Khofifah Dinilai Paling Layak Menjadi Gubernur Jatim

0
90
Airlangga Pribadi The Initiative Institute (Foto: Tudji Martudji)

Nusantara.news, Surabaya – The Initiative Institute melansir, dari hasil survei yang dilakukan dengan metode pendekatan multistage random sampling dan tatap muka, serta kuesioner untuk penggalian data, di Pilgub Jatim 2018 yang digelar 2018. Di 108 desa/kelurahan di Jatim, dengan sebanyak 1016 responden, berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah, yang pengambilan datanya dilakukan 6 hingga 20 September 2017.

Dengan berbagai latar belakang politik dan aliran, yakni Masyumi 0,5 persen; Muhammadiyah 2,2 persen; Nasionalis Soeharto 2,8 persen; Nasionalis Soekarno 16,8 persen dan Nahdlatul Ulama 72,8 persen.

“Para responden saat ditanya siapa saja tokoh yang diketahui dan dikenal, khususnya yang akan maju di Pilgub Jatim, pertama yang disebut adalah nama Khofifah Indar Parawansa, sebesar 98,90 persen, sementara yang mengaku tidak mengenal hanya 1,10 persen,” kata Direktur Eksekutif The Initiative Institute, Airlangga Pribadi Kusman atau akrab disapa Angga, di Hotel Sahid Surabaya, Minggu (22/10/2017).

Diuraikan, nama Khofifah oleh responden disebut-sebut sebagai sosok yang layak menjabat Gubernur Jatim. Itu dipilih oleh sebanyak 94,60 persen, sementara Saifullah Yusuf atau Gus Ipul berada di bawah nama Khofifah, 94,20 persen. Sementara, untuk bakal calon wakil gubernur yang dinilai layak disandingkan dengan Khofifah, responden 41,9 persen menyebutnya belum mengetahui.

“Dari hasil survei tersebut responden banyak memilih dan setuju jika Khofifah menjadi Gubernur Jatim di pemilihan yang dilaksanakan 27 Juni 2018, tahun depan,” terangnya.

Menurutnya, perbedaannya tidak terlalu jauh dan itu dinamis, kedua nama masih akan terus kejar-kejaran. Karena selain banyak faktor yang melatar belakangi, mereka berdua adalah kader terbaik dari Nahdlatul Ulama (NU).

Responden juga menjatuhkan pilihan, di Pilgub Jatim mendatang yang paling berpeluang dan diminati adalah pasangan ‘Santri – Santri’ itu dipilih oleh sebanyak 63,3 persen responden. Untuk pasangan Santri-Nasionalis sebesar 54,3 persen; pasangan Nasionalis-Santri dipilih oleh responden sampai 52,0 persen.

“Pasangan santri-santri sudah terwakili oleh Gus Ipul-Anas. Sedangkan karakter pasangan santri-nasionalis belum muncul. Kalau Khofifah mengambil kalangan nasionalis sebagai pasangan, tentu akan menjadi kelebihan yang tak dimiliki pasangan kompetitor,” jelasnya.

Gus Ipul, Terdongkrak Nama Anas

Airlangga Pribadi The Initiative Institute (Foto: Tudji)

Masih menurut data yang didapat lembaga survei tersebut, cagub koalisi PKB-PDIP, yakni Gus Ipul-Anas, menurutnya harus bersyukur karena berhasil mendapatkan calon wakil Abdullah Azwar Anas yang mendongkrak elektabilitas Gus Ipul, yang cenderung stagnan, di kisaran 36,3 persen.

Sebaliknya, untuk Khofifah Indar Parawansa elektabilitasnya cenderung naik di kisaran 32,4 persen. Sehingga selisihnya semakin tipis menjadi 3,9 persen. Meski dalam survei sebelumnya yang dilakukan April 2017 lalu, tingkat elektabilitas Gus Ipul di angka 33,2 persen dan Khofifah 28 persen, ada selisih sekitar 5 persen.

“Elektabilitas Gus Ipul belum aman untuk bisa menang karena selisih dengan kompetitor masih di bawah 10 persen. Dia diselamatkan nama pasangannya yaitu Anas, yang dimungkinkan bisa mendongkrak elektabilitas suara,” tambah Mohammad Dahlan, peneliti senior The Initiatif Insitute, di tempat yang sama.

Lanjut Dahlan, di pertarungan dua kader terbaik NU di Pilgub Jatim mendatang itu akan semakin seru jika Khofifah yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU mendapatkan pasangan calon wakil gubernur yang bisa menyaingi Anas, minimal sama posisinya seperti Anas.

“Minimal kriterianya adalah kepala daerah, berusia muda, cerdas dan bisa mendulang suara. Misalnya, Bupati Trenggalek, Emil Dardak saya kira bisa memenuhi kriteria itu, tapi tentu keputusan akhir ada di tangan Khofifah dan partai koalisi pendukungnya,” urai Dahlan.

Pilgub Jatim Aroma Pilpres

Airlangga Pribadi Kusman atau Angga menambahkan di Pilgub Jatim 2018, mendatang sangat kental nuansa jelang elektoral 2019, yakni pemilihan presiden. Pilgub Jatim juga diibaratkan miniatur pertarungan politik nasional menghadapi untuk menghadapi pileg dan pilpres.

“Bisa jadi, Jokowi effect atau restu dari istana kepresidenan diperebutkan di Pilgub Jatim, 2018 mendatang,” terangnya.

Menariknya, lanjut Angga, di internal partai pendukung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla terjadi faksionalisasi, PKB dan PDIP yang mendukung pasangan Gus Ipul-Anas, sementara Golkar, NasDem, Hanura dan PPP serta dimungkinkan partai lainnya justru mendukung Khofifah.

Partai Demokrat yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga bisa jadi akan ikut memanfaatkan momentum Pilgub Jatim, untuk merapat ke Jokowi dengan memberikan dukungan ke Khofifah.

Partai Demokrat yang mendukung Khofifah, itu akan menguntungkan langkah Menteri Sosial RI tersebut memantapkan langkah maju di Pilgub Jatim. Alasan lainnya, karena Soekarwo sebagai Gubernur incummbent juga dari Partai Demokrat. Di Jatim, meski akan mengakhiri tugasnya sebagai gubernur dua periode, diyakini masih memiliki kharisma dan pengikut. Itu akan menguntungkan Khofifah, yang mendapat dukungan dari Partai Demokrat.

“Pengaruh Pakde Karwo di Jatim melampaui ekspektasi Partai Demokrat karena dia bisa mempengaruhi pemilih dari Partai Golkar dan PDIP untuk mendukung Khofifah,” dalih dosen FISIP Universitas Airlangga Surabaya itu.

Prediksinya, pertarungan ketat akan terjadi di wilayah Mataraman dan wilayah Arek. Lantaran, hingga saat ini belum ada representasi tokoh dari kedua wilayah tersebut yang ikut maju di Pilgub Jatim. Dimungkinkan, para pasangan akan menggunakan jurus jualan program untuk mendulang suara dukungan di wilayah tersebut.

Di dua wilayah itu, suara Tri Rismaharini yang mencapai 18 persen, jika benar tidak ikut maju di Pilgub Jatim akan jadi rebutan kedua kandidat, Khofifah dan Anas. Untuk diketahui, di wilayah dominan pendukung Tri Risma itu
cenderung rasional, tidak mengikuti patron politik. Dan, itu juga akan menguntungkan Khofifah, karena figur Khofifah yang merata dikenal di wilayah Jatim.

“Jadi, Pilgub Jatim ini sebenarnya pertarungan antara Khofifah dan Anas karena keduanya adalah figur pekerja pemikir dan pekerja keras,” ungkap Airlangga.

Pilgub Jatim 2018, Diprediksi Aman

Untuk diketahui, masih menurut hasil survei tersebut, pelaksanaan Pilgub Jatim yang terjadwal dilaksanakan pada 27 Juni 2018, diprediksi akan relatif aman. Soal itu, sebanyak 97 persen responden menyatakan pelaksanaannya akan aman. Alasannya, itu menjadi ciri masyarakat Jatim dan hanya 3 persen yang menyatakan tidak aman.

“Tidak seperti di Pilkada Jakarta, isu sara ikut mewarnai. Di Jatim, itu sulit terulang karena karakter masyarakat Jatim cenderung moderat,” katanya.

Sementara, soal kemungkinan munculnya poros tengah dan menjatuhkan pilihan tidak kepada Khofifah atau Gus Ipul di Pilgub Jatim mendatang. Prediksinya, hal itu tidak akan berpengaruh secara signifikan kepada kedua nama tersebut. Itu karena masyarakat sebenarnya berharap head to head, daripada muncul tiga pasangan.

“Kalaupun muncul pasangan calon ketiga, saya rasa tidak terlalu berpengaruh apalagi bisa mengalahkan Khofifah dan Gus Ipul,” pungkasnya.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here