Ketua Badko HMI Jatim: Waspadai Agenda Lain Kunjungan King Salman

0
533

Nusantara.news, Surabaya – Kedatangan Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud ke Indonesia, Rabu (1/3/2017), menjadi suguhan pemberitaan akhir-akhir ini. Mulai dari jumlah rombongan, perlengkapan wah hingga agenda penguasa dua kota suci Umat Islam dunia ini. Aparatur negara pun tak kalah sibuk menyiapkan sambutan agar tak mengecewakan King Salman.

Pengamanan super ketat dipersiapkan dari bandara hingga pusat kota. Karpet merah dibentangkan sebagai tanda tamu kehormatan akan segera datang. Segala hal yang sebelumnya tidak terpikir tiba-tiba saja tersaji di depan mata. Pendek kata, semua sisi bersolek, dari mulai toilet hingga kursi kehormatan semua didesain dengan tingkat kemewahan seorang raja. Ini dilakukan memang demi menyambut kedatangan Raja Arab Saudi.

“Ada apa ini? Sambutan yang dberikan heboh. Mungkin setelah 47 tahun lawatan terakhir raja Arab Saudi ke Indonesia, barangkali menjadi penting bagi pejabat kita memberikan sambutan sedemikian mewah dan sedikit kesan berlebihan. Betapapun hebohnya, kita tetap mesti menyambut mereka, setidaknya sebagai saudara seiman,” kata Ketua badan Koordinasi (Badko) HMI Jawa Timur Darmawan Puteratama.

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang ini memang menyadari banyak sorotan terhadap kedatangan Raja Salman. Namun sejauh ini, kesan yang didapat hanya agenda pesta pora dibumbui omongan tentang investasi. Padahal ada satu kekhawatiran yang membuat Darmawan gelisah.

“Selain liburan ke Bali yang terkesan hanya agenda pesta pora dan foya-foya, ada satu hal yang menurut saya patut dibaca dari maksud kedatangan sang raja, yaitu, ekspansi paham Wahabi. Kita tak bisa memungkiri jika Arab Saudi adalah negara yang tak bisa dilepaskan peran dari penyebaran masif paham ini,” terangnya menilai paham yang disebutnya intoleran tersebut.

Menurut Darmawan, paska revolusi Iran pada 1979 yang banyak menginspirasi gerakan serupa di belahan dunia lain, Arab Saudi terus gencar melebarkan pengaruhnya untuk berebut simpati umat muslim di beberapa negara. Arab Spring fenomena yang membuat beberapa negara Islam di Timur Tengah terganggu stabilitasnya, bahkan disebut tak lepas dari peran Arab Saudi.

Arab Saudi dianggap banyak pihak menjadi sponsor dari berkecamuknya konflik yang menumpahkan darah tak kurang 12.000 orang tak berdosa di Yaman, Suriah dan Irak.
Arab Saudi memang negara berpenduduk muslim yang dinilai lebih otoritatif bicara mengenai sakralitas Islam. Sejarah kemunculan dan perkembangan Islam hingga bangunan maupun ritual suci ada dan dilakukan di sana.

“Negara ini punya segala sumber daya untuk melakukan dominasi politik melalui isu keagamaan. Legitimasi keagamaan seperti itulah yang membuat posisi Arab Saudi menjadi kuat di mata negara-negara berpenduduk muslim yang lain. Belum lagi kekuatan finansial yang diperoleh dari kilang minyak. Hal itu semakin mendukung kehendak agenda penyebaran paham Wahabi yang berkembang di sana,” ulas Darmawan.

Menyoal kepentingan ekonomi yang ada dalam salah satu agenda pembahasan pertemuan Raja Salman dengan Presiden Jokowi, disebutnya akan menjadi titik singgung dari persoalan Wahabi itu sendiri. Apakah sebuah kebetulan saja kedatangan Sang Raja ini bertepatan dengan singgungan yang sedang terjadi antara pemerintah dengan PT Freeport?

“Kalau kata teman saya waktu diskusi perihal ini, memang apa hubungannya Freeport dengan Arab Saudi, kan itu urusan Amerika? Justru di situlah titik temunya. Jauh hari sebelum rencana lawatan ke Indonesia, Raja Salman dan Donald Trump telah bersepakat untuk membantuk zona aman di Suriah dan Yaman. Selain bidang keamanan keduanya juga diberitakan saling bicara soal ekonomi,” bebernya.

Bukan rahasia umum lagi bila Amerika dan Arab Saudi memiliki hubungan yang malu-malu mesra. Menguatnya isu-isu populisme Islam disinyalir menjadi peluang masuk tepat untuk memanfaatkan kondisi Indonesia saat ini. “Bagaimana bisa demikian? Dunia tahu, bangsa ini sedang mengahadapi sentimen politik kegamaan yang hebat. Kejadian-kejadian di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta kemarin sudah cukup menjadi gambaranya,” terangnya.

Bantuan atau hibah atau investasi, penambahan kuota haji adalah salah satu poin pembahasan Arab Saudi ke Indonesia. Ada sekitar 5 juta per tahun warga Indonesia yang melakukan ibadah haji. “Bayangkan setiap angka itu setidaknya ada yang akan mempelajari ajaran-ajaran Wahabi. Rencana pertukaran ulama dalam urusan dakwah pun menjadi bagian pembahasan. Di titik itulah kita mesti mewaspadainya,” tutupnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here