Ketika Setrum PLN Mulai Menyambar Ke Sana Ke Mari

0
132
Dirktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) saat memberikan keterangan kepada wartawan soal situasi PLN saat ini. Posisinya diincar banyak pihak dengan membongkar permasalahan yang ada di PLN

Nusantara.news, Jakarta – Isu utang PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) tiba-tiba mencuat. Bocornya surat peringatan Menkeu Sri Mulyani soal utang PLN membuat jagad pertiwi seperti petir di siang bolong. Sepertinya PLN mulai menyetrum siap saja yang terkait dengannya.

Asal muasal meledaknya isu utang PLN ketika Menkeu Sri Mulyani Indrawati pada 19 September 2017 mengirim surat kepada Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarmo. Surat itu ditembuskan kepada Kepala Kantor Kepresidenan Teten Masduki, Dirut PLN Sofyan Basir, dan Dewan Komisaris PLN. Surat bernomor S-781/MK.08/2017 itu menyoroti adanya risiko dalam keuangan PLN.

Dalam surat berkategori penting dan segera itu, Menkeu menyebutkan perlunya Menteri ESDM dan Menteri BUMN mempertimbangkan perkembangan risiko keuangan negara atas penugasan infrastruktur ketenagalistrikan.

Dalam salinan surat Menkeu yang diterima Nusantara.News itu, intinya Sri menyampaikan kegelisahan soal kinerja keuangan PLN yang terus menurun menyusul semakin besarnya kewajiban untuk membayar pokok dan bunga pinjaman. Sementara pertumbuhan kas bersih operasi tak mendukung penurunan kinerja keuangan itu.

Setelah bocornya video pertemuan tertutup Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dengan para mantan jenderal sehingga membuatu situasi politik memanas, kini giliran surat Menkeu soal utang PLN mengemuka. Bahkan Menkeu mengkhawatirkan utang PLN mengalami default (gagal bayar).

Itu sebabnya Sri berjanji menginvestigasi siapa yang membocorkan suratnya ke publik. Adakah ini pemanasan politik yang sudah dimulai,? Atau semacam pengalihan isu? Atau hanya semacam caper (cari perhatian)?

Menteri BUMN Rini Mariansi Soemarmo mengaku kondisi dan kinerja PLN baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Enggak (khawatir). Kenapa? Saya enggak khawatir. Kenapa menkeu tulis surat, saya bilang normal, sebagai Menkeu perlu mengingatkan kita. Karena Pak Sofyan ini memegang perusahaan yang terbesar di Indonesia, Rp1.300 triliun. Bahkan bukan perusahaannya saja yang besar, Pak Sofyan-nya juga besar,” ujarnya berseloroh.

Demikian pula Menteri ESDM Ignasius Jonan menegaskan bahwa kondisi PLN aman dan terkendali. “Kalau Kondisi keuangan PLN itu menuju lampu kuning, saya kira Menteri BUMN dan saya akan melaporkan ke Presiden dan Menteri Keuangan. Ini kondisinya aman, terkendali,” tegas Jonan, di Jakarta.

Dimana parahnya?

Bila merunut akhir 2014, Presiden Jokowi mencanangkan program pembangunan 35.000 MW. Latar belakangnya adalah kebutuhan listrik yang diasumsikan akan meningkat seiring dengan tumbuh tingginya perekonomian nasional.

Pada saat yang sama, PLN selaku BUMN pelaksana tugas harus berkutat dengan persoalan keuangan.

Berdasarkan laporan keuangan PLN per 30 September 2014, total utang mencapai Rp471 triliun. Dengan rincian utang bank dan surat utang jangka panjang mencapai Rp70,7 triliun, naik 6,42% dari periode yang sama tahun lalu Rp66,4 triliun. Utang obligasi tercatat naik tipis menjadi Rp81,2 triliun, dari Rp81 triliun.

Akhir Desember 2016, Menteri BUMN Rini Soemarmo memerintahkan Dirut BRI Sofyan Basir membenahi PLN, dan masuknya bankir keturunan Arab itu ke perusahaan setrum negara.

Jokowi sempat memanggil Sofyan Basir ke Istana Negara pada Juli 2015, untuk memastikan kondisi keuangan PLN. Sofyan waktu itu menjelaskan bahwa dari jumlah itu, ada utang dari Independent Power Producer (IPP) atau pembangkit listrik swasta, yang masuk ke dalam pencatatan keuangan PLN. Sehingga bila dipisahkan maka tak ada persoalan utang.

Sampai Desember 2016, Sofyan berhasil melakukan restrukturisasi, utang PLN turun Rp76 triliun (16,13%) hingga ke level Rp395 triliun. Sementara sampai Juni 2017, total utang PLN terus turun Rp99 triliun (25,%) menjadi Rp296 triliun. Artinya ada penurunan yang gradual dan pasti akibat adanya restrukturisasi yang dilakukan manajemen PLN di bawah pimpinan Sofyan Basir.

Dalam 3 tahun terakhir utang PLN hanya bertambah Rp58 triliun. Sementara omzet PLN sekitar Rp300 triliun dengan total aset Rp1.300 triliun.

“Ekuitas kita Rp890 triliun. Sekarang kita bisa melakukan pinjaman Rp2.000 triliun kalau mau. Saya kaget kok panik gara-gara surat itu. Jadi tidak ada apa-apa sama sekali. Posisi cash kita kuat. kita tidak pernah gagal bayar,” ungkap Sofyan.

Sementara total investasi PLN dalam 3 tahun terakhir mencapai Rp150 triliun, sebagain besar investasi dibayar sendiri. “Itu lah sehatnya PLN,” terang Sofyan yang bingung dengan pernyataan Menkeu.

Laba PLN tahun ini ditargetkan mencapai Rp7 triliun, jumlah itu dengan sudah menghitung potensial lost karena tidak ada kenaikan tarif listrik, yakni sekitar sekitar Rp8 triliun. “Kita cukup capek lah bekerja mempertahankan tarif tak naik selama 2 tahun ini demi kemasalahatan masyarakat,” ketusnya.

Saat ditanya posisi cash flow PLN, Sofyan menegaskan saat ini PLN punya cashflow sebesar Rp63 triliun, belum lagi standby loan di bank (pinjaman siaga) sebesars Rp38 triliun. “Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisi keuangan kami sehat, ” ujar Sofyan kepada wartawan di kantor Kementerian ESDM beberapa hari lalu.

Incar posisi dirut

Seperti bermain voley, Menkeu Sri Mulyani sebenarnya tengah memberi umpan lewat isu utang PLN. Tentu saja ia sedang menunggu ada yang mencemes umpan bola angkat tersebut. Maksudnya, posisi Dirut PLN memang saat ini tengah diincar banyak pihak.

Kabarnya isu utang PLN hanyalah isu kecil yang dijadikan pembuka untuk mendongkel posisi Dirut PLN. Isu besarnya adalah, akan ada pengungkapan data hanky pengky di tubuh PLN, terutama mereka yang selama ini menggerogoti PLN lewat aneka proyek.

Nusantara.News sendiri dijanjikan oleh orang dalam PLN soal berbagai proses bisnis yang tidak sehat di PLN. Namun data itu masih dalam penantian.

Lepas dari isu korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di PLN, isu ikutannya adalah, sudah mulai ada titipan calon pengganti Dirut. Ada calon dari sebuah partai besar, ada juga calon dari RI-1, sementara Sofyan diketahui merupakan orang RI-2.

Belum lagi Menteri BUMN kabarnya juga punya calon, termasuk Menko Kemaritiman dan Sumber Daya dikabarkan sudah menyiapkan calon.

Jadi cerita utang PLN ibarat permulaan Menkeu Sri memencet saklar, dimana setrumnya nanti akan menyambar-nyambar para pemain dan para pihak yang berkepentingan. Siapa saja mereka?

Tunggu saja leadakan dan setruman PLN selanjutnya…![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here