Ketika Produk Indonesia Menjadi Raja di Dunia

0
144
Sebanyak 23 varian kopi Indonesia berhasil menjuarai kopi dunia pada pameran kopi di Prancis.

Nusantara.news, Jakarta – Sebanyak 23 varian kopi Indonesia menang dalam perlombaan gourmet di Paris sepanjang 2018. Berbekal keunggulan kompetitif tersebut, organisasi gourmet asal Prancis AVPA atau The AgencyfortheValorizationofAgriculturalProducts, bersama Gourmet Selection, menggelar bersama lomba teh dan infusion pada 7 Juni mendatang.

Memang tak ada duanya, produk kopi Indonesia layak menjadi raja kopi dunia. Keunggulan 23 varian kopi Indonesia memang tak ada duanya, hal ini terungkap pada Pameran Kopi 2018 di Prancis lalu. Tentu saja harapannya 23 varian kopi Indonesia menjadi raja kopi dunia untuk yang kesekian kalinya.

Menurut Lauren Pascault, salah satu tea master dari American Tea MastersAssociation dan ketua kompetisi teh & infusion gourmet AVPA, kompetisi tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. “Tahun ini bukan hanya teh yang bisa ikut kompetisi gourmet, namun berbagai minuman infusion juga bisa ikut, seperti chamomile, thyme, lime, hibiscus, jahe, rooibos, matcha,sereh, dll. Tujuan kami adalah mencari teh atau minuman infusion yang baik untuk kesehatan dan memiliki ciri khas tertentu dalam rasanya.”

Country Manager AVPA untuk Indonesia, Annelis Putri menjelaskan bahwa setiap tahunnya, AVPA mengadakan kompetisi gourmet untuk beberapa produk jadi seperti kopi dan teh, diikuti oleh lebih dari 11 negara penghasil teh dan 24 negara penghasil kopi. Produk-produk yang memenangkan kompetisi ini akan dipertemukan dengan berbagai distributor, cafe dan restaurant di Eropa dan Amerika. “Bulan Maret lalu, kami sudah membeli 14 jenis roasted coffee dari produsen kopi pemenang kompetisi AVPA, termasuk kopi luwak. Saat ini produk tersebut sedang di-taste oleh berbagai agen reseller dan distributor di Paris dan New York ».

Annelis Putrimelanjutkan “Di Prancis, penggemar berat kopi, teh dan minuman herbal lainnya enggan beli produk tersebut di supermarket. Kebanyakan dari mereka membeli produk tersebut di toko makanan khusus atau epicerie yang mengambil produk minuman tersebut langsung dari negara produsen."

Konsumen di Eropa sadar bahwa produsen traditional tersebut memiliki kualitas dan nilai know-how turun temurun, yang harus dilindungi dari mass industry. Know-how dari produsen tersebutlah yang membuat sebuah produk teh atau bahkan jajanan pasar, memiliki gastronomic value. Itu juga alasan AVPA menyelenggarakan kompetisi ini, agar produsen memiliki nilai tambah untuk produk mereka”.

Masih menurut gadis muda kelahiran Yogyakarta ini, saat ini permasalahannya adalah pelaku Indonesia yang terlalu terpaku pada kuantitas untuk jual komoditi mentah, bukan pada kualitas untuk jual produk jadi.

Selain itu, kompetisi ini bertujuan untuk meningkatkan image produsen dalam negeri di pasar international dan menaikkan nilai jual produk jadi. Biasanya produk minuman yang memiliki pengakuan dari konsumen Prancis dapat naik harganya sekitar 15%. Dengan menjual produk jadi, negara penghasil dan produsennya akan lebih untung daripada hanya menjual komoditas saja.

Untuk mengikuti kompetisi ini, teh dan minuman infusion harus single-origin, atau tidak dicampur dengan tanaman lainnya. Pemenang dari kompetisi ini akan berkesempatan untuk mengikuti pamera, Gourmet Selectiondi Paris dan mendapatkan label « Gourmet Product Paris 2019 » yang dapat ditempelkan pada kemasan produk.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here