KH Said Agil Ingatkan Khatib tak Umbar Caci Maki

0
86

Nusantara.news, Surabaya – Para khatib yang memberikan ceramah di masjid saat shalat Jumat agar memberikan isi materi yang sejuk, tidak membakar dan menyulut emosional. “Ini demi menjaga terpeliharanya kerukunan, kesejukan, keharmonisan dan keutuhan NKRI,” tegas KH Said Agil Siradj seusai menjadi pembicara di Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Aliansi Kebangsaan Arek Suroboyo di Golden City Surabaya, Kamis (18/5/2017).

Dikatakannya, hal itu juga menjadi tugas Dewan Masjid, untuk lebih selektif menjaga materi pemberi khutbah agar tetap sejuk. Tidak mengumbar caci maki di atas mimbar. Khutbah adalah untuk mengingatkan masyarakat yang berjamaah, agar meningkatkan keimanan dan takwa, berakhlak serta bisa berbuat lebih baik.

“Jadi bukan caci maki, kalau itu dilakukan saat Khutbah Jumat, tidak sah ibadah shalat Jumatnya,” ujar Agil.

Agil menambahkan, Islam tidak mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan kekerasan. Perilaku umat Islam telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, selalu mengedepankan dialog dan bermusyawarah dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.

“Radikalisme, kekerasan apalagi teror, demi Allah itu bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam. Tindakan kekerasan justru mengkhianati agama Islam, mengkhianati Nabi Muhammad, mengkhianati Al Quran,” tegasnya.

Jadi, lanjut Agil, untuk menjaga ukuwah Islamiyah, harus mengedepankan kebersamaan. Menghargai nilai-nilai kemanusiaan, seperti yang tertuang di dalam Pancasila. Dengan kembali kepada Pancasila, semua elemen bangsa harus mengedepankan kerukunan dan menjunjung tinggi kebersamaan.

Agil  juga menyampaikan, sikap NU tegas akan selalu menjaga dan mengawal keutuhan dan keselamatan NKRI. Dengan menjunjung tinggi dan mengedepankan nilai-nilai keberagaman. Indonesia, terdiri dari berbagai suku dan etnis adalah sebuah rahmad yang harus selalu dijaga. Sesama warga negara adalah bersaudara. “Itu seperti yang telah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, kita harus menjaga kebersamaan, kita adalah saudara,” tambahnya.

Lanjut Said Agil, semua elemen anak bangsa harus menyadari dan kembali memahami sejarah berdirinya NKRI. Soal itu, katanya, semua elemen ikut berjuang, ada yang dari nasionalis, dari elemen agama juga beragam. Tidak boleh ada yang saling klaim.

Di sesi tanya jawab, sejumlah pertanyaan juga mengemuka soal kekhawatiran keretakan kerukunan antar umat. Penanya dari Tionghoa juga sempat menyuarakan kekuatiran bahwa minoritas dibayangi ketakutan, menjadi sasaran amuk. Menjawab itu, Said Agil dengan bijak meminta kaum konglomerat tidak mementingkan diri sendiri, tetapi juga memperhatikan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Hubungan antar sesama juga harus dijaga, untuk menjaga keharmonisan. Masyarakat yang miskin, juga disarankan untuk tidak muda mencaci, sebaliknya diajak untuk selalu mensyukuri nikmat yang diberikan.

“Misalnya begini, yang miskin harus bersyukur, karena bisa bekerja di perusahaan itu, yang milik konglomerat, itu semua harus kita jaga,” urainya.

Sementara, Koordinator Aliansi Kebangsaan Arek Suroboyo, Yuska Harimurti menegaskan pelaksanaan acara tersebut menyebut, bahwa untuk mencintai Indonesia tidak perlu takut.

“Ini adalah acara untuk mencari pencerahan dari para kiai. Seperti yang disampaikan oleh KH Said Agil tadi, untuk mencintai Indonesia itu tidak perlu takut. Kata kiai itu harus berpolitik dengan harapan. Seperti yang disampaikan oleh KH Said, ini akan memberikan harapan bahwa untuk mencintai Indonesia tidak perlu takut. Harapannya masyarakat juga untuk peduli dengan sesama, tanpa melihat agama, ras dan latar belakang, itu untuk menuju Indonesia lebih baik,” kata Yuska usai acara dialog.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here