Keturunan Maluku di Belanda Umumnya Memilih Partai Kiri

0
721

Nusantara.news, Amsterdam – Kampung Maluku di Belanda menyebar di sejumlah tempat. Satu di antaranya di Kota Assen, tempat bermukimnya sekitar 200 kepala keluarga asal Maluku.

Assen memang pemukiman pertama yang dibangun oleh pemerintah Belanda untuk para simpatisan separatis Republik Maluku Selatan (RMS). Selain Assen ada juga Bovensmilde yang terletak 6 Km di pinggiran Kota Assen, ada juga yang tinggal di Groningen.

Sam Pormes (67), sebagai generasi kedua asal Maluku yang pernah menjadi anggota Majelis Tinggi Belanda, masih tinggal di Assen meskipun anak-anaknya sudah menyebar bermukim di luar kampung Maluku.

Sam

Sam Pormes tetap mengajari cucu kesayangan dengan Bahasa Indonesia

Hari itu, Rabu (15/3) memang bertepatan dengan hari pemungutan suara nasional. Sam yang usianya mulai menua, berjalan kaki sekitar 200 meter ke tempat pemungutan suara. Di Belanda tidak ada libur di hari pemilihan, namun warga yang pulang kantor sore masih boleh memilih. Jadi antrian tidak panjang seperti pemilihan di Indonesia.

“Saya pilih GroesLinks atau Hijau Kiri karena memang saya memang anggota partai itu dan ikut menyebarkan selebaran partai,” jelas Sam usai mencoblos.

Warga keturunan Maluku memang pada umumnya memilih partai politik beraliran kiri seperti GroesLink Partij, Partai Buruh atau Partai Sosialis. Hal ini tentu saja logis, karena parpol-parpol sayap kiri umumnya menjunjung tinggi prinsip persamaan rasial, dan oleh karena itu, selalu berseberangan dengan parpol sayap kanan. Tiga mantan anggota Parlemen keturunan Maluku, yaitu John Lilipaly, Usman Santi dan Grace Tanamal berasal dari partai-partai sayap kiri.

“Itu Usman Santi beragama Islam, tapi Gereja Injili Maluku di sini dulu sampai membuat seruan agar jemaat mendukung Usman karena dia warga kita,” kenang Sam.

Kampung Maluku

Ini dia perkampungan Maluku di Assen

Sayangnya, pemilu kali ini tidak ada warga keturunan Maluku yang mencalonkan diri menjadi anggota parlemen. “Saya tidak tahu kenapa anak-anak muda tidak terlalu tertarik lagi pada politik,” sesal Sam.

Pemilu kali ini pun tampaknya suara keturunan Maluku tetap mendukung partai-partai berhaluan sosialis. “Hampir semua, saya kira, mereka memilih GroesLink Partij, Partai Sosialis atau Partai Buruh,” jelas Piet Anthony, kolega Sam yang tinggal di Groningen dan sedang berkunjung ke Assen.

Alasannya, lanjut Piet, karena partai-partai kiri mendukung persamaan. “Saya kira para pendatang Turki dan Maroko juga memilih partai aliran kiri,” tandasnya.

Padahal kalau di Indonesia kiri itu identik dengan Partai Komunis Indonesia yang “hantunya” tetap dipelihara hingga sekarang.

“Di sini tidak ada masalah dengan partai kiri dan kita pilih karena mereka paling dekat dengan aspirasi kami. Dulu orang tua kami memilih Kristen konservatif tapi kami beralih,” timpal Sam Pormes yang merupakan generasi keturunan Maluku kedua di Belanda.

Andi

Andy Moniharapon yang enggan menjadi Warga Negara Belanda

Tapi tidak semua warga keturunan Maluku memiliki hak pilih di Belanda, karena itu terkait dengan kebijakan pemerintahan Belanda di masa lalu yang memberikan peluang warga Maluku memelihara cita-cita berdirinya negara RMS.

Selain sudah ada berkewarganegaraan Belanda dan memiliki hak pilih, ada juga warga Maluku yang cukup memiliki facilitaten paspor yang bisa digunakan selayaknya paspor, namun tidak memiliki hak dipilih dan memilih dalam pemilu nasional.

Identitas Maluku

Contoh pemegang facilitaten paspor  sebut saja Andy Moniharapon yang sudah merasa cukup dengan status itu, meskipun kapan saja dia berhak mengajukan diri sebagai warga negara Belanda. “Ya, untuk apa? Saya sudah seperti warga negara lainnya, bisa melancong kemana-mana, termasuk Indonesia. Tak ada maslah sama sekali,” kilah Andy.

Alasan memegang facilitaten paspor , tutur Andy, bukan karena RMS. “Saya punya prinsip menentang kolonialisme, saya tidak mau jadi warga negara Belanda,” tegas Andy.

Andy tidak memungkiri, RMS adalah cikal bakal kehadiran mereka di Belanda. Namun seiring berjalannya waktu, gagasan mendirikan republik sendiri mulai mereda di kalangan warga keturunan Maluku.

Indikatornya, timpal Sam Pormes, kalau dulu unjuk rasa RMS di Belanda bisa dihadiri sekitar 6.000-an orang, sekarang paling banyak 1.000-an orang. “Masih ada tapi menurun terus, kalau dulu simpatisan RMS bisa 90 persen keturunan Maluku sekarang paling hanya 20 persen,” ujarnya.

Tapi yang jelas, lanjut Sam, bukan berarti mereka lupa kampung halaman. “Kalau anak muda ditanya orang apa, mereka jawab orang Maluku dan bukan orang Belanda,” jelas Sam. “Sesama Maluku mereka bertanya dari kampung mana?”

Sejauh ini identitas sebagai orang Maluku tetap terjaga hingga generasi ketiga dan kelak akan diteruskan generasi keempat. “Anak saya sudah master dan kalau ditanya dia tahu kampung asal keluarganya, dari Ihamahu di Saparua. Kalau Pak Sam dari Pulau Serua,” tambah Piet.

“Itu namanya integrasi dengan mempertahankan identitas,” celutuk Sam yang tetap mempertahankan Bahasa Indonesia saat bermain-main dengan cucunya.

Karena memang, sesungguhnya mereka diaspora Indonesia yang keturunannya masih boleh berwarga negara Indonesia, karena kita menganut garis keturunan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here