Keterlaluan, Pasukan Perdamaian Indonesia Difitnah Selundupkan Senjata

0
84

Nusantara.news, Jakarta – Tuduhan yang keji dan keterlaluan. Kontingen pasukan perdamaian Indonesia, Formed Police Unit (FPU) VIII Garuda Bhayangkara yang bergabung United Nations African Mission in Darfur (UNAMID) dituduh mencoba selundupkan senjata melalui bandara Al Fashir, Darfur, Sudan pada 20 Januari lalu.

Tentu saja tuduhan itu dibantah oleh Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul, dalam siaran persnya, di Jakarta (24/1/2017) kemarin.

Martinus menegaskan,puluhan senjata api dan amunisi yang diduga akan diselundupkan itu bukan milik polisi Indonesia yang tergabung dalam misi menjaga perdamaian di Darfur, Sudan.

Kejadian bermula saat 139 personil Indonesia yang sudah menyelesaikan tugas selama satu tahun di Darfur, Sudan, sedianya kembali ke tanah air pekan lalu. Sesuai mekanisme yang ada, semua barang-barang personil diperiksa terlebih dahulu oleh polisi militer yang tergabung dalam UNAMID.

Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh barang boleh dibawa pulang, dan karenanya diijinkan untuk dimasukkan dalam dua kontainer besar yang akan diangkut ke bandara.

Namun setibanya di bandara, seluruh barang – termasuk yang ada dalam kontainer – kembali diperiksa dengan sinar X. Ketika pemeriksaan sedang berlangsung, ada tumpukan koper lain yang terletak sekitar 10 meter dari barang-barang personil Indonesia yang sedang diperiksa. Tumpukan koper itu tidak memiliki ciri khas yang sama dengan tim personil Indonesia – dalam arti warnanya berbeda dan tidak ada label khusus.

Tumpukan koper itu pun tidak dikeluarkan dari kontainer yang digunakan pasukan Indonesia. Oleh karena itu tim personil Indonesia menolak ketika dituduh sebagai pemilik koper-koper tersebut.

Namun, tim Indonesia tetap tidak diijinkan pulang dan hingga kini masih tertahan di Sudan. Tim gabungan Polri dan Kementerian Luar Negeri sedang berupaya memberikan bantuan hukum kepada mereka.

“Tidak benar barang-barang tersebut merupakan barang kontingen Indonesia, karena lokasi barang-barang yang ada sekitar 10-15 meter dari barang-barang yang ada yang sudah melewati X-ray. Makanya kita mengirim tim ke sana untuk memastikan peristiwa itu seperti apa,” papar Martinus.

Martinus menambahkan, pemerintah Indonesia masih menunggu hasil penyelidikan yang sedang dilakukan otorita berwenang di Sudan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here