Kerjasama dengan Australia Barat, Jatim Dapat Apa?

0
123
Kerjasama Jatim - Australia Barat (Foto: Humas dan Protokol Pemprov Jatim)

Nusantara.news, Surabaya – Jawa Timur dan Australia Barat yang telah 27 tahun membangun kerjasama dengan skema Sister State, terus melakukan penguatan kerjasama di berbagai bidang. Selain mengimpor bahan baku, Jatim mengajak negara bagian di Australia itu untuk meningkatkan investasinya. Hingga saat ini Jatim yang memiliki 39 juta penduduk, merupakan pasar potensial produk-produk industri.

Kerjasama lainnya yang juga diharapkan terus tumbuh adalah pemanfaatan sumber daya alam Australia kemudian dilakukan proses nilai tambah di Jatim. Itu disampaikan oleh Gubernur Jatim Soekarwo dalam sambutannya di acara MoU Kerjasama Provinsi atau Negara Bagian Kembar antara Jatim dan Australia Barat. Serta peresmian kerjasama konsorsium PTN di Jatim dengan perguruan tinggi Australia Barat, di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (28/9/2017).

“Terkait itu perlu segera dilakukan senior official meeting perwakilan kedua belah pihak, termasuk bersama kamar dagang dan industri kedua negara,” ujar Soekarwo.

Soekarwo menyebut, saat ini sekitar 79 persen barang impor Jatim adalah bahan baku. Perlu diidentifikasi produk-produk apa yang dibutuhkan Jatim dan tersedia di Australia Barat.

Pihaknya juga mengaku optimistis, kerjasama dan mengimpor produk-produk dari provinsi di Australia itu, biaya produksi bisa ditekan menjadi lebih rendah. Termasuk jika pemberian nilai tambah dilakukan di Jatim sebagai pasar potensial. Bukan hanya penduduknya yang besar, tetapi peran Jatim sebagai penghubung bagi Indonesia Timur dengan jumlah penduduk tidak kurang dari 120 juta jiwa.

Terkait kerjasama konsorsium perguruan tinggi negeri yang ada di Jatim dengan lima perguruan tinggi Australia Barat, Soekarwo menilai itu juga penting karena sebagai langkah strategis untuk mendorong pembangunan dua wilayah serta, peningkatan sumber daya manusia.

Manfaatkan SDA dan Pasokan Bahan Baku

Menjajaki kerjasama pasokan bahan baku dari Australia untuk sejumlah industri di Jatim, sangat penting. Karena selama ini, 70 persen bahan baku industri diimpor dan memakan biaya cukup tinggi.

“Karena didatangkan dari negara-negara belahan utara. Sementara akan sulit bagi industri lokal untuk bersaing dengan perusahaan multinasional,” terang Soekarwo.

Terkait itu, dalam waktu dekat akan dilakukan pertemuan antara pejabat pemerintahan Jatim dengan para kepala dinas di daerah, juga Kadin untuk membahas hal itu.

Ditambahkan, salah satu kegiatan penting yang perlu ditindaklanjuti dalam kerjasama itu adalah pemanfaatan sumber daya alam Australia kemudian dilakukan proses nilai tambah di Jatim, dengan melibatkan kamar dagang dan industri kedua pihak.

“Saat ini, sekitar 70 hingga 79 persen barang impor Jatim adalah bahan baku. Perlu diidentifikasi produk-produk apa yang dibutuhkan Jatim dan tersedia di Australia Barat,” katanya.

Pihaknya meyakini dengan mengimpor produk-produk Australia Barat, biaya produksi menjadi lebih rendah, karena letak geografis Jatim dengan Australia yang tidak terlalu jauh. “Secara geografis Australia cukup dekat dengan Jatim, itu diharapkan akan menekan biaya tinggi yang harus dikeluarkan oleh pelaku industri,” terangnya.

Apalagi, jika pemberian nilai tambah dilakukan di Jatim sebagai pasar potensial. Bukan hanya penduduknya yang besar tetapi juga sebagai penghubung bagi Indonesia Timur, yang penduduknya tidak kurang dari 120 juta.

Kerjasama konsorsium perguruan tinggi negeri Jatim dengan lima perguruan tinggi Australia Barat, juga dianggap langkah strategis untuk mendorong pembangunan dua wilayah dan peningkatan kualitas SDM.

Menindaklanjuti itu, dalam waktu dekat akan kembali dilakukan pertemuan untuk penyusunan daftar kebutuhan bahan baku yang dapat diimpor dari Australia. Kemudian, Jatim tidak hanya akan mengimpor bahan baku dari negara itu, tetapi juga menjajaki peluang ekspor. Selama ini, Jatim juga telah mengekspor berbagai produk manufaktur dan produk pertanian ke Australia.

Badan Penanaman Modal (BPM) Jatim mencatat selama 40 tahun terakhir, nilai investasi Australia di Jatim sebesar US$894 miliar, di 66 proyek. Dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang di atas pertumbuhan ekonomi nasional, negara itu menyebut berkomitmen mendorong perusahaan asal Australia untuk terus ekspansi bisnisnya di Jatim.

Dalam pertemuan itu Bill Johnston, Menteri Australia Barat Pertambangan dan Perminyakan, Perdagangan dan Hubungan Industri, Urusan Pemilihan dan Kerjasama Asia menyambut positif penegasan serta usulan program kerjasama yang dilontarkan Pakde Karwo.

Usulan yang disampaikan Pakde Karwo, kata Bill dinilai sejalan dengan kebijakan Pemerintah Negara Bagian Australia Barat. Jatim memiliki potensi yang besar ditambah masyarakatnya yang sangat terbuka.

“Potensi besar Jatim dan masyarakatnya yang terbuka telah membuktikan sejumlah pengusaha Australia telah berinvestasi di Jatim,” kata Bill Johnston.

Ditambahkan, kalau negaranya juga ingin memperkuat implementasi teknologi pada perusahaan-perusahaan penanaman modal asing (PMA) asal Australia yang beroperasi di Jatim.

Menurut Bill, hal penting dibandingkan hanya memasok bahan baku, yakni ikut menumbuhkan industri di Jatim sehingga masyarakat dapat merasakan nilai tambah.

“Banyak peluang kerja sama antara Australia Barat dan Jatim khusus untuk pengembangan industri manufaktur. Selain membawa bahan baku dari Australia, kami juga bisa mengolahnya di Jatim, dan yang terpenting kita bisa mengekspor produk hasil olahan tersebut ke negara lain,” jelas Bill Johnston.

Kemudian, soal transfer ilmu pengetahuan Bill Johnston menjelaskan telah banyak kerjasama yang diusung perusahaan asal Australia, misalnya pembinaan peternak susu di daerah penghasil susu di Jatim.

Selain itu, Australia Barat juga memfokuskan kerjasama dengan Asia melalui Asia Engagement. Bill menyebut, penandatanganan MoU Jatim-Australia Barat Periode 2017-2022, tak hanya menandai kerjasama konsorsium PTN Jatim dengan Australia Barat. Termasuk di dalamnya ada penelitian dan publikasi bersama serta pertukaran mahasiswa dan dosen.

Ada sebanyak 10 PTN di Jatim yang bergabung dalam konsorsium itu, yaitu Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya; Universitas Airlangga (UNAIR); Universitas Brawijaya (UB) Malang; Universitas Negeri Jember (UNEJ); Universitas Negeri Surabaya (UNESA); Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Ibrahim Malang; Universitas Trunojoyo, Bangkalan; Universitas Pembangunan Veteran (UPN) Surabaya; Universitas Islam Surabaya (UINS); dan Universitas Negeri Malang (UNM). Sedangkan perguruan tinggi dari Australia adalah the University of Westerndan Australia, Murdoch University, dan the University of Notre Dame.

Beasiswa S2, Pertukaran Mahasiswa dan Dosen

Kerjasama Provinsi Kembar Jatim – Australia Barat (Foto: Humas dan Protokol Pemprov Jatim)

Sebagai bagian dari rangkaian penandatangan kesepahaman, juga diserahkan beasiswa S2 audiologi yang diberikan kepada Valina Khiarin Nisa, seorang dosen Psikologi dari UNAIR Surabaya.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim, Benny Sampir Wanto, menyebut pemberian beasiswa terserbut sebagai salah satu hasil kerjasama Provinsi Jatim dan Australia Barat.

“Beasiswa di biayai oleh Pemerintah Australia Barat dan Yayasan The East Java Hearing Aid Foundation Australia Barat, yang diketuai Trisha Henderson,” jelas mantan Kepala Biro Kerjasama ini.

Pemberian beasiswa, lanjutnya, disampaikan oleh Premier Australia Barat kepada Gubernur Soekarwo di Perth tahun lalu, selanjutnya ditindaklanjuti dengan seleksi kandidat oleh Tim Seleksi Australia Barat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here