Ketika Mimpi Merajai Samudera Kembali Muncul dari Bangku Kuliah

0
87
Prof Ir Daniel M Rosyid PhD (3 dari kiri) bersama mahasiswa FTK ITS dan pejabat di Albaola Itsas Kultur Faktoria. usai meneken kesepakatan kerjasama berkelanjutan di sektor maritim pada 2017.

Nusantara.news, Surabaya – Salah satu isi Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian masyarakat. Dalam implementasinya, tujuan luhur ini dengan beragam alasan kerap terabaikan kepentingan pragmatis. Baik yang dipengaruhi faktor internal kampus maupun kondisi masyarakat itu sendiri.

Di tengah persaingan global saat ini, rakyat Indonesia sangat membutuhkan dukungan intelektual kampus. Entah itu berupa karya, pemikiran atau pun lainnya untuk meningkatkan daya saing sebagai sebuah bangsa yang sudah menyatakan merdeka sejak 17 Agustus 1945.

Terutama dukungan yang secara psikologis, lebih mendekati kultur masyarakat di wilayah kampus itu berdiri. Ketika ITS memunculkan program akan membangun galangan kapal kayu pada 2020, harapan industri maritim Jawa Timur bergairah pun kembali muncul. Rencana ini merupakan tindak lanjut pasca membangun kerja sama dengan salah satu pusat studi budaya maritim Spanyol, Albaola Itsas Kultur Faktoria.

Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Prof Ir Daniel M Rosyid PhD menegaskan, galangan kayu itu bukan hanya sekedar pusat studi. Ada tujuan besar lain untuk jangka panjang. Yakni mengembalikan kejayaan maritim Nusantara di  masa lalu dengan langkah memiliki pusat produksi kapal sendiri. “sebagai negara maritim dengan luas lautan lebih besar dari daratannya, kita (Indonesia, RED) sangat perlu mendirikan pusat produksi kapalnya sendiri,” katanya dikonfirmasi media, Senin (16/4).

Niat guru besar Teknik Kelautan ini juga dilatari kondisi geografis Jawa Timur sebagai provinsi penghubung kawasan barat dengan kawasan timur Indonesia. Ditambah panjang garis pantai lebih dari 2.128 kilometer. Sepanjang garis itu, terdapat beragam sumber daya alam. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) dalam kajian yang dikeluarkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, menyebutkan setidaknya ada beberapa potensi yang jika dikelola dengan perencanaan yang tepat, sangat mendukung untuk pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Mulai dari pariwisata, gas biogenik, bahan mineral, endapan dasar laut agregat konstruksi, cadangan minyak dan gas bumi, serta perikanan tangkap maupun budidaya. Jika mengacu pada rencana FTK ITS, industri galangan kapal kayu sangat potensial lebih dikembangkan di pesisir utara dan timur yang kontur pantainya lebih landai di banding pesisir selatan.

Di beberapa daerah seperti Tuban, Lamongan dan Banyuwangi memang sudah ada beberapa industri skala kecil kapal kayu. Namun, usaha yang sudah turun temurun jarang bersentuhan dengan teknologi modern. Tak jarang, pengrajin memperoleh pengetahuan secara otodidak. Dalam situasi ini, galangan kayu FTK ITS nanti berperan memberi sentuhan teknik lebih modern. “Perahu kayu nelayan selama ini hanya dikerjakan oleh pengrajin. Nantinya ini yang akan mendapat sentuhan engineer,” terang Daniel.

ITS Menentang Arus

Pemilihan Albaola sebagai rujukan FTK ITS untuk mendirikan galangan kapal kayu seperti menantang arus. Apalagi pemerintah saat ini lebih getol sandarkan sebagian besar proyek strategis ke China. Mulai dari proyek jalan bebas hambatan, pelabuhan sampai pengadaan kereta cepat. Bergeming dengan arah itu, Daniel M Rosyid menjelaskan jika pilihan itu sudah berdasarkan pertimbangan matang.

“Bahkan sudah ada lima mahasiswa yang kami kirim untuk magang di Albaola Itsas Kultur Faktoria. Di sana tempat yang tepat untuk belajar mengenai budaya maritim. UNESCO juga mengakui hal ini karena kapal-kapal kayu produksi Albaola sudah terbukti selama berabad-abad tangguh dan kuat melintasi samudera,” ucapnya.

Hampir sebagian besar pemuda di Albaola bekerja di galangan kapal kayu, profesi yang mempertemukan tradisi nenek moyang Basque dengan kebutuhan akan kapal laut kayu.

Penelusuran dari berbagai sumber, industri kapal kayu di Albaola tercatat sudah sejak tahun 1560-an melintasi perairan antarbenua. Di kawasan pesisir barat daya Spanyol yang berbatasan langsung dengan Samudera Atlantik itu, tradisi maritim bangsa Basque dikenal mendunia. Salah satunya melalui “San Juan”, kapal kayu pemburu ikan paus.

Unesco menyatakan kapal itu sebagai warisan budaya maritim dunia dengan mempercayakan Albaola Itsas Kultur Faktoria  untuk membangun replika penuh. Termasuk dari segi ukuran dan teknologi pembuatannya. San Juan pernah pernah digunakan untuk berlayar melintasi Samudera Atlantik hingga ke New Foundland, masuk teritori Kanada saat ini sebelum tenggelam di perairan Red Bay, Labrador sekitar 1560.

Kepercayaan ini dibayar dengan penobatan Albaola sebagai pusat pengembangan budaya maritim kelas dunia. Sebagai tindaklanjutnya, pemerintah setempat memasukkan ketrampilan kemaritimaan, seperti pembuatan boat building, rowing dan sailing dalam program pendidikan untuk warganya. “Kita ingin mengetahui model bisnis seperti apa yang mereka kembangkan sehingga bisa diterapkan di Indonesia,” kata Daniel.

Tujuan ini memang tidak hanya mengejar kemampuan dalam membuat kapal kayu yang secara tradisi sebenarnya banyak daerah di Indonesia juga tidak kalah. Hanya saja, karena tidak terintegrasi dengan program lainnya, membuat banyak potensi yang luput dari perhatian. Semisal menjadikan industri kapal kayu sebagai daya tarik wisata yang bisa menjadi ciri khas Jawa Timur khususnya.

Selain itu, produksi kapal kayu FTK ITS nantinya juga tidak harus untuk kebutuhan nelayan. Bisa juga untuk menutupi kurangnya akan kebutuhan kapal kayu bagi konsumsi luar negeri. Dalam hal ini, gairah masyarakat pesisir untuk tidak hanya mengandalkan hasil tangkapan di laut bisa dipenuhi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here