Ketua MPR RI: Kemiskinan Bisa Picu Radikalisme

0
57

Nusantara.news, Surabaya – Keterbatasan akses ekonomi, pendidikan dan beberapa hak dasar manusia, bisa menjadi salah satu faktor pemicu paham radikalisme. Penilaian itu dilontarkan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan ketika menyampaikan Orasi Kebangsaan di depan ribuan civitas akademika Universitas Negeri Surabaya dan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jawa Timur, Jumat (28/7/2017).

Rasa tidak berdaya akibat terbatasnya akses kebutuhan dasar itu, terang Ketua Umum Partai Amanah Nasional (PAN) tersebut, menjadi ladang empuk berseminya paham radikal. Kondisi ini bisa terlihat dari pemicu gerakan radikal yang terjadi di berbagai belahan dunia.

“Ketika orang miskin, biasanya akses untuk mendapat pendidikan dan kesehatan juga terbatas. Mereka juga tidak punya modal untuk ditabung atau diinvestasikan sehingga hanya jadi penonton dalam laju perekonomian,” terangnya.

Ketika harapan itu mengecil, dampak pada kualitas hidup pun kian terasa. Karenanya, negara diharapkan hadir mengatasi persoalan ini. Sebab, selain berimbas pada diri sendiri juga dapat berpengaruh pada lingkungan.

“Saat mau sekolah tidak bisa, uang juga tidak punya, orang jadi tidak punya harapan. Ketika itu kemiskinan bisa jadi gerakan radikal,” terang Zulkifli.

Lebih lanjut, mantan Menteri Kehutanan RI itu menerangkan sebenarnya berdasarkan UUD 45, negara memiliki kewajiban untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum.

“Jadi, negara punya tanggung jawab untuk menjaga rakyatnya, kalau ada orang meninggal kelaparan, negara bisa dikatakan melanggar konstitusi,” kata dia.

Namun, Zulkifli juga mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu bersandar pada negara. Kendati sudah menyediakan fasilitas untuk pemenuhan hak-hak mendasar warganya yang dijamin dalam UUD 1945, inisiatif awal tetap ada pada warga negara. Seperti fasilitas pendidikan.

“Fasilitas pendidikan ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing masyarakat global,” bebernya.

“Jangan sampai kita kalah dengan pekerja dari Tiongkok, atau dari negara lainnya. Kita tidak boleh jadi ‘kuli’ di negeri sendiri,” tegasnya pula.

Zulkifli juga meminta generasi muda untuk selalu bersikap optimis dan tidak mudah patah semangat. Apalagi permasalahan bangsa saat ini cukup kompleks. “Mahasiswa harus tetap dalam posisinya sebagai agen perubahan yang kritis dan berani memberikan koreksi,” katanya.

Mahasiswa menjadi sasaran audiens karena dinilai akan menentukan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan prediksi 10-20 tahun ke depan ada sekitar 200 juta lebih usia produktif, tentu bakal menjadi masalah jika kemiskinan masih membelenggu negeri ini.

Tak hanya menjadi sekedar menjadi obyek ekspansi ekonomi asing, ketahanan ideologi bangsa Indonesia juga riskan dipengaruhi ideologi radikal manfaatkan ketidakberdayaan mereka. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here