Ketika China Berperang Melawan Utang (1)

0
453
Bank of Jinzhou yang kerap mempraktekkan shadow banking yang kini menjadi praktek terlarang di China

Nusantara.news, Hong Kong – Ketika Bank of Jinzhou – berbasis di timur laut China – mengumumkan pasar saham Hongkong dua tahun silam, menyebut ada kecelakaan dalam sistem keuangannya. Perusahaan itu telah mengeluarkan biaya senilai US$ 5,36 miliar untuk produk pengelolaan kekayaan yang tidak diasuransikan. Ini adalah ciri khas praktek “shadow banking” di China yang kini sedang diselidiki otoritas perbankan.

Setelah dalam satu dekade utang membengkak, pemerintah China mulai perang habis-habisan terhadap utang. Desember lalu, Presiden Xi Jinping mengungkap pemotongan utang adalah satu di antara pertempuran penting yang akan diperjuangkan hingga 3 tahun ke depan – termasuk di dalamnya melawan polusi dan kemiskinan.

Regulator akan menekan praktek “shadow banking”. Pemerintah juga telah menghentikan Grup Asuransi Anbang – grup HNA dan Dalian Wanda Group – konglomerat yang menghabiskan miliaran dolar AS untuk mengakuisi utang di seluruh dunia. Pada 23 Februari 2018 lalu, regulator menyebut pendiri Anbang Wu Xiaohui nelakukan kecurangan dan penggelapan dan secara resmi telah mengambil alih operasinya.

Gambaran di atas sebagai pesan kuat dari Beijing yang bertekad membersihkan sistem keuangan dengan pengambilan keputusan yang disebut sejumlah kalangan berlebihan – sebuah pesan yang diharapkan dapat dibawa dalam Kongres Rakyat Nasional pada 5 Maret ini. Dalam prosesnya, regulator mengkhawatirkan utang yang terus bertumpuk akan menyebabkan krisis sistemik seperti krisis keuangan 2008 dan krisis keuangan Asia 1997.

Rasio utang China terhadap PDB yang dalam satu dekade terus membengkak

Meskipun perekonomian China telah mencatat kemajuan luar biasa, namun kekhawatiran ke arah sana tetap ada. Pertama, adanya kekhawatiran tentang bertumpuknya utang yang berdasarkan perkiraan mencapai 272% dari PDB (product domestic bruto) pada akhir 2017. Namun ada juga kekhawatiran tentang konsekuensi yang tidak diharapkan dari sejumlah upaya pihak berwenang dalam mengendalikan utang.

Ketidak-tepatan dalam membuat peraturan telah berdampak pada bisnis besar dan kecil. Investasi langsung China ke Amerika Utara tahun lalu turun 35% dari tahun 2016 sebagai akibat tindakan keras atas pembelian “leveraged asset” seperti hotel mewah, klub-klub olahraga populer dan studio Hollywood – ungkap sebuah laporan dari Kantor Hukum Baker McKenzie dan kantor kunsultan Rhodium Group.

Sedangkan perushaaan-perusahaan China yang lebih kecil yang banyak mengandalkan permodalan dari praktek “shadow banking” yang tidak diatur dalam regulasi juga kelimpungan.

“Dampak peraturan intensif tidak lagi terbatas untuk memperkecil resiko keuangan, tapi sekarang mulai berdampak pada pasokan kredit terhadap ekonomi riil,” beber Michael Taylor, Kepala Urusan Kredit di Moody’s Investor Service wilayah Asia Pasifik.

Pengetatan adalah alasan utama analis menurunkan perkiraan mereka untuk pertumbuhan China dari 6,9% pada 2017 menjadi hanya 6,6 – 6,7% tahun ini – bahkan ketika pesanan ekspor meningkat seiring pemulihan ekonomi global.

Apa pun dampak tindakan keras terhadap ekonomi riil – regulator tampaknya tetap bertekad membunuh praktek “shadow banking”. Tampaknya regulator – tulis Moody’s – telah membuat kemajuan. Sepanjang 2017 praktek shadow banking turun hingga sepersepuluhnya dibandingkan praktek serupa di tahun 2016.

Namun Bank of Jinzhou dan bank-bank lapis kedua atau ketiga lainnya termasuk di antara bank-bank yang mesti menghadapi tantangan perubahan regulasi ini. Sebelum listing – Bank of Jinzhou tampaknya menabrak semua peraturan kehati-hatian bank. Meminjamkan uang – yang mestinya menjadi kewajiban mendasar bank-bank ini – hanyalah menjadi bagian kecil dari apa yang mestinya dia lakukan.

Mereka lebih suka menginvestasikan dan menjual “wealth management product” yang menghasilkan laba tinggi. Praktek “shadow banking” ini yang telah dikendalikan oleh Komisi Regulasi Perbankan China (CBRC/China Banking Regulatory Commission).

Resiko Kebijakan

Kolumnis Nikkei Asian Review, Henny Sender, kebijakan yang terlalu ketat dalam memerangi utang memang terlihat efektif. Namun bukan berarti tidak ada risikonya. Henny mencatat, laporan keuangan Bank of Jinzhou pada pertengahan 2017 sudah lebih baik dari dua tahun sebelumnya. Pencatatannya telah memberi bank lebih banyak ekuitas untuk melindungi kerugian dan telah mengurangi penjualan “wealth management product”. Tapi ada sekitar 23 miliar juan yang masih tercatat di pembukuannya.

Bahkan ketika China memperketat kontrol praktek pemberian pinjaman, banyak perusahaan menemukan cara lain untuk meminjam. Beberapa di antara mereka – terutama di sektor-sektor yang kurang disukai seperti property – menghimpun uang dari pasar obligasi dolar AS yang memungkinan mereka terhindar dari sanksi sekaligus memanfaatkan penguatan nilai Yuan. Praktek ini sangat berisiko. Bagaimana kalau tiba-tiba nilai Yuan amblas?

Perusahaan China lebih banyak rugi dalam utang yang didominasi dolar AS

Beralihnya kredit bank dari manufaktur ke sektor rumah tangga membuat orang-orang di China eforia terhadap utang. Artinya orang China akan lebih boros membelanjakan uangnya. Utang rumah tangga pun meningkat pesat saat orang-orang berlomba mengambil hipotek atau meminjam untuk membayar barang dan jasa.

Bagi Beijing itu berarti harus menjaga keseimbangan antara keinginannya mengekang spekulasi property – terutama dengan dana pinjaman – dan keinginan warga untuk memiliki apartemen mereka.

Ternyata kenaikan utang rumah tangga berkait erat dengan dunia keuangan internet yang makin menjamur dan belum diatur. Pihak berwenang memang sudah membatasi pada kelompok besar perusahaan pembiayaan internet karena khawatir adanya praktek gali lubang tutup lubang secara berantai.

“Sementara munculnya internet finance telah membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, hal itu juga menghasilkan lebih banyak risiko potensial, terutama mengingat peraturan tersebut telah sering tertinggal inovasi,” catat Jason Bedford, seorang analis UBS di Hong Kong.

Membunyikan alarm

Saat ini, ekonomi China terlihat kokoh, dan kekhawatiran bahwa hal itu akan memicu krisis sistemik yang surut. Namun para pemimpin negara terus membunyikan alarm tentang utang yang berlebihan – termasuk Xi, yang akan memiliki kontrol lebih besar atas ekonomi sekarang bahwa Beijing berencana membatalkan dua periode jabatan presiden.

Pada pertengahan Januari, Guo Shuqing, ketua CBRC, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan People’s Daily bahwa meningkatnya tingkat utang buruk, manajemen risiko dan bayangan yang buruk dapat menyebabkan kemungkinan “angsa hitam”, atau peristiwa ekonomi yang tidak terduga.

“Kita perlu fokus untuk mengurangi rasio utang perusahaan, membatasi menjamurnya rumah tangga, mengendalikan produk lintas sektor keuangan secara ketat [dan] terus membongkar shadow banking,” terang Shuqing.

“Saat ini, keseluruhan risiko sistem keuangan negara terkendali, namun sektor keuangan masih dalam masa rawan risiko karena beberapa faktor dan masih menghadapi situasi sulit,”  tandasnya [] Bersambung// Sumber : Nikkei Asia

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here