Ketika Panglima TNI Sampaikan Pesan Melalui Puisi di Rapimnas Partai Golkar

0
334

 

Nusantara.news, Jakarta – Entah dari mana datangnya ide Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang membacakan puisi di forum Rapat Pimpinan Partai Golkar di Balikpapan, Senin (22/5/2017). Puisi berjudul “Sungguh Jaka Tak Mengerti, Mengapa Ia Dipanggil Ke Sini,” itu beberapa kali disambut tepuk tangan oleh peserta Rapimnas.

Pesan Melalui Puisi

Ide Panglima TNI membacakan puisi di hadapan peserta Rapimnas Partai Golkar langsung viral. Tidak hanya isi puisinya, tetapi video saat Panglima TNI membacakan puisinya, termasuk tepuk tangan peserta rapimnas beredar di media online dan media sosial.

Ide Panglima baca puisi di forum politik seperti itu memang pula langka, unik sekaligus menyegarkan.

Masih jelas dalam ingatan ketika Presiden PKS Tifatul Sembiring menggunakan pantun saat memberikan pesan koalisi kepada Ketua Umum Partai Golkat (ketika itu) Jusuf Kalla yang datang ke Kantor PKS di daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Ketika itu Februari 2009. suasana politik ditandai kesibukan partai partai melakukan utak atik mencari pasangan koalisi jelang Pilpres 2009.

Melalui pantun singkatnya, Tifatul menyampaikan pesan koalisi secara elegan.

Isi pantunya adalah, “Kalau datang ke kota Padang mampir ke Solok tuk beli beras. Kalau Jusuf Kalla datang ke Mampang, Maka isyarat sudah jelas.

Jusuf Kalla yang tersenyum lebar, tak mau kalah. Pernyataan melalui pantun yang menyegarkan, dibalas Jusuf Kalla juga dengan pantun dengan isi yang tak kelah segar.

Katanya, “Bukan ladang sembarang ladang. Ladang banyak jerami. Bukan datang sembarang datang. Datang untuk mempererat silaturahmi.”

Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hendak meresuffle personel PKS dari kabinet, Tifatul yang punya stok banyak pantun, masih menggunakan pantun untuk menjawab wartawan.

Kalau kutahu paria pahit, tak kugulai dalam belanga. Kalau kutahu bercinta pahit, takkan kumulai dari semula,” kata Tifatul saat ditanya wartawan mengenai kelanjutan posisinya sebagai Menteri Kominfo.

Ketika dicecer agar mengeluarkan pernyataaan lebih eksplisit, Tifatul kembali mengeluarkan stok pantunnya sebagai berikut, “Ayu Ting-ting naik kopaja. Yang penting kerja.”

Pesan-pesan politik yang disampaikan melalui pantun atau puisi kini hilang dan lenyap.

Pada masa pemerintahan Jokowi sekarang ini, jagat politik Indonesia malah dipenuhi kata-kata yang jauh dari menyegarkan. Bahkan tidak sedikit yang melewati batas batas kesantunan yang banyak sedikitnya berkontribusi memicu api politik kian membara.

Dalam perspektif ini, ide Panglima TNI baca puisi sebagai media menyampaikan pesan politik, di forum Rapimnas Partai Golkar dinilai menyegarkan dan apabila menjadi tren, berpotensi berkembang menjadi oase yang berkontribusi mendinginkan suhu politik yang masih panas.

Pesan politik yang terkandung dalam puisi politik yang dibacakan Panglima TNI juga mudah dipahami, sebagai berikut,

Sungguh Jaka Tak Mengerti, Mengapa Ia Dipanggil Ke Sini

Dilihatnya Garuda Pancasila, tertempel di dinding dengan gagah.

Dari mata burung Garuda, ia melihat dirinya

Dari dada burung Garuda, ia melihat desa

Dari kaki burung Garuda, ia melihat kota

Dari kepala burung Garuda, ia melihat Indonesia

Lihatlah hidup di desa, sangat subur tanahnya

Sangat luas sawahnya, tapi bukan kami punya

Lihat padi menguning, menghiasi bumi sekeliling

Desa yang kaya raya, tapi bukan kami punya

Lihatlah hidup di kota, pasar swalayan tertata

Ramai pasarnya, tapi bukan kami punya

Lihatlah aneka barang, dijual belikan orang

Oh makmurnya, tapi bukan kami punya

Jika terus Jaka terpana, entah mengapa meneteskan air mata,

air mata itu ia yang punya.

Komunikasi Ala Indonesia

Pantun adalah atau puisi tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Mulai dari saat duduk di bangku sekolah dasar rakyat Inmdonesia sudah dikenalkan dengan sastra lama satu ini.

Pantun sekaligus merupakan kebudayaan yang khas dengan budaya Melayu. Oleh sebab itu, sudah sejak lama pantun menjadi alat komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Pantun juga merupakan warisan leluhur yang paling unik. Karena, telah memiliki chemistry yang kuat dengan seluruh masyarakat di Indonesia. Semua daerah di Indonesia memiliki pantun khas daerahnya masing-masing. Pantun adalah puisi asli Indonesia.

Karena itu, sangat disayangkan mengapa nasib warisan leluhur itu, kini tinggal kenangan. Kalaupun masih dibicarakan, sekadar dijadikan salah satu mata pelajaran di sekolah.

Kondisinya memprihatinkan, karena ichwal pantun, hanya menjadi salah satu bab saja dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah bab itu selesai, maka pelajaran tentang pantun pun ditinggalkan dan dilupakan.

Pernah ada acara berbalas pantun di televisi. Tetapi kini, acara itu sudah tidak jelas riwayatnya. Tidak tertutup kemungkinan, karena tinggal sedikit rakyat Indonesia yang mampu berbalas pantun atau dianggap sudah tidak populer.

Di tengah gempuran budaya asing, kebudayaan berpantun semakin pudar. Padahal, pantun memiliki banyak manfaat,  mulai dari berkirim pesan, menasehati, bercanda, bahkan bisa digunakan untuk menyindir secara halus.

Ketika memakai pantun untuk saling menasehati atau sekedar bertegur sapa, silaturahmi antar warga masyarakat bisa semakin kuat.

Secara tidak langsung, pantun  juga akan merangsang otak menjadi lebih aktif lagi dalam bermain kata-kata, sebab perbendaharaan kata akan semakin banyak.

Sedemikian rupa, pantun berpotensi menjadi salah satu media dalam berkomunikasi termasuk berkomunikasi politik.

Posisinya mirip seperti karikatur. Karikatur, walau mengkiritik secara tajam, tetapi orang yang dikritik tidak marah, malah ikut tersenyum karena disertai dengan kata-kata tidak langsung dan gambar-gambar atau sketsa yang adakalanya lucu.

Namun, seperti pantun, karikatur sebagai salah media menyampaikan pesan politik, kini juga terancam hilang bersamaan dengan hadir dan hebatnya penetrasi media online.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here