Ketum PPP Instruksikan Warga Jatim Pilih Khofifah-Emil

0
74
"Ketum PPP, Romahurmuziy: Memilih calon gubernur dan calon wakil gubernur Jatim, keduanya harus yang dari NU"

Nusantara.news, Surabaya – Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy mengatakan, Provinsi Jawa Timur masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) nya terbesar. Untuk menentukan pilihan termasuk di Pilgub Jatim, 27 Juni 2018 mendatang tidak perlu susah, yakni pilih saja baik calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur yang kedua-duanya benar-benar dari NU.

“Provinsi Jatim ini, terbanyak masyarakatnya dari NU, sekitar 75 persen. Untuk itu memilih calon gubernur dan calon wakil gubernur harus yang dari NU,” tegas Romy -panggilan Romahurmuziy- dalam sambutan membuka Rakorwil DPW PPP dan Pemenangan Pilkada Jatim 2018, di Novotel Samator Surabaya, Jumat (16/3/2018), malam.

Masih kata Romy, di dalam Rakorwil DPW PPP Jatim, salah satunya juga kembali menegaskan sikap kalau PPP mendukung dan siap memenangkan Khofifah-Emil. Termasuk juga memenangkan pasangan kepala daerah dari PPP.

“Nanti (dalam Rakerwil) semua akan dibahas, termasuk untuk memenangkan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim. Mengapa PPP menjatuhkan pilihan kepada pasangan Khofifah-Emil? Karena PPP adalah parpol yang merupakan fusi dari NU. Kalau ada calon gubernur dan calon wakil gubernur yang sama-sama dari NU, PPP harus memilih yang kedua-duanya dari NU. Tidak boleh ada keragu-raguan, warga PPP tegas memilih pasangan yang kedua-duanya NU,” tegasnya disambut gemuruh tepuk tangan dan kalimat ‘Siap’ peserta yang hadir dari 38 kabupaten/kota di Jatim.

Jaket PPP Tanda Keseriusan Menangkan Khofifah-Emil

“Jaket PPP, menandai keseriusan PPP mendukung dan memenangkan pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim, 2018” (Foto: Tudji)

Romy menyebut dari berbagai hasil survei menunjukkan persaingan yang akan berlangsung di Pilgub Jatim, akan semakin ketat. Tetapi sebagai warga NU dari PPP tidak boleh bimbang, karena pilihannya jelas, memilih yang keduanya sama-sama dari NU. Dia meminta warga PPP harus memenangkan pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim.

Dirinya meminta, dalam pembahasan Rakerwil semua akan dijelaskan. Termasuk untuk menjelaskan kepada masyarakat di semua daerah di Jatim, pilihan PPP adalah Khofifah-Emil.

“Jatim ini ‘Republiknya NU’ jadi NU harus kuat dan menang di Pilgub Jatim, juga di pemilihan kepala daerah lainnya,” kata dia.

“Kalau Mbak Khofifah, tidak usah diragukan lagi karena NU-nya sudah 24 karat. Mas Emil adalah Ketua Pengurus Cabang NU Istimewa ketika menjadi mahasiswa di Jepang. Emil merupakan cucunya Kiai Dardak yang juga pendiri Masjid Agung di Trenggalek,” tambahnya.

Di tahun 2003, PPP merupakan partai politik satu-satunya di parlemen sebagai pengusung Khofifah yang maju sebagai calon gubernur. Khofifah adalah pemenang Pilgub Jatim, dia mengaku proses itu dirinya memahami karena selalu mengikuti dan mendampingi termasuk saat proses sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, karena takdir belum berpihak, pelantikan kemenangan belum berpihak. Tetapi, kemenangan itu saat telah tampak, Khofifah-Emil layak menjadi gubernur dan wakil gubernur.

Untuk Emil, disebutkan sebagai sosok mewakili pemilih millenial telah menunjukkan perjuangan untuk NU. Semua warga PPP di Jatim juga diminta tidak ada alasan untuk tidak mengantar kemenangan pasangan itu, sebagai gubernur dan wakil gubernur. Untuk mengawal dan mengantar kemenangan pasangan itu, dia menyebut semua elemen partai diperintahkan untuk turun semua lapisan masyarakat hingga paling bawah.

Menandai keseriusan PPP mendukung dan memenangkan pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim, Ketum DPP PPP didampingi Ketua DWP PPP Jatim Musyaffa’ Noer, dan Sekretaris DPW Didik memakaikan jaket hijau berlambang PPP kepada Khofifah.

“Jatim ini ‘Republiknya NU’ jadi NU harus kuat dan menang di Pilgub Jatim, juga di pemilihan kepala daerah lainnya” (Foto: Tudji)

Sementara, Khofifah mengaku perjalanan hidupnya mempunyai sejarah panjang dengan PPP. Dikatakan, cerita itu dimulai saat dirinya masuk ke dunia politik, hingga mengantarkan dirinuya menjadi menteri di Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, berlanjut di Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Saya masih ingat, tahun 1992 saat itu saya diajari kampanye oleh PPP. Saya juga diajari hingga menjadi pimpinan fraksi dan pimpinan komisi. Termasuk, saat berpidato pertama kali di Sidang MPR di akhir pemerintahan Presiden Soeharto, hingga sekarang seperti saat ini,” ujar Khofifah.

Dia menyebut, PPP menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yang tidak akan terlupakan. Kebersamaan dengan PPP juga tidak akan dilupakannya dalam proses perjalanan politik dalam hidupnya, dan akan terus dilakukan.

“Sampai hari ini, bagian kehidupan saya tidak putus dari PPP. Bahkan, gaji pensiun saya (sebagai DPR RI), adalah pensiun dari PPP,” terangnya, disambut riuh tepuk tangan.

Selain mengucapkan terimakasih atas keseriusan PPP mendukung dirinya dan Emil. Mantan Menteri Sosial itu berjanji akan terus berjuang membesarkan PPP, termasuk di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. Diharapkan kedekatan dan komunikasi dengan PPP tetap terjalin. Disamping dengan partai pengusung lainnya.

“Saya tidak akan lupa proses pengantaran PPP, baik legislatif dan etape berikutnya. Ada kalanya bangunan komunikasi itu bisa berjalan intensif. Nafas PPP terus mengalir pada diri saya,” urainya.

Khofifah yakin, seluruh partai pengusung juga akan mengantarkannya untuk memenangi Pilgub Jatim 2018.

“Saya ingin bersama PPP dan pengusung lainnya membawa kemuliaan Jatim. Dan, yang pasti sebagai Perempuan PPP, tidak akan pindah ke lain hati,” pungkasnya.

Untuk diketahui, pasangan Khofifah-Emil ini maju di Pilgub Jatim 2018 diusung oleh gabungan partai politik, yakni Partai Demokrat, NasDem, Golkar, PAN, PPP, PKPI. Pasangan ini, dari hasil Rapat Pleno KPU Jatim, mendapatkan nomor urut satu. Dan, pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno mendapat nomor urut dua.

Profil dan Perjalanan Karir Khofifah

“Sampai hari ini, bagian kehidupan saya tidak putus dari PPP. Bahkan, gaji pensiun saya (sebagai DPR RI), adalah pensiun dari PPP”

Nama : Dra. Khofifah Indar Parawansa
Profesi : Politikus
Tempat/Tgl Lahir: Surabaya,19 Mei 1965

Karir : Ketua Umum PP Muslimat NU (2000-2005)

Anggota Dewan Pertimbangan DPP PKB (2000-2002)
Anggota Dewan Syuro DPP PKB (2000-2002)
Wakil Sekretaris Dewan Syuro PKB (2002-2007)
Menteri Sosial Kabinet Kerja (2014-2019)

Aktivis Perempuan Nahdlatul Ulama (NU). Terjun ke dunia politik dari PPP, kemudian mengantarkan dirinya menjadi anggota DPR RI. Sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan di Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Serta Menteri Sosial di Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Perjalanan pendidikannya diselesaikan di Surabaya. Pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Persatuan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur. Pendidikan sarjana diselesaikan di dua jurusan berbeda dan di perguruan tinggi berlainan. Di Jurusan Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Kemudian, jurusan Ilmu Komunikasi dan Agama di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah, Surabaya.

Tercatat cukup muda saat terjun ke dunia politik, yakni saat berusia 27 tahun dan menjadi anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), tahun 1992-1997. Di Pemilu 1997, Khofifah terpilih kembali menjadi anggota DPR RI.

Kemudian, di Pemilu 1999, saat pertama kali era reformasi berjalan. Khofifah pindah ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), bentukan KH Abdurrahman Wahid. Kemudian, Khofifah terpilih kembali menjadi anggota DPR RI. Tak lama menjadi wakil rakyat di Senayan, tahun 1999 Khofifah diangkat menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan di Kabinet Persatuan Indonesia di Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Setelah pemerintahan berpindah dari Abdurrahman Wahid ke Presiden Megawati, Khofifah tidak masuk ke kabinet. Dia memilih aktif di berbagai kegiatan kemasyarakatan dan perempuan. Di Muslimat NU, Khofifah terpilih menjadi ketua di periode 2000-2005, kemudian berlanjut sampai sekarang.

Kiprahnya yang semakin moncer di organisasi sayap NU, memunculkan dorongan kuat dari masyarakat untuk maju di Pilgub Jatim, dua kali dia ikuti 2008 dan 2013. Namun, pertarungan melawan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf tidak membuahkan hasil.

Di Pilpres 2014, Khofifah diminta menjadi salah satu juru bicara politik pasangan Capres dan Cawapres pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Sukses kemenangan Jokowi-JK, mengantar dirinya menjadi menteri sosial di kabinet Kerja 2014-2019.

Riwayat Pendidikan

SD Taquma, Surabaya (1972-1978)
SMP Khodijah, Surabaya (1978-1981)
SMA Khodijah, Surabaya (1981-1984)
S1, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya (1984-1991)
S1, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah, Surabaya (1984-1989)
S 2, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Jakarta (1993-1997)

Karir

Ketua Umum OSIS SMA Khadijah ( 1983 )
Ketua Umum Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU)
Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Surabaya ( 1986 )
Dosen Universitas Wijaya Putra, Surabaya ( 1991 – 1992 )
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Taruna, Surabaya ( 1989 )
Pimpinan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPR RI (1992-1997)
Pimpinan Komisi VIII DPR RI (1995-1997)
Anggota Komisi II DPR RI (1997-1998)
Wakil Ketua DPR RI (1999)
Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa MPR RI (1999)
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (1999-2001)
Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (1999-2001)
Ketua Komisi VII DPR RI (2004-2006)
Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa MPR RI (2004- 2006)
Anggota Komisi VII DPR RI (2006)
Ketua Partai PKB (1998-2000)
Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (2000-2005)
Anggota Dewan Pertimbangan DPP PKB (2000-2002)
Anggota Dewan Syuro DPP PKB (2000-2002)
Wakil Sekretaris Dewan Syuro PKB (2002-2007)
Menteri Sosial Kabinet Kerja (2014-2019)

Keluarga

Suami : Ir. H. Indar Parawansa, M.Si
Anak : 1. FatimahSang Mannagali
2. Jalaluddin Mannagali
3. Yusuf Mannagali
4. Ali Mannagali

Emil Elistianto Dardak

Emil membeber kiat sukses untuk kaum millenial. Salah satunya dengan program “Millenial Job Center” yang tertuang di Bhakti ke-2 dari 9 program Nawa Bhakti Satya

Emil Elistianto Dardak, lahir di Jakarta, 20 Mei 1984. Adalah cucu H. Mochamad Dardak, salah satu Kiai Nahdlatul Ulama (NU). Ayahnya bernama Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum, periode 2010-2014. Ibunya Sri Widayati, dari garis sang ibu mengalir darah Letjen (Anumerta) Wiloejo Poespojudo, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) pertama di era Presiden Soekarno.

Menikah dengan Arumi Bachsin, dan dikaruniai anak Lakeisha Ariestia Dardak, dan Alkeinan Mahsyir Putro Dardak.

Dikenal sebagai politikus muda, sebelumnya sebagai penyanyi dan juga eksekutif muda Indonesia yang kemudian menjabat sebagai Bupati Trenggalek, 2016 berpasangan dengan Wakil Bupati, Mochamad Nur Arifin.

Pendidikan dan Karir

Tahun 2001, di usia 17 tahun, Emil memperoleh gelar diploma dari Melbourne Institute of Business and Technology. Kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Universitas New South Wales, Australia. Dan gelar S2 dan S3 diselesaikan di Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang. Menjadi peraih gelar Doktor Ekonomi Pembangunan termuda di Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University, di usia 22 tahun.

Tahun 2001-2003, Emil menjadi World Bank Officer di Jakarta, dan Media Analysis Consultant di Ogilvy. Puncak karier Emil dicapai saat didaulat menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).

Karier Politik

Pada 27 Juli 2015, Emil bersama pasangannya Mochamad Nur Arifin mendaftarkan diri menjadi sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2015. Pasangan itu dicalonkan oleh koalisi tujuh partai politik, yakni Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Golkar, Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Hati Nurani Rakyat, dan Partai Persatuan Pembangunan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here