Khofifah Didatangi Cicit Syech Abdul Qadir Jailani

0
143
"Syech Afifuddin Al Jailani berdoa di rumah Khofifah, Jalan Jemursari VIII No. 124, Surabaya" (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Mengaku gemetaran saat didatangi cicit Syech Abdul Qadir Al Jailani, yakni Syech Afifuddin Al Jailani di rumahnya, di Jalan Jemursari VIII No. 124, Surabaya, Selasa (17/4/2018), malam.

Menerima kedatangan tamu istimewa Syech Afifuddin, ulama besar dari Timur Tengah itu, Khofifah yang juga mantan Menteri Sosial mengaku teringat dengan cerita yang pernah disampaikan kepadanya oleh mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Dikisahkan, setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Gus Dur bersama seseorang yang menemani perjalanannya, berkunjung ke Bagdad, dengan niatnya yang ingin menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah Asia Pacifik, untuk belajar.

“Saya merinding, jadi teringat cerita Gus Dur yang mungkin tidak banyak diceritakan kepada orang lain,” ujar Khofifah mengawali ceritanya.

Dikatakan, Gus Dur kepadanya mengatakan ingin belajar Thariqah, ingin menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah Asia Pacifik, yakni ajaran Syech Abdul Qadir Al Jailani.

Dari rangkaian cerita itu, Gus Dur shalat di Masjid Syech Abdul Qadir Al Jailani di Bagdad. Kemudian, usai shalat dan bermunajat Gus Dur dihampiri seseorang bertubuh tegap dan gagah sambil mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan. Pun itu juga dilakukan kepada seseorang yang mendampingi Gus Dur.

“Saya jadi merinding, teringat cerita Gus Dur yang mungkin tidak banyak diceritakan kepada orang lain” (Foto: Tudji)

“Kepada saya, sahabat yang menemani perjalanan Gus Dur itu juga mengaku menerima jabat tangan sosok tersebut setelah bersalaman dengan Gus Dur. Dikatakan, sosok itu memakai jubah abu-abu, persis seperti yang saya lihat dan saat ini hadir bertandang ke sini (rumah ini),” terang Khofifah.

Manaqiban dan Doa Keselamatan

Dari depan rumah yang telah menyemut jamaah, Khofifah mengenakan terusan busana muslim warna putih berjalan beriring Syech Afifuddin bersama sejumlah kerabat menuju ruang tamu. Teralun bacaan Manaqiban diikuti jamaah dan para imam manaqib yang datang dari berbagai daerah di Jatim. Itu, setelah Syech Afifuddin memberikan sambutan berbahasa Arab yang diterjemahkan oleh seorang santrinya dalam bahasa Indonesia.

“Yang biasa dibaca bagi orang NU itu Manaqib, merupakan tradisi dan proses Taqarub, termasuk yang dibaca oleh cicit Syech Abdul Qadir Jailani saat ini. Ketemu dzuriahnya itu adalah ‘sesuatu’ sekali. Sebelumnya Syach Afifuddin pernah kesini (Surabaya) dan pernah ke kediaman di Jakarta memberikan dan memberikan tauziah di Halah NU. Saya bersyukur hari ini beliau berkenan bersilahturrahim dan banyak datang para imam-imam Manaqib yang masing-masing saling menguatkan komitmen kedermawanan dan saling berbagi dan meningkatkan kepedulian,” urainya.

Masih kata Khofifah, suasana itulah yang terbangun di jamaah Manaqiban Syech Afifuddin dan semangat Gus Dur juga selalu mengingatkan untuk meneruskannya. Khofifah menegaskan, Gus Dur pernah mengatakan keinginannya yang kuat untuk menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah Asia Pacifik dan mengikuti yang selalu diajarkan oleh Syeh Abdul Qadir Jailani. “Gus Dur ingin sekali menjadi pimpinan Tariqah untuk Asia Pasifik, secara spesifik,” tambahnya.

Khofifah kemudian berharap dengan pertemuannya dengan Syech Afifuddin, maka proses membangun komitmen untuk menjaga kebaikan dan kedermawanan sebagaimana diajarkan dalam Manaqib yang diikuti warga NU bisa terus terbangun.

Di rumah yang juga pernah didatangi Joko Widodo sesaat setelah menyatakan maju menjadi Calon Presiden itu, Syech Afifuddin menyebut bertemu dengan warga NU yang rajin manaqib, meminta kegiatan seperti itu dipakai sebagai kesempatan memberikan tausiyah tentang keutamaan bulan Sya’ban. Melalui penerjemahnya, dijelaskan di dalam bulan Sya’ban ada peristiwa-peristiwa penting.

“Allah akan mengabulkan permintaan dan setiap doa yang dipanjatkan. Itu, seperti yang dilakukan oleh Nabi Zakaria yang menantikan diberikannya keturunan yang baik, yang kemudian lahirlah anak lelaki bernama Yahya,” urai Syech Afifuddin.

Sepanjang bulan Sya’ban, jika ada hambanya yang dengan rendah hati dan tulus menengadahkan tangan bermunajad, berdoa untuk kebaikan pasti akan dikabulkan oleh Allah. Itu, seperti yang dilakukan para sahabat nabi di jaman Rasullah Muhammad SAW di bulan Sya’ban. Lanjut Syech Afifuddin, para sahabat nabi banyak yang menambah amalan dan berbuat kebaikan serta melakukan taubat untuk kemudian menuju datangnya bulan ramadan.

“Di bulan yang baik Sya’ban adalah kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk melakukan kebaikan,” terang Syech Afifuddin.

Di depan ratusan jamaah dan tamu yang hadir, Syech Afifuddin juga mengajak agar umat Islam termasuk di Jawa Timur terus memperbanyak bacaan shalawat, sebagaimana yang dilakukan sebagai tradisi ulama salaf. Serta memperbanyak bacaan doa dan surat Al Ikhlas.

“Nabi Muhammad pernah menjelaskan kepada para sahabat, bahwa yang cinta dan selalu membaca Surat Al Ikhlas dalam shalatnya akan menjadi pengantar masuk ke pintu surganya Allah,” terang Syech Afifuddin disambut kalimat ‘Amin’ dengan serentak.

Kemudian, masih terkait Sya’ban, Syech Afifuddin juga mengajak masyarakat di Jatim, untuk tidak menyia-nyiakan dan bisa memanfaatkan dan menjadikan bulan Sya’ban yang luar biasa ini dengan memperbanyak melakukan ibadah dan amalan-amalan kebaikan.

Syech Afifuddin Cicit ke-33 Nabi

Syech Afifuddin adalah keturunan ke-33, Ahlul Bait Nabi dan Keturunan ke-18 dari Syech Abdul Qadir Al Jailani R.A. Dikutib dari Pustaka Muhibbin, disebutkan saat kecil, ada malaikat yang selalu datang kepadaku setiap hari dalam rupa pemuda tampan. Ia menemaniku ketika aku berjalan menuju madrasah dan membuat teman-temanku selalu mengutamakan diriku seharian hingga aku pulang. Dalam sehari, aku peroleh lebih banyak daripada yang diperoleh teman-teman sebayaku selama satu minggu.

Aku tak tak pernah mengenali pemuda itu. Di saat yang lain, ketika aku bertanya kepadanya, ia menjawab: “Aku adalah malaikat yang diutus Allah. Dia mengutusku untuk melindungimu selama engkau belajar.” Itulah sepenggal kisah Syech Abdul Qadir Al-Jailani tentang pengalamannya di masa kecil.

Abdul Qadir Al-Jailani, lahir tahun 470 H. (1077-1078 M) di Al-Jil (disebut juga Jailan dan Kilan), kini termasuk wilayah Iran. Tahun kelahirannya ini didasarkan atas ucapannya kepada putranya bahwa ia berusia 18 tahun ketika tiba di Baghdad, bertepatan dengan wafatnya seorang ulama terkenal, At-Tamimi, tahun 488 H. Bertepatan dengan keputusan Imam Abu Hamid Al-Ghazali untuk meninggalkan tugasnya mengajar di Universitas Nidzamiah, Baghdad. Sang imam ternyata lebih memilih uzlah.

Awal Ramadhan dan Masa Balita Syech Abdul Qadir Al Jailani

Ibunya, Ummul Khair Fatimah binti Syech Abdullah Sumi, merupakan keturunan Rasulullah SAW. Beliau pernah menuturkan: “Anakku , Abdul Qadir , lahir di bulan Ramadhan. Pada siang hari bulan Ramadhan, bayiku itu tak pernah mau diberi makan.”

Saat Ramadhan ketika Abdul Qadir masih bayi, orang-orang tak dapat melihat hilal karena tertutup awan. Akhirnya untuk menentukan awal puasa, mereka mendatangi rumah Ummul Khair dan menanyakan apakah bayinya sudah makan hari itu. Saat mengetahui bayi itu tidak mau makan, oleh mereka itu diyakin bahwa Ramadhan telah tiba.

Dalam kesempatan lain, Syech Abdul Qadir Al Jailani bercerita: “Setiap kali terlintas keinginan untuk bermain bersama teman-temanku, aku selalu mendengar bisikan: “Jangan bermain, tetapi datanglah kepadaku wahai hamba yang di rahmati.”Karena takut, aku berlari ke dalam pelukan ibu. Kini, meskipun aku beribadah dan berkhalwat dengan khusyuk, aku tak pernah bisa mendengar suara itu sejelas dulu.”

Tauladan Kejujuran Syech Abdul Qadir Al Jailani

Saat ditanya mengenai apa yang menghantarkannya kepada maqam ruhani yang tinggi, beliau menjawab: “Kejujuran yang pernah kujanjikan kepada ibuku.” Kemudian Syech Abdul Qadir Al-Jailani menuturkan kisahnya, yakni “Pada suatu pagi di hari raya Idul Adha, aku pergi ke ladang untuk membantu bertani. Ketika berjalan di belakang keledai, tiba-tiba hewan itu menoleh dan memandangku, lalu berkata: “Kau tercipta bukan untuk hal semacam ini.” Mendengar hewan itu berkata-kata, aku sangat ketakutan. Aku segera berlari pulang dan naik ke atap rumah. Ketika memandang ke depan, kulihat dengan jelas para jamaah haji sedang wukuf di Arafah.

“Yang biasa dibaca bagi orang NU itu Manaqib, merupakan tradisi dan proses Taqarub, termasuk yang dibaca oleh cicit Syech Abdul Qadir Jailani saat ini. Ketemu dzuriahnya itu adalah ‘sesuatu’ sekali” (Foto: Tudji)

Kudatangi ibuku dan memohon kepadanya: “Izinkanlah aku menempuh jalan kebenaran, biarkan aku pergi mencari ilmu bersama para bijak bestari dan orang-orang yang dekat dengan Allah SAW.”

Ketika ibuku menanyakan alasan keinginanku yang tiba-tiba, kuceritakan apa yang terjadi. Mendengar penuturanku, ia menangis sedih. Namun, ia keluarkan delapan puluh keping emas, harta satu-satunya warisan ayahku. Ia sisihkan empat puluh keping untuk saudaraku. Empat puluh keping lainnya dijahitkannya di bagian lengan mantelku. Ia memberiku izin untuk pergi seraya berwasiat agar aku selalu bersikap jujur apa pun yang terjadi.

Sebelum berpisah ibuku berkata: “Anakku, semoga Allah menjaga dan membimbingmu. Aku ikhlas melepas buah hatiku karena Allah. Aku sadar aku tak kan bertemu lagi denganmu hingga hari kiamat.”

Aku ikut kafilah kecil menuju Baghdad. Baru saja meninggalkan kota Hamadan, sekelompok perampok, terdiri atas enam puluh orang berkuda, menghadang kami. Mereka merampas semua anggota kafilah. Salah seorang perampok mendekatiku dan bertanya: “Anak muda apa yang kau miliki?” Kukatakan bahwa aku punya empat puluh keping emas.

“Di mana?” Kukatakan di bawah ketiakku.

Ia tertawa-tawa dan pergi meninggalkanku. Perampok lainnya menghampiriku dan menanyakan hal yang sama. Aku menjawab sejujurnya. Tetapi seperti kawannya, ia pun pergi sambil tertawa-tawa mengejek.

Kedua perampok itu mungkin melaporkanku kepada pimpinannya, karena tak lama kemudian pimpinan gerombolan itu memanggilku agar mendekati mereka yang sedang membagi-bagi hasil rampokan. Si pimpinan bertanya apakah aku memiliki harta. Kujawab, bahwa aku punya empat puluh keping emas yang dijahitkan di bagian lengan mantelku. Akhirnya, ia menyobeknya dan ia temukan keping-keping emas itu. Keheranan, ia bertanya“Mengapa engkau memberi tahu kami, padahal hartamu itu aman tersembunyi?”
Jawabku: “Aku harus berkata jujur karena telah berjanji kepada ibuku untuk selalu bersikap jujur.”

Mendengar jawabanku, pimpinan perampok itu tersungkur menangis. Sambil berkata, “Aku ingat janjiku kepada Dia yang telah menciptakanku. Selama ini aku telah merampas harta orang dan juga membunuh. Betapa besar bencana yang akan menimpaku!?”

Anak buahnya yang menyaksikan kejadian itu berkata: “Kau memimpin kami dalam dosa. Kini, pimpinlah kami dalam taubat!”

Ke enam puluh orang itu memegang tanganku dan bertaubat. Mereka adalah sekelompok pertama yang memegang tanganku dan mendapat ampunan atas dosa-dosa mereka.

Itulah sepenggal kisah Syech Abdul Qadir Al Jailani, semoga manfaat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here