Kepahlawanan Generasi Milenial

0
214

Nusantara.news, Jakarta – Apa mau dikata, peringatan Hari Pahlawan 10 November kemarin, selain terpasung pada ritus-ritus membosankan tiap tahun, cermin kepahlawanan kita saat ini makin kusam. Terlalu banyak refleksi, pidato, dan anjuran perihal peneladanan pahlawan dari para petinggi, tetapi potret laku lampah mereka keseharian lebih banyak menunjukkan kebalikannya. Narasi kepahlawanan tak mampu mengguggah anak zaman manakala pusat-pusat teladan tak risih mengumbar aib, pemangku kuasa tak pandai mematut diri. Defisit panutan elite bangsa itulah membuat nilai-nilai kepahlawanan saat ini cenderung meredup di masyarakat.

Di saat bersamaan, nilai kepahlawanan juga tampak usang tatkala para generasi tua masih mendengungkannya semata doktrin, mitos, dan perjuangan fisik (otot). Memang, itu tidak salah. Tetapi jika hanya itu, justru akan menenggelamkan makna yang lebih luas karena direduksi. Kepahlawanan dimaknai sangat sempit dan tak sesuai konteks masa yang terus berubah. Boleh jadi kita hanya fasih menyebut nama-nama pahlawan, namun kesulitan menunjukan sosoknya. Atau bagi “kids zaman now”, barangkali hampir mustahil menemukan “rupa pahlawan” kekinian di ranah legislatif, eksekutif, yudikatif, lebih-lebih di partai politik.

Kini di zaman now, dunia sedang bergerak dengan cepat. Inovasi dan kreasi yang berbasis internet meluncur bagai banjir bandang merasuki seluruh teritori kehidupan. Mereka muncul sebagai generasi yang dikenal dengan istilah “Generasi Milenial.” Mereka lahir di era kecanggihan teknologi. Perkembangan teknologi informasi dipahami sebagai ’’papan selancar’’ generasi milenial mematangkan diri. Maka televisi bukanlah prioritas untuk mendapat informasi, apalagi lewat ceramah di seminar dan acara-acara resmi yang bertele-tele. Bagi mereka, segala informasi dan pengayaan wawasan bisa diakses lewat “jempol” mereka dengan perangkat ponsel dan supergadget lainnya.

Lantas siapakah generasi milenial itu? Literatur telah menorehkan hadirnya periodesasi generasi: Waktu usai Perang Dunia II, 1946–1964 dipatok era generasi baby boomer. Tahun 1965–1980 merupakan ajang waktu generasi X yang mengantar hadirnya generasi Y, berdurasi 1980–1994. Adapun generasi Z, berkurun 1995–2010, suatu generasi yang beratribut i-generation, generasi-net, bibit keberlanjutan generasi Y yang keluar dari rahim generasi X. Kini zaman sedang mengandung generasi alpha, 2011–2025.

Generasi milenial, adalah mereka anak muda masa kini yang berusia dikisaran 15 – 34 tahun. Generasi Y atau generasi milenial memiliki ciri berpikir strategis, inovatif, interpersonal, energik, antusias, egaliter, digital native, lebih menyukai visual (gambar), dan diprediksi menjadi pemimpin yang kuat. Namun ada pandangan sinis pula bahwa generasi Y itu tidak suka diatur, kurang loyal, tampak santai dan cenderung malas, serba simple (praktis), tidak sabar, dan lebih instan.

Konteks Kepahlawanan Milenial

Hari Pahlawan memang sudah lewat. Kalau mau mengaitkan dengan mereka, kira-kira bagaimana memaknai nilai-nilai kepahlawanan dalam konteks generasi milenial yang tidak lagi memperhatikan aspek sejarah? Mereka lebih banyak melihat sisi fungsi dan nilai ekonomis. Karena itu, kepahlawanan perlu pemaknaan kontekstual.

Pertama, di era teknologi digital seperti sekarang, musuh kepahlawanan semakin pelik karena dia menyelusup melalui berbagai propaganda yang memecah belah bangsa dan terus menyebar, terutama melalui media sosial. Cita rasa kebangsaan dibuat tawar, makna kepahlawanan digerus dengan narasi saling menegasikan satu sama lain. Maka, jika pahlawan masa lalu mengusir penjajah yang memecah belah bangsa melalui perlawanan fisik dan diplomasi, pahlawan masa kini adalah anak-anak muda milenial yang akan mengalahkan pemecah belah masyarakat melalui berbagai gerakan sosial yang memanfaatkan teknologi.

Kedua, generasi muda (milenial) ini sebagai agen yang ke depan mampu melakukan perubahan yang lebih baik. Sebagai wujud reaktualisasi kepahlawanan di masa kini, mereka yang dikenal kreatif, percaya diri, dan kolaboratif perlu memanfaatkan seluruh karakter positifnya tersebut untuk kepentingan orang banyak. Mereka harus memiliki kedewasaan serta kematangan untuk memahami persoalan di sekelilingnya dan mampu memberikan kontribusi bagi upaya penyelesainnya.

Ketiga, era digitalisasi bahasa persuasi, kemampuan membujuk dan meyakinkan, tanpa mendoktrin lewat mitos yang tidak lagi sesuai dengan zaman. Dibutuhkan pemaknaan baru arti menjadi pahlawan yang selama ini identik dengan romantisme perjuangan senjata dan darah. Kepahlawanan adalah dunia orang gagah berani semata. Sebaliknya, kepahlawanan di era milenial adalah sikap kolaboratif, rela berkorban, dan mampu menjadi role model di bidangnya masing-masing. Kepahlawanan lebih dilihat dalam heroisme menegakkan kebesaran karya dan pengabdian.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here