Khofifah, Arek Suroboyo yang Tak Takut ‘Ular’ dan ‘Harimau’

0
357

Nusantara.news, Surabaya – Khofifah Indar Parawansa, perempuan Arek Suroboyo ini, namanya terus melambung. Pengalaman berorganisasi sejak kecil hingga perguruan tinggi, membuat jiwanya semakin matang, meski kadang angin kencang menerpanya. Dikutip dari tulisan Rinjani Ratnasari, anak pasangan H Achmad Ra’I dan Hj Rochmah yang lahir di kampung lawas Jemur Surabaya ini, memiliki perilaku tomboy, pemberani dan sedikit agak ugal-ugalan.

Khofifah Indar Parawansa, Lahir di Surabaya 19 Mei 1965. Masa kecilnya tidak ada yang sitimewa dibanding dengan teman-teman sebayanya di kampung tempat tinggalnya. Dengan jiwa pemberaninya, sepulang sekolah kerap kali bersama teman-temannya, termasuk juga teman laki-laki, mencebur ke Sungai Jemur, mencari kerang.

“Dulu sungai di Jemur Surabaya masih bersih. Saya dan teman-teman mencari kerang, sekarang kerang mahal,” kata Khofifah dalam perbincangannya.

Melihat anaknya yang tomboy, kedua orang tuanya tidak melarang kemana pun dia bermain. Hanya saja, setelah sore hari ia harus pulang, mandi dan kemudian pergi mengaji yang menjadi kegiatan rutinnya. Suasana kampung tempat tinggalnya sangat mendukung untuk bisa menjalankan ibadah, karena daerah itu memang basis komunitas santri itu.

Kelas empat sekolah dasar, bersama ibunya, ia selalu diajak ikut berkumpul dengan ibu-ibu mengikuti kegiatan pengajian. Bahkan, gadis kecil itu kemudian dipercaya menjabat sebagai bendahara. Dari ibu yang melahirkannya itulah dia mendapat banyak pembelajaran, termasuk mengelola keuangan perkumpulan. Menggunakan uang hanya untuk keperluan yang penting dan bermanfaat, seperti membeli tikar, piring, sendok, gelas dan keperluan lain.

“Ibu saya mengajari saya untuk mengelola keuangan, membelikan keperluan yang dibutuhkan,” ucap Khofifah.

Dalam catatan itu dikisahkan, pada tahun 1970-an masih jarang orang yang memiliki televisi di rumahnya. Satu-satunya yang memiliki televisi adalah tetangganya, dosen Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel yang sekarang bernama Universitas Islam Negeri (UIN) Surabaya. Hampir setiap hari Khofifah pada pukul 21.00 WIb datang ke rumah tersebuit. Menonton tayangan Dunia Dalam Berita yang diputar Televisi Republik Indonesia (TVRI) Stasiun Jakarta.

“Dan, penyiar favorit saya adalah Tuti Adhitama, pembaca berita,” akunya dengan nada kagum.

Kekaguman itu dan terus bergelayut di dalam hatinya hingga sekarang, saat itu dia mengaku ingin seperti Tuti yang menurutnya mengetahui banyak tentang  apa saja yang terjadi di dunia.

“Waktu, itu yang ada dalam pikiran saya Tuti itu pintar sekali, tahu segala hal peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia,” terangnya.

Menginjak bangku kuliah dan menjadi mahasiswa, Khofifah dikenal sebagai perempuan pemberani dan punya hobi yang amat langka untuk seorang perempuan saat itu: naik motor. Bahkan, tidak kalah dengan laki-laki, dia suka melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tak heran, warga di kampungnya menjuluki dirinya ugal-ugalan alias suka ngebut.

“Soalnya, saya ingin menjadi pembalap,” katanya sambil tertawa kecil.

Ketertarikan dan ingin menjadi pembalap, dibuktikan dengan kerap mendatangi seorang pembalap sungguhan. Hampir setiap saat dirinya melihat aktifitas pembalap dan kendaraan yang digunakan. Namun, niatnya yang menggebu ingin menjadi pembalap batal, setelah mengetahui kalau mobil bekas balapan itu dibuang begitu saja setelah dipakai trek-trek’an (balapan-red).

“Kalau saya jadi pembalap, pakai uangnya siapa?,” tegasnya.

Pembawaan tomboy nya kembali muncul setelah dia bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala) di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, tempatnya menimba ilmu. Di organisasi itu, hampir setiap ada kesempatan, apalagi jika liburan kampus, ia bisa dibillang telah menjelajahi semua gunung di Jawa Timur.  Gunung Klotok, Kelud dan Semeru pun ditaklukkannya. Dengan hobinya itu, Khofifah mengaku punya pengalaman menarik, dan terkesan sampai sekarang tak bisa dilupakan. Apa itu?

Saat mendaki Gunung Semeru dia berusaha memotong kompas alias lewat jalur pendakian yang tidak umum. Saat itu, di suatu tempat dia bertemu dengan ‘makhluk asing’ bersosok tinggi, putih dengan rambut panjang sebahu, tidak memakai baju hanya bagian kemaluan yang ditutupi plastik. Dengan tangan kirinya menggenggam celurit.

“Saya gemetaran, sangat takut. Untung, rombongan kelompok saya segera tiba,” katanya.

Di tengah rute pendakian tersebut dia juga mengaku pernah bertemu harimau yang berjalan bersama anak-anaknya. Khofifah sempat terdiam, kemudian pelan-pelan melangkah mundur menjauhi binatang buas itu. Sampai akhirnya dia bersama rombongannya bermalam di Ranu Kumbolo, sekitar danau di Gunung Semeru yang banyak menyimpan misteri. Dan, di tempat itu Khofifah tidur di sebuah gubuk.

Sebelumnya dia telah mendapat pesan, kalau tiba waktu subuh pintu gubung tidak boleh dibuka meski terdengar desisan atau auman.

“Itu harimau atau ular. Benar saja, saat subuh saya mendengar suara itu. Mereka (binatang buas itu-red) mendekat karena mengendus bau manusia, tapi ndak apa-apa, mereka menyingkir saat matahari terbit,” jelasnya.

Pengalamannya sering bertemu harimau atau ular saat berada di hutan belantara mebuat mentalnya semakin tertempa, kuat dan pemberani. Menceburkan diri di dunia politik, wanita itu juga mengaku tak gentar bertemu dengan ‘ular’ atau ‘harimau’.

“Saya sudah biasa dengan manuver-manuver politik. Wong saya sering ketemu macan kok,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Saat masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unair dia dipercaya menjadi Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Surabaya. Khofifah tercatat menjadi perempuan pertama yang memimpin PMII.

Di sela kesibukannya, perempuan ini juga rajin menghadiri diskusi kebangsaan yang diisi oleh KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Waktu itu saya tidak tahu sosok Gur Dur itu siapa, yang jelas saya kagum dan menilai dia pintar,” katanya.

Garis tangan perempuan cerdas dan pemberani ini mengantarkan jalan hidupnya ke kancah politik. Pada 1992 dia menjadi anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) partai pertama yang diikuti. Ketua PPP Jawa Timur saat itu, Sulaiman Fadli dinilai oleh Khofifah sangat berjasa mengangkat karier politiknya hingga ke tingkat nasional. Politik, telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Dan, yang juga tidak bisa dia lupakan adalah peran isteri Sulaiman, diakui menjadi guru kepribadiannya. Maklum, kendati sudah menjadi calon anggota parlemen di Senayan Jakarta, Khofifah masih kurang pandai berdadan.

“Saya diberi tahu kalau sudah menjadi anggota dewan, pakai sandal yang haknya minimal lima sentimeter. Juga, warna baju minimal dua macam,” kata Khofifah mengenang ucapan guru pembimbingnya tersebut.

Kenapa haknya harus tinggi? “Agar jalannya bisa pelan dan diatur. Namun, saya tetap saja jalan cepat karena kebiasaan mendaki gunung,” akunya sambil senyum.

Gebrakan Politik Khofifah

Nama Khofifah terus menyita perhatian sorot lampu politik di tanah air. Itu setelah sosoknya tampil membacakan pidato pernyataan sikap dari Fraksi Persatuan Pembangunan (F-PP), di dalam Sidang Umum MPR 1998, silam.

Tentu saja, itu bukan tanpa alasan. Lantaran, pidato politisi Arek Jemur Surabaya itu berisi kritikan pertama kali yang berkumandang di era Pemerintahan Orde Baru (Orba) di ajang lembaga kenegaraan formal.

Tak pelak, hampir semua mata anggota MPR yang saat itu didominasi Partai Golkar, Fraksi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (F-ABRI) dan Fraksi Utusan Golongan (F-UG), dibuat terperanjat dengan intonasi suara dan pidato yang menohok jantung para penguasa Orde Baru.

Bukan hanya kritik, perempuan berlatar belakang ktivis organisasi juga menyampaikan berbagai kekurangan dan kecurangan Pemilu 1997. Saat itu Khofifah dengan lantang melengkapi pidatonya dengan berbagai ide tentang perlunya Indonesia menempuh jalan demokrasi.

Keberanian yang didukung dengan kecerdasannya dalam menghadirkan kritik terhadap pelaksanaan pemilu rezim Orba yang tengah berkuasa, menjadikan sosoknya sebagai politikus yang disegani di tanah air. Pada 1992, ibu dari empat anak itu kemudian terpilih menjadi angota DPR RI dari PPP untuk periode 1992-1998. Namun, seiring perubahan peta politik pasca lengsernya rezim Orde Baru membuat dirinya keluar dari PPP dan hijrah ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada 1998-2000, politikus perempuan ini kembali duduk di kursi DPR sebagai wakil dari PKB. Prestasi yang moncer membuat namanya melesat hingga menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Pemerintahan Gus Dur.

Pada 2013, mantan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) periode 1999-2001 ini, kembali muncul dalam kancah politik nasional, saat dirinya maju di pemilihan Gubernur Jawa Timur 2014-2019.

Kini, nama Khofifah kembali mencuat. Namanya menjadi perbincangan banyak kalangan. Dirinya, yang telah kenyang pengalaman dan hafal lika-liku perpolitikan di tanah air, digadang-gadang bahkan dipastikan sebagai sosok yang pantas memimpin Provinsi Jawa Timur melalui Pemilihan Gubernur yang digelar 2018. Bagaimana kisah perjalanan Khofifah selanjutnya? Tentu sangat menarik untuk disimak. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here