Ketika China Berperang Melawan Utang (2)

0
295
Anbang satu di antara perusahaan asurasi yang dijadikan sasaran perang Pemerintah China melawan utang.

Nusantara.news, Hong Kong – Ekonomi China sejak awal abad milenial memang tumbuh luar biasa. Banyak kalangan yang kagum. Tapi tidak sedikit pula para ekonom – termasuk di China sendiri – yang khawatir itu hanya fenomena permukaan (bubble) yang suatu saat akan meletus.

Kekhawatiran itu pula yang tampaknya mendorong pemerintahan China sekarang – di bawah kepemimpinan Xi Jinping – membuat kebijakan membatasi praktek “shadow banking” yang berujung penumpukan utang.

Memang, sekarang ini perekonomian China tampak kokoh. Kekhawatiran akan terjadinya krisis yang sistemik mulai surut. Pertanyaannya, di tengah situasi yang terlihat stabil di permukaan itu kenapa para pemimpin China masih sibuk membunyikan alarm tentang utang yang berlebihan. Kekhawatiran berlebihan itu yang kini dicemaskan pasar.

pertumbuhan utang di China dalam mata uang yuan

Bahkan Presiden Xi – tampaknya akan memimpin dalam waktu yang lama setelah Partai Komunis China (PKC) menghapuskan pembatasan dua periode jabatan presiden – termasuk yang menginginkan kontrol yang ketat atas utang. Segenap instrumen dipersiapkan untuk memerangi praktek “shadow banking” yang dikhawatirkan menjerumuskan perekonomian China.

Pertengahan Januari lalu, Ketua Komisi Regulasi Perbankan China (CBRC/China Banking Regulatory Commission) Guo Shuqing mengatakan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar harian People’s Daily bahwa meningkatnya tingkat utang buruk, manajemen risiko dan bayangan yang buruk dapat menyebabkan kemungkinan “angsa hitam” – atau peristiwa ekonomi yang datang tidak diduga.

“Kita perlu fokus untuk mengurangi rasio utang perusahaan, membatasi meningkatnya utang-utang rumah tangga, mengendalikan produk keuangan lintas sectoral secara ketat dan akan terus memerangi praktek shadow banking,”ucapnya.

Toh demikian, Shuqing menjamin, sekarang ini keseluruhan risiko sistem keuangan negara terkendali meskipun sektor keuangan masih dalam tenggat rawan risiko karena beberapa faktor dan masih menghadapi situasi sulit.

Ancaman Default

Guo yang berlatar belakang pernah mengelola China Construction Bank (CCB) dan mengepalai China Securitas Regulatory Commission (CSRC) dan pernah diangkat oleh PKC menjadi Gubernur Shandong – wilayah di pesisir timur China – tentu saja tidak sendirian dalam membunyikan alarm kekhawatiran itu.

Ketua Komisi Regulasi Perbankan China (CBRC) Guo Shuqing

“Jika ada optimisme berlebihan itu dapat menyebabkan Minsky Moment,” ujar Gubernur Bank Central Zhou Xiaochuan pada Oktober lalu – sengaja menggunakan istilah Minsky Moment untuk menggambarkan kejadian ketika ekses di pasar tiba-tiba berakhir. Tapi Zhao paska Kongres Nasional PKC pada Maret ini diperkirakan akan mundur dari jabatannya.

Peringatan Zhou itu tampaknya telah memicu aksi dramatis dalam beberapa bulan terakhir ini. Sebut saja pada akhir 2017, aset dan kewajiban antar bank turun untuk pertama kalinya sejak tahun 2010. Hal itu mendorong kekhawatiran yang lebih meluas di kalangan analis dan investor tentang berkurangnya kredit akan berakibat fatal bagi beberapa bisnis, memicu bangkrutnya lembaga-lembaga keuangan yang lebih kecil beserta nasabahnya.

Dalam sebuah laporan baru-baru ini UBS – perusahaan sekuritas raksasa yang berbasis di Zurich – mengingatkan upaya Beijing yang habis-habisan mencekik praktek “shadow banking” dan mengurangi utang perusahaan secara massif justru akan meningkatkan risiko kemungkinan terjadinya gagal bayar (default).

Apa yang terjadi sekarang adalah permainan kucing dan tikus – diantara pembuat peraturan dan peraturannya itu sendiri – yang mengarah kepada pinjaman bayangan dan aktivitas lainnya yang membahayakan stabilitas keuangan yang harus dicapai oleh kontrol.

Di antara korporasi, Bank Rakyat China (People’s Bank of China) memperketat kebijakan moneter, membuat biaya leverage lebih tinggi dan kebijakan itu akan menyakitkan perusahaan-perusahaan yang terlalu banyak berutang.

Imbal hasil obligasi pemerintah China selama 10 tahun sekarang sekitar 4% – dibandingkan dengan tingkat terendah 2,6%. Tahun lalu tercatat ada 700 masalah utang dengan nilai 600 miliar yuan tertunda atau bahkan dibatalkan – catat Moody’s.

Namun hal itu hanya memiliki efek menggerakkan sektor yang kurang disukai ke pasar obligasi dolar. Banyak di antara perusahaan-perusahaan itu bergerak di bisnis properti, acap kali pula melakukan kolusi dengan pemerintah daerah – menghasilkan sebagian besar uang mereka – dengan menjual tanah ke pengembang sejenis.

Sektor pembiayaan properti termasuk yang diawasi

Sejak awal 2017 – misalnya – perusahaan China meminjam  US$ 322 miliar (sekitar 2 triliun yuan) meningkat 154% dari tahun sebelumnya. Demikian data dari China International Capital Corp.

Booming Internet

Selanjutnya ada pula dunia internet yang menjadi booming baru dalam jasa keuangan dunia. Belum lama ini pendekatan peraturan adalah untuk mendorong inovasi, memungkinkan perusahaan fintech memberikan pinjaman kepada perusahaan kecil, menengah dan rumah tangga yang selama ini sulit mendapatkan pinjaman dari bank-bank konservatif – seperti misal Bank Industri dan Komersial China.

Tercatat pula, hanya da 40% orang dewasa di China yang memiliki sejarah kredit dengan lembaga keuangan tradisional, ungkap Bedford dari UBS.

Sekarang jasa keuangan di internet mengubah semua itu. Pada akhir Oktober – kreditor peer-to-peer – menyumbang 1,2 triliun yuan pinjaman luar biasa – melonjak pesat dari hal yang sebelumnya nyaris tidak ada pada 2014. Penghasilan rumah tangga rata-rata warga di China pada kuartal ketiga 2017 juga melonjak dua kali lipat ketimbang tahun 2008.

Hampir 13% pendapatan rumah tangga yang melunasi utang telah meningkat, justru ketika pemerintah khawatir terhadap meningkatnya tekanan arus kas pada rumah tangga sebagai hasil dari pinjaman konsumen yang lebih banyak, ungkap Bedford.

“Meskipun dimulai dari tingkat absolut yang rendah, pengaruh rumah tangga China telah meningkat dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir,”ulas Bedford.

Dalam menghadapi bukti-bukti kecurangan – seperti misal skema Ponzi – dan ketakutan akan jenis utang melingkar yang baru, pembuat peraturan telah memperketat cengkeraman mereka kepada pemberi pinjaman lewat internet.

Jumlah pemberi pinjaman yang dikenai sanksi hampir mencapai separuh dari sekitar 3500 perusahaan. Contoh paling terkenal adalah Ezubao yang izinnya dibekukan pada 2016 dan telah menarik 900 ribu investor. Regulator juga membekukan aktivitas yang belum mereka tutup.

Mengancam yang Sehat

Pada konferensi Nikkei Asia 300 tentang pengelolaan inovasi yang mengganggu pada pertengahan Januari lalu – Jonathan Larsen – manajer inovasi Ping An Insurance (Group) yang berbasis di Shenzhen – berbicara bagaimana perusahaan mengelola risiko kredit di dunia yang serba baru sekarang ini.

Untuk menghindari bahaya adanya peminjaman dari sebuah perusahaan untuk membayar utang kepada perusahaan lainnya – gali lubang tutup lubang – Ping An menghabiskan banyak waktu untuk mengumpulkan data tentang smartphone dan kebiasaan WeChat – sejenis WhatsApp – para pelanggannya.

Persoalannya, sebagian besar perusahaan pembiayaan lewat internet kecil tidak memiliki tingkat kecanggihan manajemen risiko seperti yang Ping An lakukan – dan ini tentu saja akan menjadi dilemma bagi pembuat aturan.

Dengan demikian banyak aktivitas pinjaman yang sudah beredar melalui sistem keuangan internet – ada yang khawatir dengan potensi kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh tindakan keras itu. Sebab keputusan yang terlalu keras dari regulator bisa memicu kepanikan berantai yang mempengaruhi bisnis keuangan yang sehat dan berkualitas.

Kasus Anbang

Regulator memang sedang menghadapi situasi yang rawan kejahatan keuangan ketika mengambil alih Anbang. Setelah itu keluar kebijakan melarang perusahaan asuransi mengeluarkan “wealth management product” yang disamarkan sebagai polis asuransi.

Regulator dipaksa mundur saat mereka menyadari bahwa Anbang tidak bisa mendanai dirinya sendiri – itu akan runtuh – dan dikhawatirkan akan menjadi trigger munculnya peristiwa yang lebih besar lagi.

Pengambil-alihan sementara pengelolaan Anbang oleh pemerintah pada akhir Februari lalu tampaknya termotivasi – setidaknya sebagian – oleh keinginan mengatasi efek berantai yang disebut Komisi Regulasi Asuransi China untuk melindungi kepentingan publik.

Sejauh ini pemerintah China dan para regulatornya memang sudah mengantisipasi – bukan saja apa yang akan terjadi di China dengan timbunan utang, melainkan juga kemungkinan terjadinya krisis berulang seperti 1997 dam 2008 lalu.  Mereka bertekad, kalau terjadi krisis berikutnya itu tidak akan terjadi di China.

Terlepas dari berhasil atau tidaknya perlawanan China terhadap utang sebagai cara menghindari krisis keuangan global yang akan selalu berulang, mestinya pemerintah Indonesia juga memikirkan cara bagaimana utang yang sudah mencapai 32% dari PDB itu tidak memicu terjadinya gejolak perekonomian di dalam negeri.[] Sumber : Nikkei Asia

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here