Ketika 50 Juta Pekerjaan Punah, Apa Sikap Pemerintah?

1
390
Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas) Bambang PS Brodjonegoro mengungkap, economic disruption berdasarkan hasil riset lembaga konsultan internasional, McKinsey, diperkirakan akan menghilangkan sekitar 45 – 50 juta pekerjaan di Indonesia.

Gejala itu akan mengancam momentum pertumbuhan yang mengandalkan bonus demografi. “Karena banyak pekerjaan yang hilang digantikan oleh robot dan artificial intelligent (kecerdasan buatan),” bebernya dalam seminar yang diselenggarakan BPJS Ketenagakerjaan, di Jakarta, Selasa (6/2) kemarin.

Pekerja Mandiri

Disrupsi ekonomi, jelas Bambang, akan memunculkan kesenjangan baru akibat dari hilangnya pekerjaan. Orang-orang yang bekerja pada sektor yang tergantikan oleh teknologi akan menjadi kelompok yang sangat rentan. Terus apa yang akan dilakukan pemerintah?

Dalam hal ini Bambang hanya bisa memberikan gambaran, di balik hilangnya pekerjaan oleh economic disruption itu akan muncul peluang baru. “Ada pekerjaan-pekerjaan baru yang tercipta dari kondisi ini. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.

Untuk itu Bapenas menghimbau perlu adanya upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia agar disruptive economy bisa menjadi momentum untuk meraih kesempatan baru. Tapi apa saja yang akan dilakukan pemerintah tampaknya masih meraba-raba dalam gelap. Karena economic disruption memang masih hal baru.

Padahal, President Director “International Social Security Association” Joachim Breuer juga mengingatkan, economic disruptive juga akan berdampak kepada institusi dana pensiun. Dalam hal ini, disrupsi ekonomi membuat hubungan karyawan dan pemberi kerja tidak jelas.

Sebut saja perusahaan aplikasi startup GoJek. Hubungan driver dan pemilik bukan terikat oleh aturan perburuhan. Melainkan dalam hubungan kemitraan yang masing-masing pihak diikat oleh perjanjian. Tak ada hubungan antara buruh dan majikan.

Maka driver GoJek acap disebut sebagai pekerja mandiri yang tidak terikat jam kerja seperti halnya buruh atau pekerja kantoran. Hadirnya pekerja-pekerja individual seperti driver GoJek itu membuat lembaga penghimpun dana pensiun seperti BPJS Ketenagakerjaan perlu membuat definisi status baru kepada pekerja-pekerja mandiri itu.

Karena itu, saran Joachim, perlu didefinisikan ulang mengenai bagaimana seharusnya jaminan sosial untuk para pekerja ini. Dan yang lebih penting lagi, pemerintah perlu membuat kajian yang serius dan tepat tentang gejala ini sehingga diharapkan dalam waktu dekat dapat merumuskan kebijakan yang tepat tentang bagaimana cara mengatasinya.

Pekerjaan yang Hilang

Perkembangan teknologi berbasis digital yang mampu menghasilkan robot-robot pekerja diperkirakan akan menghilangkan 50 juta pekerjaan di Indonesia. Lapangan pekerjaan akan semakin menyempit. Jumlah pengangguran pun diperkirakan akan membesar. Selanjutnya, jenis pekerjaan apa saja yang punah digilas disruptive economic itu?

Untuk menyikapi gejala economic disruption itu, Advisory Board Chairman Mandiri Institute Muhammad Chatib Basri dalam suatu acara di Jakarta, 26 September 2017 lalu menyarankan perlunya kemampuan untuk beradaptasi dan berinovasi. “Tanpa inovasi, perusahaan baik skala besar maupun kecil tidak bisa bertahan,” ujarnya.

Chatib Basri pun menyebut beberapa jenis pekerjaan yang akan hilang. Pertama, pegawai kantor pos seiring semakin mudahnya masyarakat berkomunikasi lewat pesan tertulis maupun bergambar lewat perangkat elektronik. Kedua, resepsionis maupun sekretaris dan juga tenaga administrasi perkantoran yang pekerjaannya bida digantikan oleh mesin atau robot. Ketiga, pekerja di industri perangkat keras.

“Peran perangkat keras atau hard disk juga akan tergantikan oleh teknologi cloud untuk menyimpan data. Akibatnya, para pekerja pembuat hard disc juga akan hilang.” kata dia.

Keempat, perbankan yang akan terganggu bisnis modelnya karena tersaingi oleh fintech. Kelima, perusahaan berbasis telekomunikasi yang terganggu bisnisnya akibat teknologi yang lebih mutakhir seperti rencana Google yang ingin membuat semacam balon yang terbang (Google Loon) untuk memancarkan sinyal internet ke daerah-daerah.

Kreativitas dan Inovasi

Akibatnya, tandas Chatib, akan banyak orang yang menjadi jobless. Pendapatan buruh pun akan semakin kecil dan ketimpangan akan semakin tinggi. Oleh karena itu, pemerintah selaku regulator, pesan Chatib Bisri, harus mengejar perkembangan inovasi ini. Untuk itu pemerintah perlu memiliki kebijakan publik dan fiskal yang bisa cepat berubah mengikuti perkembangan.

Selain kelima jenis pekerjaan yang akan hilang sebagaimana dipaparkan Chatib Bisri, pekerjaan penterjemah bahasa asing juga terancam seiring munculnya aplikasi Google Pixel Buds. Wireless handphone seharga 159 dolar AS itu segera beredar. Para penterjemah yang selama ini memandu tamu-tamu asing akan terancam menganggur oleh hadirnya perangkat ini.

Sebab Handphone ini mempunyai akses pada Google Assistant yang bisa memberikan terjemahan real time hingga 40 bahasa atas ucapan orang asing yang berada di depan penggunanya. Kalau ke China atau Arab pun penggunanya akan tetap berkomunikasi dengan warga setempat yang memiliki perangkat serupa.

Ini baru satu jenis teknologi. Padahal masih banyak jenis teknologi yang pekerjaannya mampu menggantikan peran manusia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengingatkan dengan pencepatan teknologi seperti saat ini, hingga tahun 2030, diperkirakan sekitar 2 miliar pegawai di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan.

Sekarang saja penjaga pintu masuk tol tidak lagi dijaga manusia, begitu juga perparkiran. Kuli angkut pelabuhan perannya sudah digantikan oleh forklift atau crane. Perbankan tidak perlu lagi menambah tenaga teller karena sudah ratusan ribu mesin ATM beredar hingga ke desa-desa. Drone sudah digunakan untuk mengintai gerak-gerik musuh menggantikan tenaga manusia yang berani menyusup ke sarang musuh.

Di tengah perkembangan teknologi yang tidak bisa dicegah itu, pemerintah perlu mengkaji ulang sejumlah kebijakan baik dalam bidang pendidikan, pelatihan tenaga kerja dan memicu daya kreatif warga negaranya sehingga mampu mengatasi tantangan zaman. Pertanyaannya, apakah pemerintah sudah melakukan itu? []

1 KOMENTAR

  1. Ibarat orang yg berlari, negara lain sdh menempuh 1000m, kita msh dlm langkah 100m. Dlm kondisi demikian dituntut bersejajar dlm mengatasi disrupsi ekonomi, ini yg naif siapa dong?

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here