Ketika Menteri Susi Tidak Memilih Ikan PDI-P dan Ikan Golkar

1
600
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti memberikan keterangan mengenai rencana penenggelaman kapal asing di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Kamis (15/10). ANTARA FOTO/Reno Esnir/nz/15.

Nusantara.news, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sempat kebingungan saat disodori memilih diantara tiga ikan hias yang layak menerima Piala Presiden Joko Widodo. “Semuanya bagus,” ucap Susi yang mengaku sejak jadi Menteri baru sekarang menghadiri pameran ikan hias.

Begitulah suasana saat Menteri Susi didaulat menutup secara resmi pameran ikan hias bertajuk “2nd Indonesia Ornamental Fish and Aquatic Plant Show Nusantara Aquatic (Nusatic) di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, Minggu (3/12) kemarin.

Di depan para pengusaha perikanan hias Susi tiba-tiba disodori tiga jenis ikan oleh panitia. Satu di antaranya harus dia pilih untuk menerima Piala Presiden. “Saya bingung milih yang mana, semua bagus,”ucap Susi sambil memperhatikan ketiga ikan yang disodorkan panitia.

Dari tiga ikan yang harus dia pilih, satu berwarna merah, satu berwarna merah putih dan satunya lagi berwarna kuning. Akhirnya Susi memilih ikan berwarna merah putih milik Sugiarto Kurniawan untuk memenangkan kompetisi ikan hias kali ini.

“Kalau merah putih berarti Indonesia, tapi kalau ini kuning, Golkar, lalu kalau ini yang merah, PDI-P,”seloroh Susi disambut gelak tawa sejumlah peserta pameran.

Hadir dengan mengenakan setelan batik dan sepatu hak tinggi, Susi menargetkan ekspor ikan hias Indonesia akan dipacu untuk menjadi yang nomer satu di dunia. Terakhir kali Indonesia menempati posisi tiga besar dunia setelah Singapura dan Jepang. Padahal potensi perdagangan ikan hias di pasar internasional mencapai USD 65 juta yang pasarnya meliputi Amerika Serikat, Jepang, Hongkong dan Inggris.

Bantuan yang dijanjikan Susi adalah mendorong Raiser Ikan Hias milik Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) di Cibinong, Bogor, dibebaskan dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNPB). Raiser ini merupakan satu di antara fasilitas yang diberikan KKP membantu kegiatan ekspor ikan hias di seluruh Indonesia.

“PNPB-nya terlalu mahal. Saya akan bicara dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kalau perlu gratis,”ujar Susi.

Pameran ikan hias itu sendiri diselenggarakan oleh Asosiasi Ikan Hias “Nusantara Aquatic” bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan KKP sejak 1 Desember hingga 3 Desember. Acara itu diselenggarakan sebagai upaya mendorong pengusaha ikan hias lokal memimpin pasar dunia.

Dari potensi pasar ikan hias dunia yang mencapai USD 65 juta, Indonesia baru mampu mengekspor ikan hias air laut kurang dari 10 persen, atau USD 6,43 juta atau sekitar Rp86 miliar dengan patokan kurs Rp13.400 per 1 USD. Maka Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Singapura dan Jepang.

Sedangkan ekspor ikan hias air tawar Indonesia menduduki posisi kedua setelah Singapura dengan nilai ekspor USD 14,16 juta atau sekitar Rp189,7 miliar. Tahun ini ekspor ikan hias Indonesia ditargetkan mencapai 1,19 juta ekor. Dan tahun 2021 ditargetkan menjadi eksportir ikan hias nomer satu di dunia.

Kenapa Indonesia masih kalah dengan Singapura? Selama ini rupanya Singapura menjadi penghubung terbesar bagi pengusaha Indonesia mengakses pasar Internasional. Sebenarnya mereka hanya calo. Namun karena memiliki fasilitas dan jaringan pasar luas Singapura dianggap sebagai rujukan utama pemasok ikan hias dunia.

Untuk menghilangkan ketergantungan Indonesia terhadap Singapura, Menteri yang berdasarkan survei Poltracking berkinerja terbaik itu menyarankan penghapusan PNPB. Selain itu Susi juga menyarankan pengusaha ikan hias rajin-rajin datang mengikuti acara rutin yang diselenggarakan KKP.

Ketua Panitia Pameran Sugiarto Budiono berterima-kasih atas kehadiran Menteri Susi menutup acara. Di depan Susi, Sugiarto membanggakan acara yang diselenggarakan merupakan pameran ikan hias yang terbesar di dunia yang dihadiri oleh lebih dari 2.900 peserta.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here