Ketua HKTI: Bahaya, Impor Cabai Subversif dan Bisa Merusak Perekonomian Nasional

0
195

Nusantara.news, Surabaya – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim kecolongan. Diam-diam cabai asal Cina dan India merambah di sejumlah pasar tradisional. Terungkap, sebanyak 5-6 ton setiap minggu cabai negara tetangga itu dipasok oleh importir “hitam”. Serbuan cabai asing ini bisa terjadi lantaran pemerintah dinilai lengah dan tak bersungguh-sungguh menstabilkan harga cabai lokal yang sekarang ini terlampu “pedas”. Hal itu diungkapkan Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Yusuf Husni.

“Ini bukti pemerintah tidak hanya lengah. Jika saja pemerintah dan semua infrastrukturnya mau turun langsung dengan serius menyikapi persoalan petani cabai, maka tidak ada ulah importir nakal. Harusnya pemerintah sudah bisa membaca dan mampu mengantisipasi melonjaknya harga dengan menjaga keseimbangan antara produktivitas dengan tingkat konsumtif di masyarakat. Padahal, mereka ini kan digaji rakyat untuk bekerja,” ujar pria yang lebih akrab dipanggil Cak Ucup itu kepada Nusantara.news, Minggu (26/2/2017).

Cak Ucup yang juga anggota dan pengurus Partai Golkar Jawa Timur itu juga mengaku sangat geram terhadap importir yang sengaja memanfaatkan celah meroketnya harga cabai lokal di Jatim untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Ia juga menuding jika ulah importir itu merupakan upaya subversif yang bisa berdampak pada perekonomian nasional.

“Impor cabai dalam kondisi seperti ini sudah masuk dalam kategori subversif. Itu karena importir sudah menabrak aturan dengan memanfaatkan celah untuk merusak kedaulatan pangan yang bisa berdampak pada perekonomian nasional. Tentu ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Pemerintah harus bisa mengungkap siapa saja importir cabai itu dan sesegera mungkin mengambil langkah tegas dan bijak yang berorientasi pada kesejahteraan petani kita,” imbuhnya, dengan nada kesal.

Tak hanya pada komoditi cabai, Ia juga menyesalkan bahwa munculnya importir nakal juga terjadi pada komoditas pertanian lainnya. Untuk itu, Cak Ucup menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya melakukan pengawalan serta pengawasan khusus terhadap semua pihak-pihak terkait.

“Adanya indikasi monopoli atau kartel harga dan munculnya importir nakal di sektor pertanian karena mereka melihat peluang. Dan, karena terjadi berulang-ulang serta bukan hanya terjadi pada komoditi cabai, maka ini harus betul-betul menjadi perhatian khusus sekaligus pelajaran terakhir bagi pemerintah,” tegas pria jebolan Universitas Airlangga Surabaya tahun 1998 ini.

Seperti diketahui, harga cabai lokal di Jawa Timur selama tiga bulan terakhir ini tak kunjung turun, yakni mencapai Rp140 ribu per kilogram. Sementara, cabai impor yang dijual di pasaran sepertiga lebih murah. Cabai asal India dijual Rp60 ribu, sedang cabai asal India dijual Rp70 ribu. Karuan saja masyararakat lebih memilih membeli cabai impor ketimbang cabai lokal. Menyikapi persoalan tersebut, Cak Ucup mengaku prihatin dan tak bisa menyalahkan masyarakat.

“Wajar jika masyarakat lebih memilih harga yang lebih murah. Kendati demikian, karena ini demi kesejahteraan petani, HKTI Jatim siap membuka diri untuk bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemprov Jatim melalui Wakil Gubernur Jatim memanggil dan mengumpulkan staf beserta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim dan Kepala Seksi Penyidikan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya. Di hadapan sejumlah wartawan, diungkapkan bahwa sejumlah pasar tradisional di Jatim seperti Surabaya, Sidoarjo dan Tulungagung sudah diserbu cabai asal Cina dan India.

“Memang saat ini di pasar tradisional banyak beredar cabe kering impor dari Cina dan India. Itu menurut data di Disperindag. Kami (Disperindag Jatim) akan menelusuri dan menyelidikinya apakah benar seperti itu,” ungkap Kadisperindag Jatim Ardi Prasetiawan, di Kantor Gubernur Jatim, Jalan Pahlawan 110 Surabaya, Kamis (23/2/2017) lalu.

Namun sayang, saat ditanya wartawan pihak importir yang mendatangkan cabai baik dari Cina dan India, pihaknya belum bisa menyebutkan. Termasuk berapa jumlah importir yang biasa mendatangkan komoditas pertanian dari luar negeri dan berapa total tonase cabai yang sudah masuk di Jawa Timur, juga belum dijelaskan.

Sementara itu, Nusantara.news mendapat informasi yang bersumber di Chinnes Academy of Agricultural Sciences (CAAS),menyebutkan jika komoditi pertanian cabai di Cina memang pada tahun 2017 ini mengalami surplus karena hasil panennya meningkat secara signifikan, yakni mencapai 3 persen atau sebanyak 1,6 juta hektar. Semisal itu dikonsumsi sendiri oleh warganya (di Cina) tidak akan habis dalam satu tahun.

Jika mengamati kondisi perekonomian negara dan merasakan apa yang terjadi saat ini di Jawa Timur, tentu saja pemerintah tidak boleh menganganggap remeh. Dalam hal ini, pemerintah daerah seharusnya bisa lebih peka untuk melakukan tindakan represif dengan bekerja secara nyata demi mewujudkan kedaulatan pangan seperti yang termaktub dalam Nawacita presiden Joko Widodo. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here