Ketika Jenderal Gatot Mengenang Rumah Masa Kecilnya yang Sudah Hilang

3
581
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kedua kiri) berbincang dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (kedua kanan) dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono (kanan) saat safari Ramadan di Brigade Infanteri 4/Dewa Ratna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Rabu (14/6) malam. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/foc/17.

Nusantara.news, Jakarta – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memang dilahirkan di Tegal. Tepatnya pada 13 Maret 1960. Lulusan Akademi Militer 1982 ini memang memiliki kenangan tak terlupakan dengan kabupaten yang dipimpin oleh Dalang Ki Enthus Susmono itu.

Maka begitu tiba di Markas Brigif 4/DR Slawi, Kodam IV Diponegoro, Gatot sulit menghilangkan rasa harunya. Terlebih ribuan masyarakat menyambut kehadirannya di markas tentara yang pernah membesarkannya dalam karir militernya.

Gatot dengan didampingi pejabat TNI dari Jakarta, antara lain Asisten Teritorial Mayjen TNI Wiyarto, Asisten Perencanaan Umum Laksda TNI Siwi Sukma Adji, dan Kapuspen Mayjen TNI Wuryanto, serta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, ulama kharismatis asal Pekalongan Habib Luthfi bin Yahya dan sejumlah pejabat setempat sedang Safari Ramadhan Bersama ribuan warga Kabupaten Tegal di Markas Brigif4/DR Slawi, Kodam IV Diponegoro.

Selain berbuka puasa bersama ribuan warga, Jenderal Gatot juga ikut shalat tarawih. Saat didaulat memberikan sambutan Gatot menyebut markas Brigif4/DR Slawi pernah menggembleng dirinya menjadi prajurit hingga seperti sekarang ini. “Di sini saya mulai berkarir sampai jadi seperti ini,” kenangnya.

Di hadapan ribuan warga Gatot juga bercerita tentang masa kecilnya di Kabupaten Tegal. Dia juga bercerita tentang rumah masa kecilnya di Slawi. Sayangnya, rumah itu sudah tidak ada lagi. “Tapi rumah sudah hilang. Ini nostalgia. Terima kasih pada masyarakat, ulama yang menjaga, bersama TNI-Polri menjaga bangsa ini tentram damai ,” lanjut Gatot sulit menyembunyikan rasa harunya.

Panglima TNI juga menyebutkan, masyarakat Kabupaten Tegal mayoritas beragama Islam. Orangnya baik-baik dan memiliki akhlak mulia. Maka dia berpesan kharakter yang sudah baik itu tetap dijaga. Tidak boleh menyakiti antar sesama karena akan menimbulkan kekacauan. ”Jadi kalau orang yang suka menyakiti orang lain, itu orang yang nggak punya akhlak. Itu harus dihindari,” pesannya.

Sebagai orang muslim, lanjut Gatot, harus rendah hati dan tidak boleh takabur. “Sebab, takabur hanya dimiliki oleh Allah SWT. Terkadang, orang lupa diri dengan mengatakan bahwa dirinya yang terhebat,” tegasnya.

Gatot juga menyebutkan, ada yang pekerjaannya hanya menjelek-jelekan orang lain. Semua orang dinilainya tidak benar. Padahal, pernyataan itu salah besar. Panglima beranggapan, itu justru akan memicu keributan antarteman dan agama. Karena itu, dia meminta agar perilaku demikian dihindari. Jagalah gesekan di antara sesama.

”Kita harus bisa menyadarkan saudara-saudara kita yang melakukan begitu. Yang suka menjelekan-jelekkan orang lain dan suka mengatakan kafir. Jagalah negeri kita supaya aman dan nyaman. Hindari peperangan antaragama,” harapnya.

Panglima menambahkan, pada 17 Agustus 2017 mendatang, umat muslim di Indonesia akan membaca Alquran secara serentak. Dimulai pada pukul 17.00 hingga 18.00 atau menjelang magrib. Rencananya, tiap orang akan membaca Alquran sebanyak tiga juz.

”Mari kita bersama-sama menyukseskan acara khatam Alquran ini. Temanya, Indonesia semakin damai,” pinta Panglima.

Kunjungan Jenderal Gatot  ke Kabupaten Tegal memang bagian dari Safari Ramadan Panglima TNI ke sejumlah daerah, dan peristiwa menjadi sangat mengharukan, karena daerah yang dia kunjungi adalah tanah kelahiran yang juga tempat Gatot Nurmantyo pernah digembleng hingga menjadi seperti sekarang.[]

3 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here