KH Hasyim Muzadi, dari Jawa Timur untuk Indonesia

0
189
Tokoh agama K.H. Hasyim Muzadi menjawab pertanyaan wartawan usai menemui pimnpinan KPK di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (7/6). Mantan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU) tersebut meminta KPK melakukan investigasi dalam penggunaan uang di pemilukada di sejumlah daerah, khususnya Pemilukada Jawa Timur. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/Koz/pd/13.

Nusantara.news, Surabaya – Ahmad Hasyim Muzadi sudah tiada. Indonesia berduka. Mantan Ketua Umum PBNU dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam (Malang dan Depok) ini, akan dikenang sebagai sosok yang telah berbuat banyak untuk Indonesia.

Suami Hj. Muthomimah ini nampaknya memang terlahir untuk mengabdi di Jawa Timur. Mengawali kegiatan organisasinya dengan berpartisipasi aktif dalam organisasi kepemudaan Gerakan Pemuda Ansor (GP-Ansor) dan organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), hingga akhirnya dia dipercaya menjadi pemimpin kedua organisasi tersebut. Dua organisasi itu kemudian menjadi modal kuat bagi Hasyim terus berkiprah di NU.

Nama Hasyim mencuat ke publik setelah tahun 1992, terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur. Selanjutnya, karirnya meroket. Tahun 1999, Hasyim terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-30 di Lirboyo, Kediri.

Setelah itu, dalam Muktamar NU ke-31 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Hasyim kembali terpilih sebagai Ketua Umum (PBNU) setelah berhasil mengungguli para pesaingnya, termasuk KH Abdurrahman Wahid.

Sesuai ketentuan NU, posisi Ketua Umum Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU hanya boleh dijabat selama dua periode berturut-turut. Sehingga dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar, April 2010, dia digantikan Dr. KH Said Aqil Siradj, MA. Sementara Hasyim Muzadi terpilih menjabat Wakil Rais Aam PBNU (2010-2015), bersama Dr. KH A. Musthofa Bisri mendampingi Ketua Rais Aam Dr. KH. M. A. Sahal Mahfudh.

Di bidang politik, karir putra pasangan H. Muzadi dan Hj. Rumyati ini, tidak seterang di NU. Hasyim, yang bergabung di Partai Persatuan Pembangunan, hanya pernah menjadi anggota DPRD II Malang dan DPRD I Jawa Timur dari PPP. Saat pemilihan presiden tahun 2004, Hasyim Muzadi mencoba peruntungan yang lebih tinggi dengan menjadi Calon Wakil Presiden mendampingi Capres Megawati Soekarnoputri, namun langkahnya gagal menuai kemenangan.

Sebagai ulama, sosok Hasyim dikenal nasionalis dan pluralis. Apa saja yang dianggap perlu bagi agama, Indonesia, dan NU, Hasyim ikhlas melakukan. Tamu-tamu yang datang menyambanginya ketika sakit di akhir hayatnya menunjukkan betapa ulama kelahiran Desa Bangilan, Tuban, Selasa 8 Agustus 1944 ini, sudah banyak berbuat untuk negaranya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here