Ketika ‘Kecerdasan Buatan’ Dianggap Pemicu Perang Dunia III

0
147
Elon Musk, CEO dan pendiri SpaceX dan Tesla, salah satu milyarder perusahaan teknologi dunia. Foto: Getty Images

Nusantara.news – Akhir-akhir ini masyarakat dunia khawatir bakal pecah Perang Dunia ketiga dengan tidak bisa dikendalikannya program nuklir Korea Utara. Bahkan Minggu lalu, rezim diktator Kim Jong-Un mengklaim telah berhasil menguji coba bom hidrogen yang kekuatan daya ledaknya 1000 kali lipat dibanding bom atom yang dulu jatuh di Hirosima dan Nagasaki.

Benarkah Korea Utara dengan senjata nuklirnya dan sikap pemimpinnya, Kim Jong-Un, yang sulit diprediksi itu bakal memicu Perang Dunia III?

Ada yang sepakat, ada juga yang tidak. Milyarder teknologi dan pendiri perusahaan mobil listrik Tesla, Elon Musk, tidak yakin kalau nuklir Korea Utara bisa memicu Perang Dunia, bahkan jika negara itu benar-benar melakukan serangan dengan senjata nuklirnya sekalipun. Menurut Musk, nuklir Korea Utara memiliki risiko paling rendah untuk terjadinya Perang Dunia.

Justru, kata Musk, sebagaimana “kicauan” 4 September lalu di akun Twitter-nya, @Elonmusk, “Perang Dunia III bisa dipicu oleh hal lain, yaitu kompetisi antarnegara dalam membuat teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intellegence.”

“Cina, Rusia dan semua negara yang memiliki sains komputer yang kuat bakal bersaing untuk superioritas ‘Kecerdasan Buatan’ pada tingkat nasional. Ini bisa menjadi penyebab Perang Dunia Ketiga, menurut pendapat saya,” kata Musk.

Twit Elon Musk, selain sebagai respon kekhawatiran masyarakat dunia terhadap nuklir Korea Utara juga untuk menanggapi pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin, sosok yang paling punya potensi memanfaatkan Kecerdasan Buatan utuk perang di masa depan.

Menurut Putin, negara yang akan menjadi penguasa di Bumi adalah negara yang mampu menguasai ilmu Kecerdasan Buatan.

“Kecerdasan Buatan adalah masa depan, tidak hanya bagi bangsa Rusia tapi juga bagi seluruh umat manusia,” kata Putin, sebagaimana ditulis The Verge, Senin, 4 September 2017.

“Ini menyajikan kesempatan besar bagi semua tapi juga menimbulkan ancaman yang sulit diprediksi. Siapapun yang menjadi pemimpin sains Kecerdasan Buatan bakal menjadi penguasa dunia,” jelas Putin.

Bukan kali ini saja, Elon Musk pemilik SpaceX yang bergerak di bidang transportasi luar angkasa, berbicara mengenai bahaya Kecerdasan Buatan. Sebelumnya, Musk pernah berdebat dengan pendiri Facebook Mark Zuckerberg tentang teknologi ini.

Berbeda dengan Elon Musk, Mark mengatakan bahwa Kecerdasan Buatan bukan teknologi yang mengancam kehidupan manusia.

“Saya tidak bisa memahami orang-orang yang cenderung menolak Kecerdasan Buatan dan membangun berbagai skenario tentang kiamat karena ini. Menurut saya itu pernyataan yang negatif dan tidak bertanggung jawab,” kata Mark Juli lalu saat berdebat secara online dengan Musk.

Menanggapi argumentasi Mark, Elon Musk hanya menyatakan, “Saya sudah berbicara soal ini dengan Mark. Pengetahuannya soal Kecerdasan Buatan terbatas.”

Keyakinan Elon Musk akan bahaya Kecerdasan Buatan bagi masa depan dunia tidak hanya terlihat dalam argumentasi-argumentasi. Dia, bersama 116 tokoh teknologi lainnya telah mengirimkan petisi kepada PBB soal pengaturan penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan. Menurut Musk dan kelompoknya, penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan yang otonom akan menjadi revolusi ketiga peperangan setelah ditemukannya teknologi bubuk mesiu dan nuklir.

Negara-negara besar seperti Rusia, Amerika, dan Cina meyakini bahwa teknologi Kecerdasan Buatan adalah alat untuk menguasai dunia di masa depan. Dengan begitu, negara-negara tersebut akan saling bersaing menciptakan teknologi hingga ke tingkat yang sulit diprediksi risikonya bagi kehidupan. Ini yang dikhawatirkan Elon Musk.

Pemerintah Cina, baru-baru ini, mengumumkan ambisinya untuk menjadi pemimpin Kecerdasan Buatan pada tahun 2030. Saat ini Amerika Serikat dan Cina merupakan negara terdepan dalam pengembangan ilmu komputer untuk membangun Kecerdasan Buatan.

Sementara Rusia, meski tak sebesar Cina atau Amerika dalam kapasitas kemampuan teknologinya untuk mengembangkan Kecerdasan Buatan, namun ambisi Vladimir Putin adalah terbesar untuk menggunakan teknologi ini dalam menguasai dunia di masa depan.

Putin, dalam pidatonya Jumat pekan lalu, mengatakan, “Saat pasukan drone sebuah negara dihancurkan oleh pasukan drone negara musuhnya, maka negara itu tidak ada pilihan kecuali menyerah,” kata Putin menjelaskan bahwa teknologi Kecerdasan Buatan menentukan kemenangan suatu negara dalam perang.

Bagaimana teknologi Kecerdasan Buatan bekerja?

Penulis dan peneliti di Center for New American Security, Gregory C. Allen, dalam tulisannya yang diterbitkan CNN beberapa waktu lalu, membenarkan pendapat Elon Musk dan Vladimir Putin, bahwa siapa pun yang menguasai teknologi Kecerdasan Buatan akan menguasai dunia.

Allen pernah menulis sebuah laporan yang diterbitkan Harvard Belfer Center for Science and International Affairs, tentang penelitian bahwa Kecerdasan Buatan kemungkinan akan memberikan sebuah revolusi teknologi militer setara dengan penemuan pesawat terbang dan senjata nuklir.

Menurut analisa Allen, Rusia, meski kalah pesat teknologi komputernya dengan AS dan Cina, tapi dia bisa menjadi pemimpin dalam persenjataan berbasis Kecerdasan Buatan dengan tujuan untuk mengakhiri hegemoni AS dalam sistem internasional dan membangun kembali pengaruh Rusia terhadap wilayah Soviet.

Rusia selama ini memang tidak pernah menjadi pemimpin dalam teknologi internet, tapi negara itu terbukti memiliki kekuatan cyber hacker yang besar yang  mampu yang mengalahkan sebagian besar jaringan listrik di Ukraina, menyusup ke fasilitas nuklir AS hingga mengacaukan pemilihan presiden Amerika Serikat 2016.

Selain itu, menurut Allen selama lima tahun terakhir, Rusia telah secara agresif berinvestasi pada robotika militer baru dan sistem tak berawak, serta terus menerus menguji sistem ini dalam konflik Rusia di Ukraina dan Suriah.

Misalnya saja pada tahun 2015, komandan komando Angkatan Darat AS di Eropa menyatakan, ketika orang-orang Ukraina melihat Pesawat Udara Tak Berawak milik Rusia, mereka tahu bahwa dalam 10-15 menit lagi akan ada roket yang mendarat di atas mereka.

Saat ini Rusia masih mengoperasikan pesawat tanpa awak dari jarak jauh, tapi ke depan dengan didukung teknologi Kecerdasan Buatan negara itu akan bisa membuat robot cerdas yang bisa melawan dan membunuh tanpa memerlukan operator manusia lagi.

Bayangkan, jika robot semacam itu dikembangkan sejumlah negara kuat yang punya ambisi menguasai dunia. Inilah yang dikhawatirkan Elon Musk.

Komite Industri Militer Rusia saat ini telah menyetujui rencana untuk memiliki 30 persen kekuatan tempur yang terdiri dari robot-robot yang dikendalikan sepenuhnya dan dikendalikan oleh Kecerdasan Buatan yang ditargetkan dicapai tahun 2030.

Tidak hanya di medan perang, Rusia juga berharap menggunakan Kecerdasan Buatan untuk kepentingan spionase dan propaganda.

Badan intelijen Rusia sudah mempekerjakan ribuan staf, siang dan malam untuk memproduksi artikel hoax dan berita palsu serta posting media sosial.

“Puluhan juta ‘bot’ berpura-pura menjadi orang sungguhan di media sosial untuk propaganda di Rusia dan di luar negeri,” tulis Allen.

Seorang periset yang bekerja di Proyek Riset Propaganda Computational di Oxford Internet Institute menemukan, hampir separuh dari seluruh akun Twitter yang mengomentari politik Rusia adalah bot. Bahkan, menurut kesaksian mantan Agen Khusus FBI Clint Watts di Kongres AS, bot Rusia telah berhasil memproduksi berita palsu dalam liputan media AS dan mempengaruhi harga saham perusahaan Amerika.

Padahal, dalam hal ini Rusia masih menggunakan bot yang primitif, bisa dibayangkan jika sudah digunakan Kecerdasan Buatan, Rusia pasti akan bertindak dengan dampak yang lebih buruk lagi.

Periset di University of Washington sudah menunjukkan bahwa teknologi Kecerdasan Buatan mampu menghasilkan video dan audio yang realistis, tidak saja mirip, dengan suara dan penampilan siapapun.

Teknologi Kecerdasan Buatan seharusnya diatur?

Karena dampaknya yang berbahaya bagi masa depan dunia, pengembangan Kecerdasan Buatan diusulkan agar seharusnya diatur dan diawasi oleh lembaga internasional seperti PBB.

Kekhawatiran Elon Musk terhadap Perang Dunia akibat Kecerdasan Buatan mendorong dia bersama lebih dari 100 pendukungnya, menandatangani petisi yang diajukan ke PBB untuk melarang senjata otonom mematikan yang berbasis Kecerdasan Buatan.

“Sebab begitu dikembangkan, senjata otonom yang mematikan akan memungkinkan konflik bersenjata terjadi dalam skala lebih besar dari sebelumnya, dan pada rentang waktu lebih cepat dari yang dapat dipahami manusia,” demikian bunyi petisi itu. “Begitu kotak Pandora itu dibuka, akan sulit ditutup,” lanjut pernyataan dalam petisi memberi isyarat bahwa ketika Kecerdasan Buatan dibolehkan, sulit untuk mengontrol penggunaannya, termasuk pada senjata.

Tapi benarkah teknologi Kecerdasan Buatan begitu mengancam?

Tentu tidak semua orang sependapat dengan itu. Pakar Kecerdasan Buatan Max Versace, CEO robotika dan perusahaan komputer Neurala, serta direktur pendiri Laboratorium Neuromorphologi Universitas Boston, yang mendalami kecerdasan biologis di komputer dan robot tidak setuju dengan Musk.

Versace, yang perusahaannya menangani penggunaan perangkat lunak untuk meniru bagaimana otak bekerja tersebut, mengatakan bahwa meskipun kecerdasan buatan bisa digunakan lebih banyak untuk kehidupan sehari-hari, tapi para ilmuwan masih memiliki jalan yang panjang untuk menyempurnakan penggunaannya.

Kecerdasan buatan, kata Versace, belum mencapai tingkat di mana ia akan menjadi begitu kuat, sehingga akan mengambil alih segalanya.

Seeperti dilansir CNBC, Versace menuding Musk hanya menjual rasa takut tentang teknologi Kecerdasan Buatan. “Masih terlalu dini untuk mulai mengatur Kecerdasan Buatan karena akan memperlambat inovasi,” kata dia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here