Kepala Daerah Berprestasi Perlu Diberi Jalan ke Kancah Nasional

0
40
Didampingi Mendagri, Wapres Jusuf Kalla Beri Penghargaan untuk 7 Kepala Daerah Berprestasi

Nusantara.news, Jakarta – Sejak memasuki era pemilihan kepala daerah langsung (Pilkada), selain memang menghasilkan kepala daerah bermasalah, juga haus diakui muncul figur-figur cemerlang yang patut di beri jalan ke pentas nasional.

Sebut saja misalnya, mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher), Gubernur Anies Baswedan, Walikota Bandung dan Gubernur Jawa Barat terpilih Ridwan Kamil, Bupati Bantaeng dan Gubernur Sulsel terpilih Nurdin Abdullah, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Trenggalek dan Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih Emil Dardak , dan banyak lagi.

Sebagian nama kepala daerah itu bahkan disebut-sebut dalam bursa politik sebagai RI-1 ataupun RI-2 di Pilpres 2019. Jika track-nya lurus, sebagian lagi kemungkinan akan berlaga di Pilpres 2024. Tentu saja, prospek semacam ini melegakan di tengah kondisi bangsa yang mengalami defisit kepemimpinan. Barangkali ada baiknya bangsa ini memulai tradisi presiden berasal dari kepala daerah.

Mereka adalah contoh untuk menjelaskan bahwa Indonesia dengan democratic environment seperti saat ini berpotensi melahirkan kepemimpinan dari daerah. Poin pentingnya bukan pada ‘dari daerah’ namun pada kapasitasnya sebagai eksekutor yang berpengalaman, prestatif, dan bervisi kebangsaan. Seorang gubernur dinilai telah memiliki rekam jejak membuat kebijakan publik yang memungkinkannya untuk menjadi kepala negara.

Di Amerika Serikat (AS), misalnya, masih ada perdebatan terkait mana yang lebih baik: seorang senat atau gubernur yang menjadi presiden. Mantan Gubernur Texas, Rick Perry menyebut seorang gubernur lebih layak menjadi presiden dibanding politisi di parlemen karena gubernur tidak hanya berpidato, tetapi juga memikirkan kebijakan politik riil.

Di banyak negara yang sistem politiknya sama dengan Indonesia sebagai negara presidensial, kisah-kisah karier politik pemimpin lokal yang menjadi presiden sebenarnya bukan hal baru. Contohnya, Iran dengan Mahmoud Ahmadinejad (walikota Teheran), Uruguay era kepemimpinan Tabaré Vázquez (2005-2010) yang juga seorang walikota Montevideo (1990-1995), atau Nigeria di bawah Umaru Yar’Adua (2007-2010) yang awalnya adalah gubernur Katsina di Nigeria.

Di AS sebagai negara yang menjadi patokan demokrasi, bahkan tercatat sudah menempatkan 18 orang gubernur sebagai kepala negaranya. Itu artinya, 42 persen dari 45 presiden yang pernah menduduki Gedung Putih sebelumnya menjabat sebagai gubernur di negara-negara bagian. Mereka di antaranya Gubernur Virginia, Thomas Jefferson yang menjadi Presiden ke-3 AS pada dua abad silam. Lainnya, ada George Walker Bush (Gubernur Texas 1995-2000), Bill Clinton (Gubernur Arkansas selama 12 tahun), Jimmy Carter (mantan Gubernur Georgia), atau Franklin D. Roosevelt mantan Gubernur New York.

Di Indonesia, jejak kepala daerah menjadi RI-1 memang sudah diawali oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hanya saja, kemunculan Jokowi yang terlampu cepat menduduki (didudukkan?) di kursi presiden dibarengi dengan meninggalkan jabatan lokal di tengah jalan. Di Solo, ia meninggalkan periode keduanya (2010 – 2015) untuk bertarung merebut kursi gubernur DKI Jakarta pada 2012. Setelah memenangkan kontestasi di Jakarta, Jokowi kembali tak menuntaskan jabatannya hingga akhir (2012 – 2017) karena harus menjajal peruntungan di kancah nasional sebagai capres yang diusung koalisi PDIP pada Pemilu 2014.

Nama Anies juga demikian, belakangan mencuat ke permukaan sebagai salah satu tokoh pontesial untuk menjadi capres maupun cawapres. Meskipun belum genap setahun menjabat sebagai gubernur Ibu Kota, Anies seolah ingin mengikuti jejak Jokowi yang meniti karier hingga ke jenjang tertinggi setelah sebelumnya juga menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Hal itu, sebagaimana kritik pada Jokowi, bukanlah pilihan elok dan bijak bagi Anies untuk berlaga di Pilpres 2019. Jika ia tetap “ngotot” maju sebagai capres-cawapres, maka publik akan menilai Anies tak ubahnya politisi kebanyakan yang berwatak pragmatis dan gampang melanggar janji politik.

Anies dan beberapa kepala daerah lain yang masih menjabat masih punya waktu ideal untuk berkontestasi di Pemilu 2024. Saat ini akan lebih baik bagi mereka untuk memanfaatkan sisa jabatannya dengan menujukkan kinerja gemilang dan memberi legacy yang memikat rakyat.

Bagaimana dengan Aher dan TGB? Kedua nama ini relatif aman untuk berkontestasi karena selain sudah tidak menjabat kepala daerah, juga tercatat sebagai kader partai (Aher kader PKS, TGB kader Demokrat). Keduanya juga merupakan representasi dari santri dan kalangan muda, sebuah kebutuhan pendongkrak elektoral untuk melengkapi dua capres yang sementara ini digadang-gadang: Prabowo Subianto dan Jokowi.

Namun, dibanding TGB, Aher dinilai lebih potensial. Selain memiliki mesin PKS yang dikenal militan, Aher juga merupakan gubernur yang memiliki reputasi mentereng di daerah yang ia pimpin. Bahkan, gubernur dua periode ini menerima penghargaan tertinggi dari Presiden Jokowi yakni Parasanya Purnakarya Nugraha pada 25 April 2018 di Jakarta. Penghargaan itu diberikan karena kinerja gubernur dua periode ini dinilai berhasil, sekaligus melengkapi koleksi prestasinya yang ke-266 selama memimpin Jawa Barat.

Namun lepas dari konteks Pilpres 2019, kesuksesan pemimpin lokal dalam memimpin daerah seharusnya lebih diperhitungkan rakyat dalam memilih seorang presiden, ketimbang mereka yang muncul dengan jalan pintas: transaksional, dinasti, ataupun koneksi para oligarki politik.

Karena itu, untuk memberi jalan pada pemimpin lokal ke RI-1, partai politik harus membangun budaya demokrasi di internal dan membenahi pola rekruitmen calon pemimpin. Jika tidak, para kepala daerah “keren” (utamanya yang telah purnatugas) akan “menganggur”, atau tenggelam bersamaan dengan berakhirnya jabatannya. Tentu hal itu amat disayangkan. Sebab itu artinya Indonesia melewatkan orang-orang terbaiknya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here