Kertanegara, Politik Kekuasaan Kerajaan Singhasari

0
353
Ilustrasi Ekspedisi Pamalayu, Raja Kertanegara dalam memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Singhasari (Foto: HistoryofNusantara)

Nusantara.news, Kota Malang – Kertanegara merupakan raja Kerajaan Singhasari terakhir yang mampu mengusung Kerajaan Singhasari menuju puncak kejayaannya. Kertanegara dilahirkan dari kasta ksatria, Ia merupakan keturunan dari raja-raja yang berkuasa di Singhasari. Kertanegara adalah anak dari Wisnuwardhana dengan Jayawardhani raja Singhasari yang keempat.

Terlahir dengan gelar Sri Maharaja Kertanagara, ia dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang berambisi ingin menyatukan wilayah Nusantara dengan ekspedisi Pamalayu. Melalui ekspedisi tersebut adapun beberapa tempat yang berhasil ditaklukkan, seperti Bali, Kalimantan Barat Daya, Maluku, Sunda dan Pahang.

Pada tahun 1275 Masehi, Kertanegara mengirimkan ekspedisi pamalayu di bawah pimpinan Kebo Anabrang. Salah satu strateginya adalah dengan menanamkan jiwa Singhasari pada rakyat Melayu.

Tujuan dari pembesaran wilayah ini adalah untuk mengimbangi kekuatan Emperium Cina Mongol yang ingin menguasai dunia dengan menjelajahi beberapa wilayah, salh satunya Nusantara, dibawah pimpinan pasukan Kubilai Khan dari Dinasti Yuan.

Raja Kertanegara selalu memandang Cina Mongol sebagai musuh dalam perebutan wilayah kekuasaan. Beberapa kali kaisar Cina Mongol menyuruh Raja Kertanegara untuk mengakui kekuasaan Cina Mongol, tapi Kertanegara tetap bersikukuh untuk meninggikan status kerajaanya. Ia pun berebut pengaruh di Nusantara demi melindungi penguasaan Cina Mongol di Nusantara dengan melebarkan kekeuasaan wilayah pemerintahan dalam Ekspedisi Pamalayu.

Keberanian Raja  Kertanegara melawan kekuasaan Cina Mongol, melihat saat itu hanya Nusantara yang tidak bisa dijajah oleh pasukan besar Kubilai Khan. Dua pertiga dunia telah dikuasai oleh Emperium Cina Mongol mulai dari pesisir Pasifik sampai dengan pesisir Atlantik.

Ketika masuk Nusantara, pasukan dari utara tersebut dipukul mundur oleh laskar rakyat Jawa-Madura di bawah kepemimpinan Raden Wijaya, penerus Kerajaan Singhasari, yang selanjutnya ia mendirikan Kerajaan Majapahit yang merupakan Kerajaan Nusantara II.

Di masa pemerintahan Kertanegara, agama Hindu dan Buddha berkembang pesat, dan memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat kala itu. Bahkan, ada percampuran agama Buddha dan agama Hindu seperti Syiwa-Buddha. Raja Kertanegara sendiri adalah penganut aliran Tantrayana.

Raja Kertanagara memperkenalkan penyatuan agama Hindu aliran Syiwa dengan agama Buddha yakni aliran Tantrayana. Oleh karena itu dalam Pararaton. Kertanagara sering juga disebut Bhatara Siwa Buda.

Menurut Kitab Kakawin Nagarakretagama, Raja Kertanagara telah menguasai semua ajaran agama Hindu dan Buddha, Itu sebabnya Kertanagara dikisahkan pula dalam naskah-naskah kidung sebagai seorang yang bebas dari segala dosa.

Gelar keagamaan Kertanagara dalam Kitab Kakawin Nagarakretagama adalah Sri Jnanabajreswara, sedangkan dalam prasasti Tumpang ia juga bergelar Sri Jnaneswarabajra. Kertanagara, namun diwujudkan dalam sebuah patung Jina Mahakshobhya (Buddha), Arca Joko Dolog yang kini terdapat di Taman Apsari, Surabaya.

Arca Joko Dolog sebagai perwujudan Raja Kertanegara (Foto: Padepokan Sekar Pawitra)

Arca patung tersebut merupakan bentuk simbol penyatuan Syiwa-Buddha itu sebelumnya berasal dari situs Kandang Gajak, Trowulan, yang pada tahun 1817 dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis.

Politik Handal Kertanegara

Sebagai pemimpin, selain memiliki prinsip dan pendirian yang kuat. Raja Karta negara merupakan seorang politikus yang handal. Bermodal dari pengalamannya ketika menjadi raja muda, Kertanegara mempunyai pandangan politik yang luas, baik politik dalam negeri maupun politik luar negeri.

Setelah Wisnuwardhana wafat (Ayahanada Raja Kertanegara), Ia tampil kemuka dalam singgasana menggantikan sang ayah menjadi raja Singhasari. Dalam Prasasti Mula Malurung 1255 M diceritakan bahwa, ketika Kertanegara sebagai raja muda, Ia memerintah dibawah bimbingan ayahnya (Wisnuwardhana).

Pengalamannya mengenai kerajaan beserta sistemnyapun ia ketahui sedari belia. Dengan mengetahui sistem dan cara-cara etika dalam pemerintahan sedari kecil pun ia menjadi handal dalam menjalakan politik kerajaan. Berikut beberapa sifat Kertanegara, jika diruntun dalam beberapa kisah yang diceritakan:

  1. Optimis dan ambisius, dalam hal ini Kertanegara mempunyai semangat yang tinggi dalam upayanya untuk mencapai cita-cita. Terlihat dari usahanya memiliki ide menyatukan negeri nusantara, dan meluaskan wilayah Kerajaan Singhasari.
  2. Pandangan dan wawasan yang luas, artinya Kertanegara memiliki wawasan yang luas, karena warisan dari pemikiran dari ayahnya serta ia gemar mengikuti ayahnya ketika memerintah kerajaan Singhasari sebelumnya.
  3. Cakap dan bersikap tegas, hal ini terkait dalam bidang pemerintahan. Sikap tegas Kertanegara dapat ditunjukkan ketika Ia menolak ultimatum Kaisar Kublai Khan yang menyuruhnya untuk tunduk di bawah kekuasaan Kaisar Cina itu. Penolakan itu dilakukan Kertanegara dengan cara melukai wajah (memotong telinga) Men Khi utusan Kaisar Kublai Khan. Hal ini merupakan penghinaan besar bagi kaisar khan agung.
  4. Seorang ahli tata negara dan pemerintahan yang ulung, Ia mengatur struktur pemerintahan yang sistematis, pembagian wilayah kekuasaan serta kerja-kerja pemerintahan dibagi sesuai dengan kebutuhan pembangunan kerajaan kala itu.
  5. Mempunyai pengetahuan yang tinggi terutama di bidang agama, dalam hal ini Ia menulis sebuah buku Rajapatigundala. Ia beragama budha, dan ahli dalam agama Buddha serta Hindu. Oleh karenannya ia membuat sekte tersendiri yakn Tantrayana Siwa-Buddha. Beberapa perpaduan corak dua agama yakni Hindu-Budda bisa dipadukan olehnya.
  6. Toleransi dan Plural. Ia sebagai pemimpin yang menghormati kebebasan beragama, tidak memaksakan untuk satu kerajaan satu agama, namun ia memberikan toleransi pada masyarakatnya untuk memeluk agama yang mereka percaya, dan berkehidupan dengan rukun dan damai.

Berikut beberapa kelemahan yang dianalisis oleh penulis, melihat beberapa naskah dan cerita kisah pemerintahan Raja Kertanegara memimpin Kerajaan Singhasari:

(1) Kurang hati-hati atau terburu-buru, hal ini terlihat jelas ketika Ia melakukan penyerangan ke Cina, tanpa menghiraukan musuh dalam selimut yaitu Jayakatwang dari Kediri yang pada waktu itu di bawah kekuasaanya, yang kemudian menyebabkan keruntuhan Kerajaan Singhasari.

(2) Mudah percaya kepada orang lain. Di lain sisi, hal ini merupakan salah satu sikap baik, karena memberikan kepercayaan kepada semua orang tanpa memandang bulu orang tersebut dengan latar belakang, kejelekan keburukan dan sebagainya. Akibatnya, beberapa orang yang ingin mengalahkan Raja Kertanegara menggunakan tipu muslihat untuk memperdayai Raja Kertanegara.

Kelancaran roda pemerintahan serta stabilitas lingkungan kerajaan sangat dijaga betul oleh Raja Kertanegara. Beberapa gejolak yang terjadi dalam internal pemerintahan terkait perbedaan pendapat dan gagasan, disingkirkan oleh Raja Kertanegara demi menjaga stabilitas kerajaan.

Sementara itu, pandangan politik luar negeri Kertanegara di fokuskan pada wawasan “cakramandala”. Kertanegara mengembangkan perluasan wilayah kekuasaan dengan merangkul kerajaan-kerajaan di pantai Asia Tenggara dan Cina Selatan sebagai mitra sejati.

Kertanegara punpernah menjalin persahabatan dengan negeri Campa, Hal tersebut dikisahkan dalam prasasti Po Sah dekat Phanrang yang berangka tahun 1306 M yang memberi informasi bahwa Raja Campa Jaya Simihawamana III mempunyai salah seorang permaisuri yang bernama Tapasi.

Tidak hanya menjalin persahabataan dan berdiplomasi, namun juga Penaklukan beberapa wilayah yang menentang ajakannya di berbagai daerah. Penaklukan yang dikenal adalah ekspedisi Pamalayu yakni penaklukan terhadap Kerajaan Sriwijaya pada tahun 1275 M.

Peta Kerajaan Singhasari (Foto: Hamzahzein-edFlea)
Wilayah Kekuasaan Kerajaan Singasari (Foto: SejarahPedia)

Melalui sektor ekonomi, Kerajaan Sriwijaya dapat ditaklukan. Pelabuhan Malayu yang pada waktu masih dikuasai oleh Sriwijaya, mampu dikuasai oleh Kerajaan Singhasari yang kemudian ramai dan banyak dikunjungi oleh kapal-kapal asing dari India dan Tiongkok. Selanjutnya Raja Kertanegara pun pernah menkalukan Kerajaan Bali pada tahun.

Pemberontakan dan Keruntuhan

Dalam Pararaton dikisahkan, Kertanagara memecat para pejabat yang berani menentang cita-citanya. Antara lain Mpu Raganata diturunkan dari jabatan rakryan patih menjadi ramadhyaksa. Penggantinya bernama Kebo Anengah dan Panji Angragani. Sedangkan Arya Wiraraja dimutasi dari jabatan rakryan demung menjadi bupati Sumenep.

Dalam kisahPararaton dan Kidung Panji Wijayakrama perombakan susunan kabinet tersebut mengundang ketidakpuasan dari beberapa pihak antara lain dari Kalana Bhayangkara atau Cayaraja (dalam, kakawin Negarakertagama) yang memberontak pada tahun 1270.

Selain itu, dala kakawin Nagarakretagama juga menyebutkan adanya pemberontakan Mahisa Rangkah tahun 1280. Disebutkan kalau Mahisa Rangkah adalah tokoh yang dibenci penduduk Singhasari. Kedua pemberontakan tersebut dapat dipadamkan.

Namun pemberontak yang paling berbahaya adalah Jayakatwang, yang merupakan balas dendamnya Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. Disebutkan dalam beberapa sumber, Kerajaan Kediri ditaklukan oleh Sri Rajasa, buyut Raja Kertanegara.

Kerajaan Kadiri pun ditaklukan, yang kemudian menjadi bagian kekuasaan Kerajaan Singhasari, yang kemudian diperintah oleh keturunan Raja Kertajaya dengan mengakui kepemimpinan Singhasari.

Jayakatwang merupakan salah seorang Raja Kertajaya yang menjadi Bupati Gelang-gelang, salah satu wilayah Kerajaan Kediri. Sebelumnya, Raja Kertanagara telah mengambil langkah untuk menjaga hubungan politik yang baik dengan Jayakatwang, dengan cara halus mangambil anak yang bernama Ardharaja sebagai menantunya. Saudara perempuan Raja Kertanagara yang bernama Turukbali juga menjadi istri raja Jayakatwang.

Diceritakan Jayakatwang bertekad akan membalas dendam kematian leluhurnya oleh leluhur raja Kertanagara. Dibakarnya semangat dendam Jayakatwang oleh patihnya, untuk menghapus aib yang diderita oleh leluhurnya yang atas penaklukan kedaulatan Kerajaan Kediri. Hal itu yang kemudian menyebabkan semangat Jayakatwang untuk memberontak semakin tinggi.

Arca Perwujudan Kartanegara, melakukan Ritual Tantrayana (Foto: Okezone)

Dalam Kitab Pararaton usaha Jayakatwan dalam meruntuhkan Kerajaan Singhasari mendapat bantuan dari Arya Wiraraja, Adipati Sunmenep yang sebelumnya juga dijatuhkan dari keraton oleh Raja Kertanagara.

Jayakatwang memberontak ketika sebagian kekuatan tentara Singhasari sedang ada di Melayu. Dalam Kitab Pararaton serangan Jayakatwang dilancarkan antara pertengahan Mei dan pertengahan bulan Juni 1292.

Bala tentara Kerajaan Kadiri yang mendukung Raja Kertanegara dibagi menjadi dua, yakni menyerang dari dua arah berangkat ke Melayu. Pasukan yang menyerang dari utara rupa-rupanya hanya sekedar untuk menarik pasukan Singhasari dibawah pimpinan Wijaya dan Ardharaja menyerbu ke utara dan mengejar musuh (Melayu) yang bergerak mundur.

 

Bala Tentara Kerajaan Kediri dibawah pengaruh Jayakatwang kemudian menyerang dari arah selatan, dengan kembali menyerbu ke keraton dan membunuh Raja Kertanagara. Raja Kertanagara meninggal bersama para Brahmana, yang rupanya Kerajaan Singhasari tengah melakukan upacara keagamaan. Raja Kertanegara pun dikuburkan di Candi Jawi, yang kini berada di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Candi Jawi, tempat peristirahatan terakhir Raja Kertanegara (Foto: Sebuah Catatan Petualang)

Pada tahun 1292 seluruh kerajaan Singhasari pun dikuasai oleh Jayakatwang. Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru di Kediri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singasari pun berakhir, oleh pemberontakan Jayakatwang keturunan Raja Kertajaya, Kerajaan Kediri. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here