Ketika Partai Republik Ditinggalkan 24 Calon Petahana

0
154
Ketua DPR Paul Ryan saat mengumumkan untuk tidak mencalonkan diri lagi sebagai calon DPR yang merupakan pukulan telak bagi Republik

Nusantara.news, Washington – Meskipun kapitalisme telah “membunuh” ideologi di sejumlah negara – namun nuansa “ideologis” terlihat kental menjelang pemilihan paruh waktu November 2018 nanti. Partai Republik – begitu juga dengan Demokrat – tidak berada dalam lapak tunggal. “Konservatisme” yang diwakili Paul Ryan Vs “Nasionalis-Proteksionis-White Supremacy” yang diwakili Donald Trump terlihat jelas dalam pertempuran ideologis dalam tubuh Grand Old Party (GOP) alias Partai Republik.

Hal paling mengejutkan yang hanya terjadi paska Perang Dunia II dan tahun 1992 adalah mundurnya sejumlah petarung dari Partai Republik – termasuk Ketua DPR AS Paul Ryan – dalam kontestasi pada Pemilu sela yang memilih anggota Senat dan DPR pada bulan November tahun ini. Pengunduran diri Paul Ryan dari pencalonan membuat situasi makin buruk bagi GOP yang kini menduduki posisi mayoritas – baik di Senat maupun DPR.

“Pengunduran diri Ryan (untuk tidak mencalonkan kembali) adalah tanda kejatuhan Partai Republik,” ulas mantan anggota Kongres asal Florida David Jolly yang memperkirakan akan lebih banyak lagi anggota parlemen dari partainya mengikuti jejak Ryan yang pada Rabu Legi (11/4) kemarin mengumumkan tidak akan mencalonkan diri pada pemilu sela nanti.

“Banyak orang Republikan yang tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Itulah tema konstan yang saya dengar dari mantan rekan kerja,” tutur Jolly. “Kenyataannya adalah Trump baru saja membuat lingkungan orang-orang GOP menjadi sulit.”

Petahana adalah Kunci

Majunya kembali calon petahana merupakan kekuatan utama untuk kemenangan partai politik di negeri Paman Sam. Dan partai Republik itu dalam pertarungan yang hampir belum pernah terjadi sebelumnya – terutama di sejumlah basis pemenangan yang paling penting.

Setelah Paul Ryan, petahana lainnya Dennis Ross, juga mengumumkan tidak akan ikut mencalonkan diri lagi untuk pemilihan kembali yang memicu pertanyaan pengurus partai di Washington untuk mencari kandidat penggantinya.

Sejumlah anggota Kongres dari Partai Republik asal daerah pemilihan negara bagian Florida hingga ke California menolak ikut bertarung kembali melawan kandidat dari Demokrat, Peristiwa itu belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II – kecuali tahun 1992 – ungkap Kyle Kondik – seorang analis politik dari University of Virginia Centre for Politics.

“Demokrat harus dapat mengambil bagian signifikan dari 24 kursi yang mereka butuhkan untuk memenangkan DPR hanya dari kursi yang terbuka,” saran Kondik.

Partai Republik kini memiliki 39 kursi untuk dipertahankan dibandingkan 20 kursi untuk Demokrat. Dan 24 petahana dari Partai Republik memilih tidak tampil lagi dalam pemilu sela, sedangkan dari Partai Demokrat hanya ada 9 petahana yang mundur dari persaingan, demikian perhitungan yang diungkap NBC News.

Distrik Wisconsin yang semula milik Ketua DPR AS Paul Ryan akan menjadi wilayah yang terbuka untuk persaingan di antara kandidat DPR dari Republik dan kandidat DPR dari Demokrat.

Di atas kertas distrik itu menjadi basis tradisional Partai Republik – kecuali dalam Pemilu Presiden 2008 yang memenangkan Barrack Obama – dan Paul Ryan selalu menang telak di distrik ini setelah terjadinya bencana longsor pada 1998. Namun setelah Ryan mundur dari pemilu sela wilayah ini akan kembali terbuka untuk persaingan.

Dengan kata lain di saat Partai Demokrat dalam kampanye politik untuk pemilu November hanya disibukkan persoalan penggalangan dana, Partai Republik harus memulai dari bawah dengan menjaring calon-calon kandidat mereka.

“Anda dapat duduk di daerah yang jauh dari jangkauan dan membuatnya terbuka dan itu menjadi target utama,” beber Ethan Todras-Whitehill – pendiri SwingLeft – kelompok liberal baru dalam tubuh Partai Demokrat yang memiliki misi mengubah DPR.

Secara statistik calon petahana sangat sulit dipatahkan. Sebut saja pada Pemilu paruh waktu November 2016 tercatat 98 persen dari anggota Kongres memenangkan kembali kursinya. Karena memang seorang calon petahana di AS asal tidak keterlaluan – berdasarkan penghitungan kelompok non-partisan FairVote nilai kemenangannya mencapai 8 point – atau 80 persen pasti menduduki kembali kursinya.

Sidik Jari Trump

Namun Partai Republik justru mengecilkan persoalan ini. Ketua Komite Kongres dari Partai Republik Steve Stivers – asal daerah pemilihan Ohio – mengatakan kepada CNN tidak tampilnya kembali calon-calon petahana bukan masalah besar bagi partainya.

Persoalannya memang, Demokrat bukannya tidak ada masalah dalam dirinya sendiri. Dalam pantauan elektabilitas GOP, Partai Demokrat ternyata terpuruk di wilayah mereka sendiri – sebut saja di distrik Minnesota yang kini disukai pemilih Republik dan persaingan fifty-fifty di Connecticut tempat anggota Kongres asal Demokrat mengundurkan diri dari pencalonan setelah terbongkar menutupi pelanggarannya. Dan pemilihan kandidat dari Demokrat di sejumlah tempat juga berakhir berantakan yang membuat Partai Republik mendapatkan peluang memenangkan kandidatnya.

Namun di Florida dan Pennsylvania tidak ikut sertanya calon petahana pada dasarnya dapat disebut menyerahkan mandat kepada calon Demokrat. Sedangkan di daerah-daerah terbuka seperti California dan tempat-tempat lain telah secara signifikan meningkatkan peluang oposisi.

“Saya pikir kami terlalu lelah, terlalu lelah,” ujar seorang anggota Kongres Charlie Dent dari Partai Republik asal Pennsylvania yang juga menyatakan tidak mencalonkan diri kembali. “Ini akan menjadi tahun yang penuh tantangan.”

Juga masih perlu dilihat, apakah Paul Ryan sebagai tokoh Republikan dapat mempertahankan reputasi penggalangannya yang tidak tertandingi – yang sangat penting bagi partainya – setelah kekuasaannya di DPR dibuat ibarat “bebek yang lumpuh”.

“Saya tahu sebagai juru bicara partai secara pribadi berkomitmen untuk memastikan (Dana Kepemimpinan Kongres) terus berhasil dan memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk mempertahankan mayoritas (Partai Republik) di DPR,” ujar Corry Bliss selaku direktur eksekutif CLF yang merupakan penggalang dana besar (Super PAC) untuk Partai Republik.

Hanya sedikit yang menduga ketidakhadiran Ryan akan secara langsung memindahkan banyak suara. Karena Partai Demokrat selalu gagal mengubah Ryan “dicitrakan” sebagai penjahat sebagaimana yang dilakukan Partai Republik terhadap pimpinan minoritas DPR Nancy Pelosi.

Namun perlu juga dicermati, sebelum Trump menjadi kekuatan di Partai Republik, Ryan selalu berhasil memenangkan kandidat Republik – bahkan ketika Barrack Obama menjadi Presiden AS dari Partai Demokrat selama 2 periode. Tidak hadirnya Ryan dalam pemilu sela kali ini akan membuat orang-orang pinggiran kota yang berpendidikan tidak senang dengan calon penggantinya yang mungkin lebih dekat ke faksi Trump.

“Pemimpin DPR dari GOP berikutnya, apakah mereka Ketua atau pimpinan minoritas, akan menjadi seseorang dengan ‘sidik jari’ Trump,” ucap Jolly, “ karena satu-satunya cara untuk bertahan di GOP saat ini adalah dengan restu Trump.”[]

Sumber NBC News

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here