Paradigma Impor Jelek – Ekspor Bagus, Sudah Usang

0
134
foto: Istimewa

Nusantara.news, [Lokasi] – “Paradigma impor itu jelek sedangkan ekspor baik itu harus diubah. Di banyak negara, kebijakan proteksionisme sudah usang dan ditinggalkan,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong saat memberikan pidato kunci dalam seminar yang diselenggarakan Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Ekonomi Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Rabu (8/2).

Menurut Thomas kita hanya mendengar selama ini mengenai  paradigma impor itu buruk dan ekspor itu bagus. Padahal, tidak ada industri manufaktur yang 100 persen terdiri dari konten lokal. Akibatnya, industri menjadi sulit berkembang. Jadi, paradigma lama kebijakan ekonomi tentang proteksionisme di dalam negeri sebaiknya ditinggalkan. Sebab, paradigma tersebut sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan.

Thomas Lembong mengatakan hal tersebut menanggapi keluhan investor mengenai sulitnya impor suku cadang. Menurutnya, situasi seperti ini justru menyebabkan industri tidak berkembang lagi. Sebagai contoh, produksi mobil yang dilengkapi dengan aksesori atau suku cadang impor dengan mutu yang lebih bagus. Bila diekspor, nilai mobil tersebut semakin tinggi. “Jadi , tinggalkan sajalah kebijakan proteksionisme karena sudah lama dan usang,” ujar Lembong.

Mudah berubahnya kebijakan membuat iklim investasi yang tidak sehat. Keluhan pertama investor adalah mengenai iklim investasi di Indonesia yang selalu berubah-ubah. Menurut Lembong, kebijakan yang mudah berubah memberikan ketidakpastian. Perlu perubahan paradgima dalam penyusunan kebijakan ekonomi di Indonesia.

Di sisi lain, para investor juga banyak yang menghadapi  masalah perpajakan, tenaga kerja, lahan dan ketersediaan infrastruktur, seperti pasokan listrik, jembatan, jalan. Lembong menilai, kebijakan yang ada saat ini lebih cenderung membuat industri dalam negeri sulit berkembang.

Pada dasarnya paradigma kebijakan ekonomi nasional yang ada saat ini tidak berubah salah satunya adalah soal memperkuat infrastruktur. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, kebijakan yang ada sekarang ini cenderung membuat industri dalam negeri sulit berkembang. “Padahal, infrastruktur menjadi salah satu penggerak perekonomian,” ujar Darmin yang juga menjadi pembicara kunci.

Tingkatkan daya saing

Faktor utama peningkatan daya saing nasional berada pada kualitas sumber daya manusianya,  yang proses perbaikannya butuh jangka menengah-panjang. Untuk menyelesaikan persoalan ini, tidak cukup dengan deregulasi melalui paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemerintah saja.

Menurut Darmin Nasution, kita harus memiliki kebijakan industri yang diutamakan. Dan itu yang sedang dilakukan. Kita perlu industri yang pertumbuhannya tidak hanya di atas PDB tetapi juga harus semakin tinggi. Karena, sektor industri punya ciri utama menyerap tenaga kerja relatiif besar dibandingkan dengan sektor modern lainnya. “ini yang dibutuhkan. Dengan begitu kita memang butuh manufaktur,” katanya.

Dalam catatan Indeks Daya Saing Global 2016-2017 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia, peringkat Indonesia turun dari posisi ke-37 menjadi ke-41 walau skor tetap sama, yakni 4,52. Beberapa negara menggeser posisi Indonesia karena perbaikan yang mereka lakukan lebih cepat daripada Indonesia. Tetapi, untuk peringkat kemudahan berbisnis yang dirilis oleh Bank Dunia, posisi Indonesia naik dari posisi ke-106 menjadi ke-91.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here