KH Afifuddin Muhajir: Politisasi Agama Haram Hukumnya

0
109

Nusantara.news, Bondowoso – Dua tahun ke depan, kondisi politik Indonesia dan Jawa Timur khususnya bakal memanas dengan adanya dua agenda politik berturut-turut. Yakni pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak jilid III pada 27 Juni 2018 serta Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif setahun berselang. Sebagai negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia, isu agama bakal jadi bahan jualan demi kepentingan politik praktis.

Tak heran, beberapa ulama khawatir dua tahun ke depan ada pihak yang menggunakan agama untuk kepentingan politik. “Itu bisa digolongkan sebagai tindakan politisasi agama. Haram hukumnya kalau agama hanya digunakan sesempit itu,” kata mantan Khatib Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir dalam sebuah acara bedah buku di Bondowoso, Senin (25/12/2017).

Namun langkah itu, tambah ulama ahli fiqif tersebut, harus dibedakan maksudnya dalam mengawal politik dengan agama. “Kalau itu, wajib hukumnya. Jika politik tidak dikawal dengan agama, pelakunya akan menghalalkan segala cara dalam berpolitik. Ini yang bisa berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” terangnya.

Substansi itu yang coba kembali diingatkan figur yang kini aktivitasnya juga sibuk sebagai wakil pengasuh Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Menurut dia, sebagai negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia, ada peran yang harus dijalankan pesantren dan organisasi Islam di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU). Yakni sebagai benteng paham Ahlussunnah wal Jamaah, pengawal moral dan penyangga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagian besar pemikiran KH Afifuddin Muhajir dituangkan dalam buku “Fiqih Tata Negara” yang dibedah di depan peserta seminar. Karenanya, dia menghimbau seluruh elemen bangsa untuk tidak berputus asa memperbaiki Indonesia. Kondisi perpolitikan di Tanah Air dia ibaratkan dalam masa transisi dari idealis ke realitas. “Tapi kita tidak boleh pasrah dengan realitas. Tetap harus berusaha melakukan perubahan-perubahan menuju perbaikan,” cetusnya.

Pemahaman itu yang melatari sikap KH Afifuddin Muhajir terhadap khilafah yang sempat meramaikan isu nasional beberapa waktu lalu. Indonesia disebutnya berpotensi menuju negara khilafah secara substansial. Bukan sekedar wadah. Alasannya, pemimpin negara pada hakikatnya pelanjut tugas kenabian sesuai konsep Islam. “Tugas pemimpin negara dalam Islam itu ada dua. Yakni menjaga agama dan mengurus dunia. Kalau itu dijalankan, intinya sudah khilafah,” tegasnya.

Ini yang membedakan dengan konsep khilafah yang dipahami Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), salah satu ormas Islam yang akhirnya dibekukan pemerintah. Sama-sama mengusung konsep khilafah namun konsep yang diperjuangkan HTI menginginkan umat Islam di seluruh dunia dipimpin seorang pemimpin.

Menurut dia, negara itu bukan tujuan, melainkan hanya sarana untuk mencapai tujuan. Tujuan bernegara dalam Islam itu sama dengan tujuan syariat, yakni terwujudnya kemaslahatan manusia secara lahir batin dan dunia akhirat. “Karena bernegara hanya sarana, tidak ada acuan pasti dalam Alquran maupun hadis mengenai bentuk negara ini. Dengan demikian, maka umat Islam bisa melakukan ijtihad mengenai bentuk negara sesuai dengan kondisi,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa sejak Indonesia merdeka muncul kelompok dalam memandang negara, yakni kelompok Islam dan kelompok sekuler. Keduanya kemudian menyepakati Pancasila sebagai dasar negara. “Kelompok sekuler mau dengan Pancasila karena dinilai bukan agama, sementara kelompok Islam menerima karena Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, bahkan dinilai sesuai dengan Islam. Bahkan, ada yang menilai bahwa Pancasila itu sendiri Islam,” tegasnya.

Dengan paparan itu, setidaknya ada pesan kuat yang tersirat dari KH Afifuddin Muhajir pada konsep negara kesatuan. Bahwa pemimpin terpilih nanti jangan sampai meninggalkan ulama dalam membangun kebijakan. Apalagi sampai menjadi kepanjangan tangan kepentingan asing yang memang sejak lama tidak menginginkan Indonesia menjadi kuat karena ingin menguasai sumber daya secara tidak langsung.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here