Pilkada Kota Batu 2017

Ketika Dinasti Politik Membajak Demokrasi (1)

0
213

Nusantara.news, Kota Batu –  Fenomena demokrasi lokal yang tercermin dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) menjadi suatu ajang kontestasi besar bagi rakyat daerah untuk menentukan nasibnya ke depan di tangan pemimpin daerah yang akan mereka pilih.

Demokrasi yang bermakna suatu sistem pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat hari ini terkesan menjadi sebuah ilusi yang kabur. Apakah saat ini demokrasi benar dimiliki  rakyat, sang empunya kedaulatan? Ataukah, demokrasi telah dibajak oleh dinasti dan pemilik modal?

Pertanyaan tersebut penting sebagai upaya refleksi diri tentang sejauh mana kemajuan demokrasi di Tanah Air selama 19 pasca reformasi. Namun, dari fakta yang ada, maka dapat dinyatakan bahwa tantangan untuk mengembalikan demokrasi ke tangan rakyat masih harus menempuh jalan terjal.

Kaum oligark yang berkuasa dan trend politik dinasti justru menjadi salah satu ciri utama wajah demokrasi Indoensia saat ini. Indikasinya terlihat dari banyaknya kaum pengusaha/pebisnis atau figur-figur manjadi jaringan mereka yang terjun  di arena politik, tidak saja di level eksekutif dan legislatif, bahkan juga di level yudikatif. Akibatnya, keputusan/kebijakan yang dihasilkan sulit digaransi akan terbebas dari kepentingan di belakangnya.

Refleksi Pilkada Kota Batu 2017

Tak hanya dalam kacamata umum, nasional dan DKI Jakarta, dalam Pilkada Kota Batu 2017 terlihat ada beberapa usaha untuk melangggengkan dinasti politik. Indikasi ini terlihat pada Calon No. 2 (DR) yang nota bene merupakan istri dari Walikota Batu yang saat ini menjabat. Upaya memperpanjang kekuasaan politik berporos dinasti tampak sangat kasat mata.

Mayedhaa Adifirsta, seorang pengamat politik dan peneliti di MCW mengatakan,  indikasi  adanya upaya membangun dinasti politik terlihat jelas. “Hal tersebut nampak ketika pencalonan Walikota Batu untuk Pilkada 2017 masih berasal dari satu keluarga, yakni diteruskan oleh istrinya tanpa jeda periode,” ujarnya.

Mayedhaa menambahkan, apabila dicermati dalam beberapa dialog publik, DR seringkali menyampaikan kebaikan pemerintah yang sedang berjalan saat ini dan gagasannya pun condong untuk melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh suaminya yang masih menjabat Walikota Batu saat ini.

Fenomena ini penting untuk dicermati secara khusus, setidaknya untuk memberikan semacam pembelajaran bagi publik tentang apa implikasi dan dampak sosial ekonomi dan politik dari sistem kekuasaan yang didasarkan atas dinasti politik. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here