Ketika Dana 87 Nasabah BRI Digondol ‘Tuyul’

0
394
Dirut BRI Suprajarto dan Wakil Dirut BRI Sunarso harus mengambil langkah cepat guna mengatasi rambatan dana hilang para nasabah agar kepercayaan nasabah berubah menjadi distrust.

Nusantara.news, Jakarta – Bak digondol tuyul di siang bolong, dana puluhan nasabah PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk pun menjerit. Bagaimana mungkin keamanan nasabah bank terbaik di Indonesia itu terjadi.

BRI hari ini telah meraih predikat sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia, mengalahkan PT Bank Mandiri Tbk, bank sesama pelat merah. Bahkan di antara bank-bank di Indonesia, BRI lah yang telah memiliki satelit perbankan pertama di dunia di French Guyana. Satelit itu diberi nama BRIsat.

Mestinya dengan sistem satelit yang canggih itu BRI dapat menjaga keamanan dana nasabahnya. Tapi apa yang terjadi, 33 nasabah BRI Kediri, harus gigit jari karena tabungannya tersedot entah oleh siapa. Orang kampung biasa menerjemahkan situasi yang tak jelas itu dengan ‘tuyul’.

Kisah ini bermula dari pengaduan 33 nasabah BRI di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur yang uang tabungannya hilang sejak Senin (12/3) hingga Kamis (15/3). Kehilangan dana itu diketahui saat nasabah hendak melakukan transaksi di mesin anjungan tunai mandiri (ATM) dan mendapati uang mereka telah berkurang.

Rata-rata tabungan mereka berkurang mulai Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Pada Selasa lalu, total ada 30 nasabah yang sempat menjadi korban praktik skimming tersebut. Sampai Kamis jumlah korban bertambah menjadi 33 nasabah.

Seorang nasabah perempuan yang berprofesi sebagai guru mengaku kehilangan uang di dalam rekeningnya. Hal itu diketahui saat melakukan pengecekan saldo di mesin ATM.

Setelah menunjukkan buku rekening kepada petugas bank, diketahui bahwa dia telah melakukan lima kali penarikan secara berturut-turut. Dari lima penarikan tersebut, hanya penarikan terakhir yang diakuinya. “Saya hanya menarik Rp 300 ribu, empat penarikan lainnya tidak tahu,” katanya.

Hal senada disampaikan Iriani, perangkat Desa Tales, Kecamatan Ngadiluwih, yang menjadi nasabah BRI. Dia mengaku kehilangan uang total Rp4 juta dalam empat kali penarikan yang tidak dia ketahui.

“Tahu-tahu kemarin ada pemberitahuan dari BRI kalau sudah melakukan penarikan Rp4 juta,” katanya saat meminta pemblokiran di kantor BRI Ngadiluwih.

Selain itu, ada lima nasabah asal Jakarta yang rerata adalah petugas Bawaslu dan Panwaslu DKI Jakarta, uangnya ikut raib digasak sang pencuri.

Modus operandi

Menurut teori kejahatan, 90% kejahatan dilakukan oleh orang dalam, atau setidaknya orang yang memiliki akses atas informasi korban kejahatan. Termasuk modus kejahatan hilangnya dana nasabah BRI,

Andi Maulana, aparat Bawaslu DKI, yang bersama-sama lima temannya juga kehilangan dana tabungan, mengaku dananya juga dikuras habis. Awalnya dia ditelpon oleh orang yang mengaku dari BRI. Orang tersebut mengonfirmasi lima hal yang dirinya hanya bisa menjawab ya atau tidak.

“Orang tersebut menyebutkan nama saya dengan tepat, saya bilang ya benar. Kemudian menyebut alamat, nama ibu kandung, nomor ATM, dan kode rahasia ATM (bukan PIN). Karena semua disebut dengan benar, saya percaya dan saya akui,” katanya.

Setelah itu, lanjut Andi, dia mendapat short message service (SMS) yang seolah-olah dari BRI. SMS itu menyatakan terima kasih karena telah percaya dan setia menjadi nasabah BRI. Setelah itu uangnya lenyap dan hanya disisakan Rp55 ribu. “Uang saya habis dikuras,” sesalnya sambil menyebut kejadian kemarin pukul 15:49 WIB.

Dari sini terlihat, si penelpon jahat itu sudah mengetahui detil data nasabah tanpa ada kesalahan sedikitpun dalam penyebutannya. Di sinilah kepastian bahwa pelakunya kemungkinan besar adalah orang dalam BRI. Tapi jika melihat korbannya rerata hilang antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta, kemungkinan besar pelakunya ada di lapis SDM bawah.

Sebab kalau pelakunya SDM lapis atas, maka nilai kerugian yang diderita nasabah bisa miliaran atau bahkan triliunan.

Selain menggunakan modus mengajukan lima pertanyaan, Yanto, petugas Panwaslu DKI, tabungannya juga terkuras habis. Namun Yanto tidak disedot dananya dengan modus bertanya-tanya, melainkan kena skimming di anjungan tunai mandiri (ATM).

Terkait dengan modus skimming memang sudah lama terjadi sejak lama. Sebanyak 35 nasabah BRI Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), juga pernah mengalami kehilangan dana pada Oktober 2016. Kejahatan itu menggunakan modus skimming, data nasabah di-copy dengan alat tertentu saat bertransaksi di ATM.

Sebagian di antaranya melaporkan kehilangan dana dan sebagian lainnya meminta agar bank memblokir rekening tabungan karena khawatir menjadi korban pembobolan.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan hingga hari ini Polri masih menyelidiki kasus dana nasabah BRI di daerah Kediri, Jawa Timur, yang hilang. Jumlah laporan nasabah yang merasa uangnya raib mencapai 33 orang.

“Ada kemungkinan bertambah,” kata Setyo.

Saat ditanya mengenai potensi keterlibatan orang dalam atau jaringan internasional dalam kasus itu, Setyo enggan menjawab dengan pasti. Menurutnya, kejahatan ini juga bisa dilakukan oleh orang lokal.

Setyo menilai kejahatan siber sudah tidak bisa dianggap enteng saat ini. Menurut dia, polisi atau perbankan memerlukan sistem software yang harus selalu dicek dan diaudit untuk antisipasi kejahatan siber seperti kasus dana nasabah BRI di Kediri yang hilang.

Sementara Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mencatat hingga malam ini sebanyak 87 korban nasabah BRI telah melapor secara resmi kasus saldonya yang berkurang secara misterius.

“Kemarin ada 33 nasabah BRI yang melapor, hari ini yang melapor ke kepolisian telah bertambah menjadi 87 orang dan bisa jadi akan terus bertambah,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim Komisaris Besar Polisi Frans Barung Mangera kepada pers.

Atas raibnya dana tabungan itu, puluhan nasabah BRI Kediri ramai-ramai memblokir rekening mereka. Mereka takut menjadi korban berikutnya, sambil memindahkan dana mereka ke bank lain yang dianggap lebih aman.

Kabar raibnya uang nasabah itu dengan cepat tersiar sehingga memicu kepanikan nasabah lain di kantor Unit BRI Ngadiluwih. Akibatnya ruang pelayanan kantor penuh sesak oleh nasabah hingga ke teras.

Agar tak menimbulkan kekacauan, aparat Kepolisian Sektor Ngadiluwih membantu pengamanan nasabah. Petugas meminta mereka menyiapkan buku rekening dan membuat laporan tertulis kepada petugas bank jika merasa kehilangan uang.

BRI mengganti uang hilang

Corporate Secretary Bank BRI Bambang Tribaroto mengatakan, saat ini pihaknya telah menyelesaikan masalah dengan para nasabahnya tersebut.

“Semua sudah diselesaikan ke pihak yang bersangkutan. Kami juga sudah mengganti dengan kartu ATM baru,” ucap Bambang.

Selain memberi kartu baru kepada para nasabah, BRI telah mengganti dana yang diduga diambil oleh orang tak bertanggung jawab tersebut.

“Sudah diganti, dananya sudah sama seperti sebelum hilang,” ujar Bambang menambahkan.

Dari hasil penyelidikan sementara, diduga pelaku membobol kartu ATM nasabah mereka dengan metode skimming. Pelaku disinyalir menggandakan informasi dalam pita magnetik (magnetic stripe) yang terdapat pada kartu kredit maupun ATM/debit secara ilegal.

Bambang belum mendetailkan jumlah uang yang hilang akibat dicuri oknum tersebut. Sebab, hingga kini BRI Unit Ngadiluwih belum melaporkan total jumlah uang nasabah yang hilang itu. “Totalnya kami belum dapat info dari cabang di Kediri,” kata dia.

Ini pelajaran berharga bagi BRI yang tengah menikmati peringkat atas bank terbaik, tetap justru dilanda masalah raibnya dana nasabah. Mungkin saja dana yang hilang itu kecil, tapi kepercayaan nasabah adalah aset berharga yang tak boleh diabaikan.

Mestinya BRI mampu mengatasi kemelut dana nasabah hilang, lebih cepat dari yang seharusnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here