Ketika Wacana Politik Makin Banal, Sastra Jadi Oase

0
164
Olivia Zalianty membacakan puisi karya Chairil Anwar. Foto Istimewa (Isti Nugroho)

Nusantara.news, Jakarta – Sekelompok aktivis pro demokrasi menggelar acara beberapa puisi karya Chairil Anwar di Jalan Guntur no. 49, Jakarta, Jumat (28/4/2017). Kegiatan ini diselenggarakan bertepatan dengan 68 tahun wafatnya penyair kenamaan Chairil Anwar.

Selain pembacaan puisi, acara yang dimulai sejak pukul 15:00 ini juga diselingi diskusi yang bertema Chairil dan Politik serta pergelaran musik. Kegiatan diskusi menghadirkan Suradian Wirodono, penulis buku Chairil dan Politik.

Koordinator kegiatan ini, Isti Nugroho menjelaskan, acara ini dilatarbelakangi wacana politik yang sudah mengarah pada perpecahan bangsa menyusul Pilkada DKI Jakarta yang baru saja usai. Menurut Isti kepada Nusantara.news, “Wacana politik belakangan ini, sebagaimana yang tampak dari cara media menyajikan berita, tampak semakin banal. Hampir tidak ada argumen yang mencerdaskan.”

“Alih-alih mendorong pendewasaan sikap politik, produksi wacana politik media cenderung dangkal,” tambahnya. Menurut Isti, melalui kegiatan apresiasi sastra ini, maka keringnya wacana politik dari ide-ide besar transformasi terkait Pilkada DKI yang lalu, dapat kembali disegarkan.

“Melalui apresiasi sastra kita berharap dapat mengasah nurani kemanusiaan kita. Jika politik itu kotor, maka puisi yang akan akan membersihkannya,” ujar aktivis yang pernah mendekam di penjara di masa pemerintahan Orde Baru itu.

Pentingnya relasi antara politik dan seni, menurut Isti, akan mendorong politisi menjadi lebih etis dan membuat seniman sadar politik. Ia pun mengutip salah satu pernyataan Presiden AS JF Kennedy, “Jika lebih banyak politisi tahu puisi, dan lebih banyak penyair tahu politik, saya yakin bahwa dunia akan menjadi tempat yang lebih baik untuk dihuni.”

Isti berharap kegiatan apresiasi sastra melalui pembacaan puisi Chairil Anwar dapat menginspirasi cara pandang kritis tanpa harus terjerembab ke dalam sikap nyinyir dan ekstrem. Menurut Isti Chairil Anwar memiliki spirit yang sama dengan aktivis demokrasi. “Chairil Anwar senantiasa mengkritisi kekuasaan politik dengan mengedepankan pemikiran alternatif dan solusi. Sosoknya yang tergambar dari sajak-sajaknya menginspirasi jiwa pemberontakan dan liar, namun romantik,” urainya.

Isti dan sejumlah aktivis pro demokrasi lainnya juga berencana untuk menyelenggarakan acara apresiasi seni secara berkala ke depan. Kegiatan ini, menurut Isti, untuk mengumandangkan puisi di ruang publik. “Ini untuk mengimbangi dominasi berita politik yang semakin banal,” ujar sosok yang bernama lengkap Bambang Isti Nugroho ini.

Kegiatan pembacaan beberapa puisi karya Chairil Anwar ini dihadiri oleh para aktivis pro demokrasi, kalangan profesional yang berlatar belakang aktivis dan artis. “Selain mereka yang berlatar belakang aktivis kegiatan ini juga dihadiri antara oleh Olivia Zalianty, Gladies dan Tessa Amalia,” katanya.

Dalam acara tersebut artis peran Olivia Zalianty membacakan salah satu puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Senja Dipelabuhan Kecil Buat Sri Ayati. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here