebut.

Korea Utara memang memiliki sejarah kerap membuat klaim hiperbolik tentang capaian senjata nuklirnya, tetapi tidak jelas apakah mereka dapat melakukan semua yang dipropagandakannya itu. Korea Utara juga kerap menerbitkan foto-foto klaim yang sulit dikonfirmasi kebenarannya sebagai perkembangan terbaru senjata nuklir yang dimilikinya.

Mungkin hanya Korea Utara, atau para sekutu terdekatnya yang punya kepentingan, yang tahu persis kenapa uji coba rudal Korea Utara harus dilakukan terus menerus, entah sampai kapan. Dan barangkali juga hanya Korea Utara yang tahu tentang perkembangan sesungguhnya dalam uji coba senjata nuklir negara itu.

Meski banyak analis mengatakan tak perlu terlalu mengkhawatirkan Korea Utara, Robert Litwak, direktur studi keamanan internasional di Woodrow Wilson International Centre, tetap memperingatkan agar tidak terjebak dalam sejumlah analisis yang cenderung spekulatif.

Oleh karena itu solusinya, pemerintah Trump, Korea Selatan, China, dan masyarakat internasional lainnya harus berusaha secara serius menghentikan Korea Utara untuk bertindak lebih lanjut.

“Dengan tidak adanya diplomasi yang serius untuk membatasi masalah uji coba nuklir Korea Utara, dalam beberapa tahun ke depan mereka (Korea Utara) akan dapat menguasai teknologi yang dibutuhkan untuk menyerang,” kata Litwak. “Harus ada jendela untuk diplomasi yang serius,” tegasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here