Krisis Lira Turki (2)

Ketika Erdogan Makin Percaya Diri Tundukan Dolar AS

0
159
Langkah taktis Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan berhasil mengangkat lira perlahan namun pasti, arahnya lira terus menguat.

Nusantara.news, Jakarta – Turki sedang dilanda krisis moneter, mata uang lira jatuh dari posisi semula 3,78 lira sempat tertekan di posisi terendah 7,24 lira per dolar AS. Namun kepemimpinan Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan yang tegas mampu mengatasi tekanan mata uangnya.

Sebelumnya Presiden Turki sempat menghadapi beberapa uji coba kudeta, namun Erdogan memiliki daya tahan yang luar biasa. Belakangan Erdogan dihantam sentimen Amerika sehingga mata uang lira terdepresiasi hingga 91% sejak Januari 2018, ternyata daya tahan Turki bisa membalikkan keadaan.

Apa yang menyebabkan mata uang turki terpuruk sehingga menimbulkan krisis ekonomi dan bagaimana Erdogan mampu membalikkan keadaan sehingga lira menguat kembali?

Erdogan memang telah melakukan langkah-langkah tegas dan cepat dalam menangani kemelut ekonomi, terutama mata uang lira. Mulai dari pembalasan pengenaan tarif atas produk Amerika, juga memboikot sejumlah produk AS dan mengajak rakyat Turki menjual dolar AS dan membeli lira. Bahkan ada sejumlah orang kaya di Turki yang dengan sengaja membakar dolar AS sebagai bentuk perlawanan atas tindakan Trump.

Selain merapikan kebijakan fiskal dan moneter, Erdogan juga menjalin kerjasama bank-bank sentral negara sahabat. Seperti China, Qatar, dan sejumlah emir dari Saudi Arabia yang mau membantu menguatkan kembali nilai tukar lira.

Apakah langkah itu berhasil? Belum, tapi setidaknya arahnya sudah benar, yakni menuju penguatan kembali lira dan stabilitas ekonomi mulai ada di bawah kendali Pemerintah Erdogan. Sebelumnya kendali ekonomi Turki nyaris dikuasai pasar dan hampir saja diporakporandakan.

Kembali pulih

Nilai tukar lira Turki berhasil membalikkan keadaan membuat tekanan bagi bursa saham Benua Kuning menjadi mereda. Selain langkah-langkah fiskal dan moneter. Langkah Erdogan ternyata mengundang simpati rakyatnya, ada yang menjual dolarnya dan mengganti dengan lira, ada yang bahkan membakar dolar AS sebagai bentuk perlawanan emosional.

Tak hanya sampai di situ, Erdogan melakukan strategi tit for tat atau aksi balasan terhadap AS karena telah menetapkan tarif 20% terhadap produk aluminium dan 50% terhadap baja asal Turki.

Erdogan menggandakan tarif sejumlah produk AS yang masuk ke Turki. Tak hanya iPhone dan Coca Cola, Turki juga melipatgandakan tarif mobil asal Amerika, menaikkan hingga 140% alkohol dan tembakau 60%.

Qatar yang sempat diboikot 9 negara teluk dan dibantu oleh Turki, juga langsung menyatakan dukungan kepada pemerintahan sah Turki. Erdogan sukses ‘membujuk’ Emir Qatar Sheikh Tamim Bin Hamad Bin Al Thani berjanji untuk menanamkan investasi senilai US$15 miliar di Turki dalam pertemuan kedua pemimpin di Ankara.

“Dukungan Turki untuk Qatar selama perselisihan berlangsung dengan Arab Saudi akhirnya terbayar,” ujar Tim Ash, senior emerging-market strategist di BlueBay Asset Management LLC., dikutip Bloomberg.

Tak hanya itu, para emir di Saudi Arabia diketahui secara diam-diam juga telah mengonversi dolarnya ke dalam lira. Itu sebabnya ke depan, perlahan namun pasti lira akan pulih ke posisi semula di awal tahun yakni di kisaran 3,7 lira per dolar AS.

Bahkan pemerintah China juga menyatakan simpatinya kepada upaya Erdogan yang frontal terhadap Trump. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Yi mentakan keyakinannya bahwa Turki akan mampu mengatasi keadaan. Bahkan bank China, ICBC dikabarkan juga memberikan pinjaman kepada Turki senilai US$3,6 miliar untuk membantu mengatasi keadaan.

Turki sendiri sedang melakukan renegosiasi ulang atas pinjamannya kepada Dana Moneter Internasional (IMF) senilai US$20 miliar demi mencegah defaul.

Dengan latar belakang tersebut, regulator perbankan Turki mengatakan para pemberi pinjaman sekarang dapat memperpanjang jatuh tempo atau membiayai kembali pinjaman serta menerbitkan utang baru untuk membantu perusahaan-perusahaan bermasalah.

Bank-bank juga dapat mencari agunan baru untuk melindungi diri mereka sendiri serta meminta debitur menjual aset untuk membayar kembali pinjaman.

Total football perlawanan Erdogan, diikuti oleh rakyatnya, dibantu oleh Qatar, China dan renegosiasi utang IMF, ternyata secara perlahan namun pasti berhasil membalik keadaan dan lira pun menguat kembali. Walaupun belum kembali ke posisi awal, namun setidaknya arahnya semakin pasti menuju penguatan yang permanen.

Tinggal sekarang seberapa kredibel perang dagang  yang dikobarkan Trump, karena telah menciptakan musuh bersama negara-negara terdampak terhadap gaya kepemimpinan Trump yang ambisius dan mencelakakan. Bahkan tidak menutup kemungkinan gaya perang dagang Trump pada waktunya tiba ke Indonesia.

Apakah kita memiliki kepemimpinan yang kredibel, sehingga pelemahan rupiah dapat kembali ke posisi sedia kala? Adakah kebijakan yang disegani oleh pasasr, ditakuti oleh para spekulan?

Semoga pelajaran Erdogan melawan Trump dengan gigih menjadi pelajaran berharga bagi dunia. Khususnya bagi Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here