Keterlibatan Rusia di Pilpres AS Semakin Jelas, Ini Buktinya

1
458
Paul Manafort berusaha menembus blokade wartawan yang menunggunya di luar Gedung Pengadilan Washington, Senin (30/10) kemarin FOTO APP

Nusantara.news, Jakarta – Tiga orang dekat Presiden Donald Trump satu per satu menghadapi penyelidikan serius oleh Penyelidik Khusus terkait dugaan intervensi Rusia dalam Pilpres Amerika Serikat 2016. Namun dari ketiga orang itu baru dua yang didakwa secara resmi melakukan 12 kasus kejahatan, antara lain tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Ketiga orang dekat Trump masing-masing Paul Manafort selaku mantan Manajer Kampanye Presiden Donald Trump, Rick Gates yang juga rekan bisnis Trump dan George Papadopoulos. Bahkan George yang keturunan Yunani itu pada awal Oktober lalu mengaku bersalah karena telah berbohong kepada petugas Biro Penyidik Federal (FBI/Federal Bureau Investigation).

Namun dari ketiga orang dekat Trump itu, hanya Manafort dan Gates yang menghadapi sidang dakwaan di Pengadilan Washington, Senin (30/10).  Diseretnya kedua terdakwa itu menjadi berita heboh di AS. Sejumlah media cetak besar menuliskan laporan itu di halaman depan.

“Ïtu berita besar tapi ini yang kita peroleh dari penyelidik khusus, tidak ada yang bisa saya tambahkan karena saya belum membaca dakwaan,” ulas Ketua DPR AS Paul Ryan kepada waratwan saat berkunjung ke sebuah pabrik di kawasan Darien, Wisconsin, Senin (30/10) kemarin.

Penyelidik Khusus itu langsung dipimpin oleh Pengacara Khusus Departemen Kehakiman AS Robert Mueller yang menggali berbagai sumber tentang dugaan keterlibatan Rusia dalam mengarahkan orientasi Pemilu AS untuk pemenangan Trump. Selain melacak media sosial, Mueller juga mendalami serangkaian pertemuan dan kejadian di Gedung Putih.

Sejak Jumat (27/10) lalu, dewan juri federal Amerika dikabarkan menyetujui tuntutan pertama dalam penyelidikan tentang pengaruh Rusia dalam pemilihan presiden Amerika, tulis sejumlah laporan media besar di AS.

Keputusan dewan juri itu pertama kali dilaporkan oleh CNN Jumat (27/10) malam. Stasiun televisi itu mengutip sumber yang mengatakan siapa pun yang dituntut bisa ditahan secepatnya pada Senin (30/10). Kantor berita Reuters, harian Wall Street Journal dan stasiun televisi NBC News selanjutnya menerbitkan laporan serupa. Namun semua laporan itu ditulis berdasarkan keterangan sumber yang namanya tidak disebut.

Manafort (68) yang sudah lama menjadi kader Republik, dan Gates, telah diseret ke pengadilan federal di Washington, pada Senin (30/10) kemarin. Keduanya didakwa melakukan 12 tindak kriminal, antara lain TPPU dan menjadi mata-mata tak resmi pemerintah Ukraina yang pro-Rusia. Namun keduanya menyangkal tuduhan itu.

Bukti-Bukti

Kedua terdakwa sudah diputuskan hakim menjalani tahanan rumah dan jaminan, masing-masing 10 juta dolar AS untuk Manafort dan 5 juta dolar AS untuk Gates, Apabila keduanya dinyatakan bersalah maka posisi Presiden Donald Trump, meskipun mekanismenya tidak sederhana, berada dalam ancaman pemakzulan.

Sebelum kedua terdakwa diseret ke pengadilan dan akan menjalani sidang kedua pada Kamis lusa, Facebook Inc. secara gamblang membeberkan sepak terjang keterlibatan Rusia dalam Pemilu AS 2016. Facebook mengungkap agen-agen Rusia telah menerbitkan 80.000 posting pada jejaring sosial itu selama dua tahun untuk mempengaruhi arah politik AS.

Facebook juga mengungkapkan sekitar 126 juta warga AS sudah pernah melihat puluhan ribu postingan Rusia itu dalam jangka waktu itu. Bukti-bukti yang diungkapkan Facebook menyebut secara rinci jangkauan posting-posting Rusia dalam kesaksian tertulis perusahaan itu kepada para wakil rakyat AS yang juga diperlihatkan kepada Reuters.

Pekan ini juga para eksekutif Facebook, Twitter dan Google dijadwalkan bersaksi di depan pengadilan terkait dugaan keterlibatan Rusia menyebarkan misinformasi beberapa bulan sebelum dan sesudah Pemilihan Presiden AS 2016. Secara resmi pemerintah Rusia telah membantah tudingan ini.

Dalam keterangan tertulisnya, Pengacara Facebook Colin Stretch bersaksi bahwa 80 ribu postingan Badan Riset Internet Rusia itu hanyalah bagian kecil dari konten Facebook. Postingan itu, jelas Stretch, telah menyalahi aturan Facebook. Selain itu, ditemukan banyak sekali akun-akun palsu yang digunakan untuk memposting pesan-pesan itu.

Ke-80 ribu posting itu, tandas Stretch, disebarkan antara bulan Juni 2105 sampai Agustus 2017. Sebagian besar postingan iti berisi pesan-pesan sosial dan politik yang memecah belah, seperti hubungan ras dan hak menggunakan senjata, demikian keterangan Stretch sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters.

Selain Facebook, penyelidik juga minta Twitter dan Google dalam membongkar lalu lintas postingan di masing-masing media sosial yang dikelolanya.  Nusantara.news sebelumnya membuat laporan tentang Google yang menemukan sejumlah bukti belanja iklan untuk pemenangan Donald Trump.

Baca : Google dan FB Bongkar Keterlibatan Rusia dalam Pemenangan Trump

Mengutip keterangan sebuah sumber yang dikutip harian Washington Post, sejumlah iklan sengaja disebar untuk mengacaukan informasi di berbagai produk Google, seperti YouTube dan Gmail. Namun dapat dipastikan, pelakunya lain dengan pemasang iklan di Facebook. Namun masing-masing pengiklan membelanjakan uang secara wajar, di bawah 100 ribu dolar AS.

“Kami sudah menetapkan kebijakan iklan yang ketat, termasuk membatasi iklan politik terarah dan melarang keras iklan terarah berdasarkan ras dan agama. Kami sedang menyelidiki upaya-upaya mengelabui sistem kami dengan bekerja sama dengan para peneliti dan perusahaan-perusahaan lainnya,”tulis pernyataan resmi Google.

Terkait dugaan keterlibatan Paul Manafort, Juru Bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders dengan tegas mengatakan tidak ada hubungannya dengan Presiden Amerika Donald Trump. Sanders justru balik menuduh semua keterkaitan itu dengan upaya pesaingnya, Hillary Clinton  dan sebuah perusahaan riset yang menghasilkan berkas tuduhan tentang hubungan Trump dan Rusia.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here