Kertanegara, Raja yang Menentang Mongol Demi Kedaulatan

0
1182

Nusantara.news, Jakarta – Di masa kejayaan Kerajaan Singosari, tepatnya saat pemerintahan Raja Kertanegara pada 1289, datanglah utusan dari Kekaisaran Mongol bernama Meng Chi untuk menyampaikan perintah Kaisar Kubilai Khan agar Singosari menyerahkan kedaulatannya dan tunduk di bawah kekuasaan Mongol. Namun, sebagai sebuah kerajaan yang berambisi menyatukan nusantara dengan tekad tidak akan pernah tunduk kepada bangsa manapun, tentu saja membuat Kertanegara tersinggung.

Dengan wajah penuh amarah, Raja Kertanegara berdiri dari singgasananya. Ia telah membaca “nawala” atau surat dari Kaisar Kubilai Khan yang berisi ultimatum agar Singosari mengakui kekuasaan Mongol dan menyerahkan upeti senilai 60.000 tahil emas setiap tahunnya sebagai tanda takluk. Sudah tiga kali sang kaisar mengirim utusan untuk menyampaikan ultimatum tersebut, namun Kertanegara tetap menolak tunduk.

“Singosari tidak akan pernah tunduk kepada bangsa mana pun! Tidak akan kubiarkan sejengkal pun tanah di Nusantara ini dikuasai bangsa lain. Kembalilah bersama mimpimu menguasai Nusantara! Kematian bagi Kubilai Khan!” Demikian kata Kertanegara, murka.

Lalu dilemparkannya surat ultimatum itu ke wajah utusan Mongol. Utusan dari seberang itu pun dipotong daun telinganya, dan kemudian diusir kembali ke negerinya.

Keberanian dan ketegasan Raja Kertanegara ini tercatat baik dalam sumber-sumber sejarah China maupun Indonesia. Kitab Pararaton dan kitab Negara Kertagama juga telah mendokumentasikan peristiwa yang mungkin di zaman modern ini pun tidak akan pernah terjadi: Raja Kertanegara dari Singasari berani menantang Kaisar Kubilai Khan dari Mongol yang berpusat di Tiongkok. Tantangan ini ibarat Indonesia melawan Amerika Serikat pada zaman modern.

Bagi Kertanegara, menjaga kedaulatan dan harga diri negara adalah yang utama. Tidak ada urusan seberapa kecil tanah airnya, atau seberapa raksasanya bangsa asing. Itu sebabnya, tak sedikitpun ia tunduk di bawah telunjuk negeri Mongol, meski ia sadar atas sikapnya itu tentu mengundang ancaman dari luar.

Prinsip Kertanegara kala itu: lebih baik menjadi raja semut, meskipun kecil tetapi memiliki kedaulatan penuh, ketimbang harus menjadi buntut gajah, memang besar namun hidupnya mengekor dan tak punya kuasa.

Kondisi demikian, tentu saja jauh berbeda dengan kondisi pemimpin bangsa Indonesia kekinian yang begitu lemah dan cenderung menghamba pada kekuasaan asing. Padahal, negeri ini mempunyai sejarah panjang tentang para petarung dan raja-raja digdaya yang tersebar di seluruh pelosok bumi nusnatara. Mereka melawan intervensi, memerangi dominasi dan kolonialisme asing.

Sebaliknya, dominasi asing kini merambah hampir ke segala sektor, utamanya: ritel, telekomunikasi, keuangan, migas, politik, dan ranah publik lainnya. Menurut data dari Reformed Center for Religion Society Reformed Center for Religion Society, sekitar 85% pengelolaan lapangan migas dan 50% saham bank-bank papan atas di Indonesia, telah dikuasai asing. Dengan dalih memudahkan investasi, undang-undang diliberalisasi, pengawasan diperlonggar, dan kekayaan negeri diobral. Kedaulatan bangsa ini pun seolah turut sirna sejak para pemimpin kita kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri.

Di saat bersamaan, bangsa ini juga sudah terlampau sering dilecehkan dan dipermainkan harga diri dan kedaulatannya oleh bangsa-bangsa lain. Bahkan jauh sebelumnya, kita tak mampu mempertahankan pulau Sipadan-Ligitan dan Timor Timur akibat dipecundangi negara luar. Tampaknya, para elite negeri ini harus membaca kembali soal kedaulatan dan harga diri dari kisah raja-raja Nusantara terdahulu, dari para pendiri bangsa, sebelum berhasrat memimpin negara.

Dari mereka, kita belajar bagaimana seorang pemimpin yang menempatkan harga diri bangsa di atas segalanya, dan menjalankan politik semata-mata pengabdian kepada negara. Tidak semata nafsu, tidak pula sekadar berburu rente. Sebab, jika mandat kekuasaan yang diperoleh dari proses pemilihan itu buah dari pertarungan kepentingan dan pertaruhan rente, maka para pemimpin yang dihasilkan akan membebek kepada siapa yang membiayai.

Kembali ke sosok Kertanegara, rupanya sikap raja keturunan Ken Dedes ini bukanlah sekadar ‘ego’-nya sebagai seorang raja. Namun juga membuktikan bahwa bangsa ini memang sudah nasionalis dan patriotis sejak awal. Mempertahankan harga diri, kehormatan, kekayaan, dan marwah sebuah bangsa adalah harga mati yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Dan hal itu harus benar-benar dibuktikan dengan tindakan yang tegas, cerdas, dan berani. Segala cita-cita idealistik tersebut tidak berhenti di slogan seperti misalnya mereka yang mengaku nasionalis, tetapi nalar dan laku hidupnya memperlihatkan sebaliknya.

Rakyat Singosari beruntung, mempunyai pemimpin yang satu kata dengan tindakan, punya harga diri, serta menunjukkan keberpihakannya kepada bangsanya. Sejarah telah mencatat, Kertanegara merupakan raja terakhir Singosari yang termasyhur dan dicintai rakyatnya.

Atas sikap keras Kertanegara terhadap utusan Mongol yang hendak melecehkan Singosari, membuat Kaisr Kubilai Khan sangat terkejut. Perlakuan Kertanegara itu dianggap telah mempermalukan keturunan Jengis Khan yang menyandang reputasi penakluk paling menakutkan. Maka pada tahun 1292, dia pun memerintahkan ekspedisi besar-besaran untuk menghukum Kertanegara dan sekaligus menguasai Jawa.

Pada saat itu, utusan yang dikirim ke Jawa terdiri dari tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi, Ike Mese, dan Kau Hsing. Hanya Kau Hsing yang berdarah Cina, sedangkan dua lainnya adalah orang Mongol. Mereka diberangkatkan dari Fukien membawa 20.000 – 30.000 pasukan dan seribu kapal. Kublai Khan membekali pasukan ini untuk pelayaran selama satu tahun serta biaya sebesar 40.000 batangan perak.

Shih Pi dan Ike Mese mengumpulkan pasukan dari tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, dan Hukuang. Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab untuk menyiapkan perbekalan dan kapal. Pasukan besar ini berangkat dari pelabuhan Chuan-chou dan tiba di Pulau Belitung sekitar bulan Januari tahun 1293. Di sini mereka mempersiapkan penyerangan besar-besaran ke Jawa selama lebih kurang satu bulan.

Kemarahan Kekaisaran Mongol memang bisa dipahami. Sebab, pada zaman itu tak ada satu bangsa pun yang berani melawan pasukan Mongol. Pasukan kavalerinya sudah merambah dan menghancurkan bangsa-bangsa dari Hungaria dan Polandia, Rusia, Baghdad dan seluruh Timur Tengah, sebagian India, seluruh Asia Tengah, Korea dan sebagian Asia Tenggara.

Jepang memang terhindar dari kehancuran karena tertolong oleh angin topan Kamikaze yang menghancurkan armada Khubilai Khan dalam dua kali invasinya. Begitu pula Mesir, berhasil memukul mundur pasukan Mongol lebih karena kondisi medan padang pasir yang mematikan dan menyulitkan pertempuran.

Di puncak kejayaannya pada tahun 1279, yakni di bawah kepemimpinan Kublai Khan (cucu Jengis Khan), Mongol menguasai hampir seluruh Eurasia. Mongol berhasil membangun kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia, melebihi Julius Caesar, Iskandar Agung, atau raja manapun baik dari Eropa atau Asia.

Pasukan Mongol memasuki tanah Jawa

Namun siapa sangka, Mongol yang besar itu harus menerima perlakuan memalukan dari sebuah negeri kecil bernama Singosari. Mereka juga harus menghadapi kenyataan pahit: kalah karena ‘dipecundangi’ oleh strategi Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit.

Untuk membendung serangan dari Mongol sebelum akhirnya sampai di Jawa, maka pada 1275 Kertanegara mengirim pasukan ke negeri Melayu untuk memberikan hadiah kepada raja-raja di wilayah tersebut sebagai bentuk persahabatan. Ia juga berniat untuk menguasai Kerajaan Sriwijaya. Singosari memang sempat menggunakan kekerasan dengan maksud membebaskan Melayu dari pengaruh Tiongkok yang begitu kuat. Kertanegara juga menjalin persekutuan dengan Kerajaan Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan itu dikenal dengan nama Pamalayu.

Kertanegara berhasil memperluas pengaruhnya di Campa melalui perkawinan antara raja Campa dan adik perempuannya. Kerajaan Singasari juga menguasai Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku). Pasukan Pamalayu dipersiapkan Kertanegara untuk menghadapi pasukan Kubilai Khan, yang tengah berlayar menuju Jawa.

Menyadari Singosari sedang dalam keadaan yang kurang menguntungkan karena pasukannya dalam jumlah besar belum kembali dari Ekspedisi Pamalayu, kemudian dimanfatkan oleh Jayakatwang, seorang raja bawahan dari Gelang-Gelang, menyerbu Singasari. Dalam peristiwa tersebut, Kertanegara terbunuh pada saat diselenggarakan upacara keagamaan Tantrayana di dalam istana. Setelah tragedi itu, Jayakatwang mengangkat dirinya menjadi raja, dan mengalihkan pusat kerajaan ke Daha (Kediri). Satu-satunya panglima perang Singasari yang tersisa yaitu Sanggrama Wijaya (Raden Wijaya), kemudian melarikan diri hingga menyeberang ke Madura untuk meminta suaka politik dari Arya Wiraraja, seorang adipati di Sumenep.

Atas sarannya, Raden Wijaya menghadap Raja Jayakatwang dan menyatakan tunduk. Namun ia meminta sebidang tanah di hutan Tarik untuk bermukim dan sekaligus dijadikan sebagai lahan perburuan bagi sang raja. Permintaan itu disetujui Jayakatwang.

Sejak saat itu, hutan yang dipenuhi oleh pohon maja yang buahnya sangat pahit itu dipersiapkan oleh Raden Wijaya dan sisa-sisa prajuritnya menjadi sebuah pedukuhan dengan nama Desa Tarik. Dalam perkembangannya, desa itu kemudian menjadi perkampungan besar bernama ‘Majapahit’, sebelum akhirnya menjadi Kerajaan Majapahit. Di tempat itu, ia secara diam-diam memperkuat diri sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang Jayakatwang.

Ketika rombongan pasukan Mongol sampai di Singosari, mereka tidak mendapati Kertanegara. Yang ada justru Jayakatwang, raja pengganti Kertanegara yang memberontak. Bagi Raden Wijaya, kedatangan pasukan Mongol merupakan kesempatan yang baik untuk menyusun suatu strategi. Ia kemudian mengirimkan pesan kepada panglima pasukan Mongol bahwa ia bersedia tunduk dan bergabung dengan pasukan Mongol untuk menggempur Kediri-Singosari. Akhirnya terjadilah pertempuran hebat antara Mongol dan Kediri-Singasari. Peperangan ini berhasil dimenangkan oleh koalisi Mongol-Raden Wijaya. Dalam pertempuran itu, istana Kediri luluh lantak dan Raja Jayakatwang dihukum mati.

Tidak menunggu waktu lama, tepat pada saat sedang merayakan pesta kemenangan, pasukan Mongol ini digempur dan diusir pasukan Raden Wijaya hingga tercerai berai dan sebagia yang selamat melarikan diri naik ke kapal dan berlayar kembali ke negerinya. Sejak kekalahan ini hampir tak sekali pun Mongol mencoba untuk membalas. Entah, mungkin kekalahan ini membuat mereka takut. Yang jelas, pasca pertempuran itu, Raden Wijaya kemudian perlahan membangun desa Majapahitnya menjadi sebuah kerajaan besar.

Kertanegara, pencetus awal wawasan nusantara

Kertanagara adalah putera Wisnuwardhana raja Singhasari tahun 1248-1268. Ibunya bernama Waning Hyun yang bergelar Jayawardhani. Waning Hyun adalah putri dari Mahisa Wunga Teleng (putra sulung Ken Arok, pendiri Singhasari, dari Ken Dedes). Istri Kertanagara bernama Sri Bajradewi. Dari perkawinan mereka lahir beberapa orang putri, empat orang putri di antaranya dinikahi Raden Wijaya, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri.

Kertanagara naik tahta Singosari tahun 1268 menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana. Menurut Pararaton, ia adalah satu-satunya raja Singosari yang naik tahta secara damai. Karena sebelumnya, mulai dari Ken Arok, Anusapati, hingga Tohjaya, tahta Singosari direbut dengan pembunuhan melalui ‘kutukan keris Mpu Gandring’.

Dialah raja pertama yang mengusung wawasan nusantara. Jauh sebelum Gajah Mada dari Majapahit bertekad menyatukan nusantara dengan ‘Sumpah Palapa’ pada 1336, Kertanegara setengah abad lebih awal telah mencetuskannya melalui visi ‘Cakrawala Mandala Dwipantara’ (perluasan nusantara dengan memandang ke luar pulau Jawa) dan ‘Ekspedisi Pamalayu’ (penguasaan negeri-negeri Melayu) pada tahun 1275.

Ekspedisi Palmalayu Kertanegara

Ekspedisi Pamalayu bertujuan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumatra sehingga dapat memperkuat pengaruhnya di selat Malaka yang merupakan jalur ekonomi dan politik penting yang saat itu dikuasai bangsa asing, utamanya Tiongkok. Ekspedisi ini juga bertujuan untuk menghadang pengaruh kekuasaan Mongol yang telah menguasai hampir seluruh daratan Asia.

Dengan kekuatan armada laut yang tidak ada tandingannya, ekspedisi bahari Kertanegara ke Kerajaan Melayu dan Campa berhasil menghambat gerak maju Kekaisaran Mongol ke Asia Tenggara. Tahun 1284, ia menaklukkan Bali dalam ekspedisi laut ke timur. Selama ekspedisi tersebut, Kertanegara  telah memperluas daerah kekuasaannya meliputi Pahang, Melayu, Gurun (Indonesia Timur), Bakulapura (Kalimantan), Sunda, Gurun (Maluku), Madura, dan seluruh Jawa.

Pada awalnya ekspedisi ini dianggap penaklukan militer, akan tetapi belakangan ini diduga ekspedisi ini lebih bersifat upaya diplomatik berupa unjuk kekuatan dan kewibawaan untuk menjalin persahabatan dan persekutuan dengan kerajaan-kerajaan Melayu. Buktinya adalah Kertanegara justru mempersembahkan Arca Amoghapasa sebagai hadiah untuk menyenangkan hati penguasa dan rakyat Melayu. Sebagai balasannya, raja Melayu mengirimkan putrinya; Dara Jingga dan Dara Petak ke Jawa untuk dinikahkan dengan penguasa Jawa.

Untuk mendukung politiknya, langkah pertama yang dilakukan oleh Kertanegara adalah memecat patihnya bernama Raganata dan menggantinya dengan Kebo Tengah Apanji Aragani. Pemecatan itu dilakukan karena Mapatih Raganata tidak menyetujui pandangan politik baru Kertanegara untuk mempersatukan Nusantara. Raganata tidak menyetujui politik Kertanegara itu karena menurut pendapatnya bahwa keamanan dalam negeri harus lebih diutamakan.

Rasanya, tidak berlebihan jika menyebut Singosari adalah pondasi awal sendi-sendi kesadaran bernusantara diletakkan. Kesadaran akan pentingnya bersatu dalam satu atap, satu naungan, dan satu kekuatan dalam menghadapi dominasi kekuatan dari luar. Singosari merupakan induk ke-bhinekatunggalika-an bagaimana menjadi bersama dalam keberbedaan. Dan Kertanegara, ia memang wafat sebelum semua cita-citanya terlaksana, namun percik semangatnya selalu menyala hari ini.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here