Ketika Generasi Milenial Jadi Objek Politik

0
175
Presiden dan Sebagian Ketua Partai Politik Bergaya ala 'Generasi Muda Milenial'

Nusantara.news, Jakarta – Jelang Pilpres 2019, generasi milenial menjadi sasaran pencitraan para elite dan rebutan partai politik. Pasalnya, generasi milenial yang saat ini berusia 17 – 30an tahun merupakan jumlah mayoritas sebagai pemilih. Direktur Program Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Sirajudin Abbas dalam sebuah kesempatan mengungkapkan bahwa berdasarkan pendataan data pemilih, pemilih berusia 17 – 38 tahun mencapai 55 persen dari jumlah total pemilih pada Pemilu 2019.

Senada dengan SMRC, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi populasi pemilih dari kalangan milenial pada 2019 mencapai lebih dari 50 persen. Karena itu peneliti Senior LIPI, Syamsuddin Haris mengingatkan, partai politik harus memperhitungkan betul-betul keberadaan generasi millenial di pemilu mendatang. Ia memprediksi salah satu kunci kemenangan partai politik dalam meningkatkan elektabilitas adalah bagaimana menarik simpati pemilih pemula (milenial).

Sadar dengan hal itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun seakan tak mau ketinggalan. Hampir tiap pekan publik disuguhkan aksi-aksi gimmick politik Jokowi yang menyasar anak milenial. Ada saja kehebohan Jokowi yang diperbincangkan netizen dan media mainstream perihal aksi politainment-nya itu. Politainment atau politics entertainment merupakan trend gabungan politik dan hiburan ‘zaman now’. Politainment berarti politik yang dibungkus layaknya hiburan guna menawan mata dan telinga khalayak. Pengertian ini mirip-mirip dengan pencitraan dan gimmick (trik menarik perhatian).

Baca: https://nusantara.news/berebut-pemilih-milenial-lewat-gimmick-politik/

Tak heran, lepas dari peran tim media sosial presiden, sejumlah barang yang dikenakan Jokowi tak kalah masyhur alias viral di medsos. Salah satunya adalah sarung, sepatu, kaos, gitar, sandal, hingga motor. Di tahun 2017, misalnya, jaket TAD hijau Jokowi pernah bikin heboh netizen. Jaket keren itu dikenakannya pas menjajal ruas jalan Papua dengan motor trail. Beragam komentar bertebaran di jagat maya. Jokowi lalu menutup akhirn tahunnya dengan menyapa ribuan orang generasi millenial pada acara Entrepreneurs Wanted! (EW!) di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung.

Kemudian di awal 2018, saat meresmikan kereta api Bandar Udara Soekarno-Hatta (2 Januari), Presiden Jokowi juga menyita perhatian publik. Pasalnya, presiden mengenakan kaus oblong lengan panjang berwarna merah, celana jeans biru tua, dan sepatu kets merah marun bermerek Nike. Tak ketinggalan, Jokowi menyempatkan menonton dan mengomentari film Dilan, film yang bercerita percintaan anak SMA yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq dan sedang digandrungi anak-anak muda. Usai menonton film itu, Jokowi memberikan penilaian di depan wartawan.

Presiden Jokowi juga ‘mencoba’ bergaya bak Dilan dalam film Dilan 1990. Dengan memakai jaket denim biru muda dipadu dengan atasan santai putih polos dan celana hitam serta sepatu sneakers, Jokowi menggeber Chopperland warna emas miliknya keliling Sukabumi, Jawa Barat, bersama dengan sejumlah staf dan pengendara motor lainnya. Gaya berkendara seperti Dilan itu dipamerkan Jokowi melalui video berdurasi 48 detik. Jokowi mengunggah video itu di akun Facebook resminya, @Jokowi, Sabtu (7/4/2018).

Beberapa politainment ataupun gimmick politik Jokowi lainnya: pakai jaket bomber saat konfrensi pers di istana, cukur rambut di barbershop, latihan tinju, adu panco dengan putranya (Kaesang Pangarep), hobi nge-vlog, interaksi dengan penyanyi Raisa, shoping di mall, nonton konser musik, memanah, dan sebagainya. Teranyar, Presiden memboncengkan Ibu Negara Iriana dengan motor listrik berwarna merah menuju Aula Wiyata Mandala, Dinas Pendidikan Kabupaten Asmat, Papua, yang berjarak 2,8 kilometer.

Di luar Jokowi, beberapa partai juga melakukan siasat menggaet generasi milenial guna memuluskan perolehan suara di Pemilu mendatang. Sontak, panggung politik di Tanah Air dipenuhi para elite politik yang tiba-tiba “bersolek” dan mengklaim paling milenial. Mulai dari gaya berpakaian, gaya bicara, hingga gaya bermedia sosial pun disesuaikan dengan selera milenial.

Ketua Umum Muahimin Iskandar alias Cak Imim, misalnya, mempromosikan diri sebagai cawapres Jokowi dengan ‘pesan’ mewakili generasi muda. Pada pendukungnya ‘mendandani’ Cak Imin salah satunya lewat foto bergaya anak muda yang ‘mejeng’ di spanduk dan baliho di berbagai tempat. Mereka bahkan meneyebut Cak Imim sebagai penyambung genarasi ‘Kids Zaman Now yang kini mulai berperan aktif di ranah politik.

“Kita tahu generasi milenial saat ini sangat erat dengan medsos, kami akan manfaatkan Twitter, Facebook, Instragram untuk menyosialisasikan Cak Imin sebagai cawapres,” kata Koordinator Sahabat Cak Imin Kabupaten Subang Agus Solihin.

Serupa dengan Cak Imin, Ketua Umum PPP Romahurmuziy belakangan juga gencar memajang baliho dengan foto dirinya berlagak anak muda: berkaos, bercelana hitam, dan memakai semacam surban yang dikalungkan layaknya kafiyeh serta mirip dengan penampilan vokalis Nidji Giring. Selain itu, ditambahkan tulisan ‘Romahurmuziy untuk 1ndonesia’.

“Kalau dilihat di media sosial kami, makin banyak yang terkena ‘Ketum Effect’ (gaya penampilan modis eperti Romi, red). Jadi ini bahasa komunikasi paling sederhana. Tinggal ke depan lebih giat lagi menggunakan media sosial untuk menyasar mereka anak milenial,” kata Romi, sapaan akrabnya, di sela-sela pertemuan dengan kader PPP di Seven Dream City, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (5/4/2018).

Partai Golkar pun bertekad membidik kalangan pemilih milenial untuk meningkatkan elektabilitas partai. Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto meminta kadernya masuk ke dunia atau kebiasaan generasi milenial. Dengan cara tersebut, kader Golkar bisa menguasai pemilih milenial. “Golkar harus masuk ke sosmed. Generasi milenial ada banyak di sana. Ada 50 persen pemilih nanti di usia milenial,” ujar Airlangga.

Partai baru pun demikian. Partai Perindo (besutan Konglomerat Media Harry Tanoesoedibjo) dan PSI (yang dikomandani oleh mantan news anchor dan konsultan politik SMRC Grace Natalie), misalnya, bahkan sejak awal mengklaim paling milenial. “Partai Perindo melakukan kampanye ‘Saya Milenial, Saya Perindo’ di media sosial guna menarik perhatian generasi muda untuk ikut terlibat dalam membangun bangsa,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pemuda Perindo, Effendi Syahputra, bebapa waktu lalu.

Semenara pengurus PSI Isyana Bagoes Oka mengatakan partainya menargetkan merebut 20 persen kursi di DPR. Mereka bertekad bisa mengusung calon presiden sendiri di Pemilu 2024. “PSI akan berfokus menggaet kalangan muda atau generasi milenial,” tegasnya.

Partai lainnya seperti PAN, PKS, Demokrat, Gerindra, dan NasDem juga meyerukan kadernya untuk memperhitungkan potensi kaum milenial. Tak hanya itu, sejumlah kader muda pun disiapkan untuk bisa menarik simpati kaum milenial. Di PKS bahkan dibentuk ‘PKS Muda’ sebagai kanal komunitas anak muda yang resah dan peduli terhadap kondisi bangsa. Dalam situsnya, ‘PKS Muda’ tidak sekadar bicara tentang politik, lebih dari itu  mengajak generasi milenial untuk berpartisipasi aktif menyelesaikan permasalahan-permasalahan di sekitar dengan aksi-aksi nyata.

Generasi Milenial Hanya Jadi Objek Politik

Lantas siapakah generasi milenial itu? Beberapa literatur masih belum padu memandang kisaran usia milenial. Menurut majalah Newsweek, milenial adalah generasi yang lahir di kisaran tahun 1977 – 1994. PEW Research Center menyatakan lahir di atas tahun 1980. Sementara itu, Majalah TIME menilai milenial lahir pada tahun 1980 – 2000. Pun begitu, lebih banyak ahli yang mengategorikan generasi mienial atau generasi “Y” ini lahir tahun 1980 – 2000. Mereka adalah anak muda masa kini yang berusia dikisaran 15 – 34 tahun.

Mereka muncul sebagai generasi yang dikenal dengan istilah “Generasi Milenial.” Mereka lahir di era kecanggihan teknologi. Perkembangan teknologi informasi dipahami sebagai ’’papan selancar’’ generasi milenial mematangkan diri. Maka televisi bukanlah prioritas untuk mendapat informasi, apalagi lewat ceramah di seminar dan acara-acara resmi yang bertele-tele. Bagi mereka, segala informasi dan pengayaan wawasan bisa diakses lewat “jempol” mereka dengan perangkat ponsel dan supergadget lainnya.

Di Indonesia, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kaum milenial pada 2017 mencapai 85 juta jiwa atau 32,6 persen dari total penduduk yang sebanyak 261,89 juta jiwa. Umumnya mereka berpikir strategis, inovatif, interpersonal, energik, antusias, egaliter, digital native, lebih menyukai visual (gambar), dan rasional.

Namun ada pula pandangan sinis bahwa generasi milenial itu tidak suka diatur, kurang loyal, tampak santai dan cenderung malas, serba simple (praktis), tidak sabar, dan lebih instan. Sebagian yang lain menuding millennials hanyalah sekumpulan generasi ‘nunduk’ yang gila swafoto tapi ironisnya asosial, lazy, hello it’s me, dan sulit menjadi agen perubahan. Benarkah?

Tidak adil menilai generasi ini hanya dari kacamata generasi tua karena setiap generasi punya milieu (lingkungan), value, dan tuntutannya sendiri-sendiri. CEB Iconoculture dalam laporannya tahun 2013, menyebut value yang digenggam masing-masing genre berbeda-beda. Mereka yang usianya berawal atau lebih dari angka 4 – menganggap tinggi nilai keadilan (justice), integritas (integrity), kekeluargaan (family), kepraktisan (practicality), dan kewajiban (duty). Sedangkan millennials lebih memandang penting kebahagiaan (happiness), passion, keberagaman (diversity), berbagi (sharing), dan penemuan (discovery).

Sayangnya, para politisi hanya mengganggap mereka penting dari sudut pandang pasar suara dalam industri politik. Partai politik juga tampak gagap menyelami bagaimana kebutuhann dan aspirasi mereka diserap ke dalam bentuk program yang memikat serta narasai-narasi konkret. Pemahaman elite terhadap milenial baru sebatas ‘cangkang’ yaitu dengan meniru-niru gaya berpakaian, bicara, ataupun ‘gmmick politik’ lain yang seringkali telampau dipaksakan dan menggelikan.

Padahal, suka tak suka, akan ada di antara mereka yang menjadi pelaku-pelaku politik, baik sebagai pemilih, medioker, maupun politisi itu sendiri. Ke depan, generasi mereka yang paling menentukan siapa pemimpin Indonesia berikutnya, termasuk mengisi ceruk-ceruk pemimpin di segala level. Karena itu, kesadaran dan partisipasi politik mereka perlu disentuh (terlebih beberapa survei menyebut generasi milienial umumnya tak suka politik), dan potensinya diarahkan sebagai modal sosial bagi perubahan Indonesia yang bekemajuan di kemudian hari.

Namun apa boleh buat (dan kita miris), mendapati elite politik saat ini yang ‘berebut’ generasi milenial semata tujuan pragmatis: mendulang suara dalam elektoral. Dan kecenderungannya, mereka hendak dijadikan objek ketimbang sebagai subjek berpolitik. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here