Khofifah Indar Parawansa: Mengentaskan Kemiskinan Tugas Kita Semua

0
172

Nusantara.News, Surabaya –  Khofifah Indar Parawansa, tokoh wanita ini seperti tiada mengenal lelah. Mobilitasnya amat tinggi, baik sebagai anggota kabinet maupun sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU. Kedua jabatan yang sama-sama mengurusi orang banyak itu diembannya dengan intensitas luar biasa.

Hari Minggu (2/4) kemarin, Nusantara.news merasakan aura dinamis itu ketika bercengkerama dengan Menteri Sosial ini dalam perjalanan dari lokasi bencana tanah longsor di Desa Bunaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo  ke Pondok Pesantren Ar Risalah Lirboyo Kediri. Raut wajah segar masih terpancar. Padahal dia baru naik turun bukit dengan sepeda motor melihat dari dekat lokasi bencana. Sesekali terucap kalimat tauhid dalam setiap gerak dan aktivitasnya.

Boleh dikatakan, Khofifah adalah perempuan istimewa. Tak banyak orang yang bisa menjadi menteri di dua presiden berbeda, dan dalam rentang waktu yang agak jauh pula. Dia pernah Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (1999-2001) di era Presiden Abdurahman Wahid. Belasan tahun setelah itu  dipercaya pula oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Sosial.

Latar belakang sebagai aktivis mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, membuat dia punya energi berlipat ketika datangi lokasi demi lokasi dalam waktu berdekatan terkait jabatannya sebagai Menteri Sosial.

Ketika bercakap-cakap  dengan Nusantara.news dalam mobil dinas menteri RI-30 dari Ponorogo ke Kediri itu Khofifah menggambarkan mimpi dan harapannya sebagai Menteri Sosial, terutama untuk mengentas seabrek persoalan sosial yang melanda negeri ini.

Bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah masih tingginya tingkat kesenjangan ekonomi. Bagaimana Anda memangkasnya? 

Memangkas kesenjangan sosial harus melibatkan semua pihak. Dengan indeks Rasio Gini Indonesia Maret 2016, tercatat 00,40, ini harus disadari semua jika kesenjangan sosial memang cukup tinggi. (Indeks Rasio Gini menggunakan ukuran skala 0 sampai 1. Angka 0 menunjukkan tidak ada kesenjangan sosial. Jika sudah menyentuh angka 1, menandakan terjadi kesenjangan ekstrem di masyarakat. Sejak 2011, indeks Rasio Gini menyentuh 00,41 dan bertahan hingga 2015 sebelum turun menjadi 00,40 pada 2016. Angka terendah tercatat pada 1999 yang mencapai 00,31.Red)

Anda yakin indeks itu akan menurun?

Ya, saya yakin indeks itu akan menurun. Tapi harus dengan program terpadu lintas sektoral, serta dukungan aktif masyarakat dalam program-program pemerintah. Di Kementerian Sosial ada beberapa program yang berjalan kontinyu dan punya target waktu. Seperti bantuan sosial nontunai dalam beberapa program. Misalnya Program Keluarga Harapan (PKH), E-Warong (elektronik warung gotong royong), serta bansos (bantuan sosial) yang dikeluarkan khusus jika ada warga tertimpa bencana seperti longsor yang terjadi di Ponorogo. Sedangkan PKH dan e-Warong lebih dalam pemberdayaan agar angka kemiskinan dan kesenjangan terus menurun.

Hasilnya?

Alhamdulillah, PKH sudah cukup memberi kontribusi dalam penurunan angka kemiskinan. Saya optimistis jumlah penduduk miskin akan semakin turun di tahun-tahun mendatang. Namun program itu tidak terhenti karena masih ada program lanjutannya. Kami kan juga harus memikirkan ketahanan penduduk yang baru lepas dari kemiskinan.

Jangan sampai penduduk miskin kembali terpuruk karena tidak ter-cover program yang berkesinambungan. Kami menargetkan mereka bisa mandiri secara ekonomi dan lepas dari jeratan kemiskinan melalui program pemberdayaan lainnya dan harus tepat sasaran dan tepat jumlah.

Apakah sudah mencapai target?

Kementerian Sosial targetkan penurunan angka kemiskinan sebesar 1 persen dalam jangka waktu 5 tahun. Ternyata sejak program PKH berjalan, data BPS justru menyatakan sudah melebihi harapan. Data BPS September 2016, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,76 juta jiwa. Jumlah itu sekitar 10,70 persen dari jumlah total warga negara Indonesia. Artinya ada pengurangan angka kemiskinan sebesar 750 ribu jiwa di banding periode September 2015 atau sekitar 13,96 persen.

Bagaimana kerjasama dengan kementerian lain?

Kementerian Sosial dalam hal ini tidak berjalan sendiri. Ada kerjasama lintas sektoral di bawah Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).

Sedangkan pemerintah melalui Kementerian Sosial juga memberi penekanan agar melakukan percepatan pengentasan kemiskinan dengan mengintegrasikan bansos dan subsidi dalam 1 kartu keluarga sejahtera (KKS). Karena itu, Kementerian Sosial tidak bisa berjalan sendiri dalam program pengentasan kemiskinan ini. Sebab dampak PKH akan sangat dirasakan jika sudah terintegrasi dengan program dari kementerian lainnya.

Apalagi jika terkait dengan distribusi bantuan karena Presiden Joko Widodo  sempat meminta penerima subsidi energi juga dapat terintegrasi dengan program penanggulangan kemiskinan karena banyak yang tidak tepat sasaran. Masih banyak warga yang tidak ter-cover dan lebih membutuhkan. Padahal PKH sangat diharapkan bisa memenuhi target penurunan indeks gini rasio* 00,36 pada 2019.

Berapa keluarga yang sudah tercover PKH Kementerian Sosial sejauh ini dan berapa target penambahan di tahun 2017?

Dari laporan yang masuk ke saya, sudah ada 6 juta keluarga penerima manfaat PKH hingga awal 2017. Sedangkan target tahun ini, saya sudah instruksikan untuk dialihkan ke bentuk bantuan sosial non tunai sebanyak 3 juta keluarga. Apalagi Kementerian Sosial juga sudah bekerja sama dengan 4 bank anggota Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara). Yakni BRI, Mandiri, BNI dan BTN sejak 2016.

Ini sesuai arahan Bapak Presiden tentang keuangan inklusif. Artinya, setiap bantuan sosial dan subsidi disalurkan secara non tunai dengan menggunakan sistem perbankan. Gunanya, untuk memudahkan kontrol, pemantauan dan memenuhi syarat tepat sasaran, tepat waktu dan tepat jumlah. Jadi setiap keluarga penerima PKH mendapatkan kartu sebagai akses fitur uang elektronik sekaligus tabungan yang dapat menampung bansos PKH, pangan maupun subsidi lainnya.

Tahun ini target Kementerian Sosial ada 200.000 keluarga penerima manfaat (KPM) baru. Target itu bukan sekedar catatan di atas kertas. Untuk mengetahui jumlah penerima program ini, mulai dari pendamping PKH, tenaga sosial tingkat kecamatan (TSTK) serta kepala dinas sosial harus aktif menyisir ke lapangan. Selain itu kami juga melibatkan tim survei independen yang metodenya sesuai arahan Bank Dunia.

Khusus untuk Jawa Timur, ada anggapan program Anda gencar dilakukan karena terkait dengan pemilihan gubernur 2018...

Kementerian Sosial menyalurkan PKH maupun bantuan sosial lainnya tidak berdasarkan tendensi apapun.

Sebenarnya berapa total penerima PKH hingga tahun ini di Jawa Timur?

Seperti yang saya beberkan, data keluarga penerima muncul dari penyisiran di lapangan yang dipimpin kepala dinas masing-masing daerah. Ini yang menjadi pertimbangan bansos di Jawa Timur meningkat jadi Rp6.050.186.676.400 untuk tahun ini. Dari sebesar Rp4,83 triliun pada 2016.

Total bansos itu bukan hanya untuk PKH, tetapi terbagi dalam beberapa item. Untuk keluarga penerima PKH yang berjumlah 1.099.154 mendapat alokasi Rp2.077.401.060.000. Selanjutnya bansos lanjut usia  untuk 1.700 jiwa mencapai Rp3,4 miliar, bansos disabilitas Rp5,559 miliar untuk 1.853 jiwa dan terakhir bantuan rastra (beras sejahtera) sebesar Rp3,963 triliun lebih yang dibagikan kepada 2.889.929 keluarga.

Semisal di Kabupaten Malang. Hasil pendataan terakhir kuartal IV 2016, ada 15 ribu KPM baru yang terdaftar. Saya berharap, bantuan ini jangan diselewengkan. Gunakan dengan bijak sesuai peruntukannya. Karena masih masih ada yang belum tercover dan saya ingin untuk pendataan selanjutnya masuk daftar.

Penambahan baru ini bisa karena dipicu bencana alam. Bayangkan saja seperti di Ponorogo, selain menimbulkan korban jiwa banyak keluarga yang harta bendanya ludes. Jika tidak tersentuh bantuan pemerintah, trus bagaimana nanti hidupnya. Mereka juga butuh makan dan tidak mungkin bekerja selama beberapa waktu. Jika tidak segera diintervensi malah berpotensi akan menambah jumlah penduduk miskin. Janganlah program pemerintah ini dikaitkan dengan tendensi lain mengingat beban negara yang cukup besar untuk memangkas kesenjangan sosial.

Tadi Anda mengatakan, program pemerintah tidak akan terhenti dengan hanya mengangkat penduduk miskin menjadi sejahtera. Apa yang dimaksud dengan hal ini?

Jadi pemerintah sudah berkomitmen untuk melakukan pemerataan dan percepatan penanggulangan kemiskinan melalui beragam bansos. Setelah lepas dari jeratan itu, tugas selanjutnya adalah agar mereka tidak jatuh miskin lagi. Caranya, melalui pemberdayaan berkelanjutan dengan program E-Warong.

Program ini menerapkan pengelolaan keuangan secara digital. Pemerintah melalui bank terpilih anggota Himbara, mencetak kartu, diaktifkan dalam bentuk e-voucher yang sumber dananya berasal dari CSR keempat bank. Gunanya, penduduk miskin yang tergabung dalam E-Warong tidak mengambil secara tunai sembako yang sudah dipersiapkan Bulog. Sehingga masyarakat punya kekuatan finansial untuk memilih sesuai kebutuhannya.

E-Warong nantinya akan menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari bagi penerima PKH. Karena barang dari suplier, harganya tentu lebih murah. Untuk mengantisipasi terjadi penyimpangan itulah guna kita terapkan e-voucher.

Selain itu, tidak sekedar menjual aneka kebutuhan pokok E-Warong juga bisa menjadi etalase produk-produk Kelompok Usaha Bersama dan hasil usaha Ekonomi produktif (KUBE) PKH. Setiap anggota otomatis masuk jadi member Koperasi masyarakat ekonomi Indonesia sejahtera (KMIS).

Sudah berapa unit E-Warong yang terbentuk dan ada berapa di Jawa Timur total hingga akhir triwulan pertama 2017?

Sejak diluncurkan pada 2016, E-Warong sudah berdiri di 45 kota dan 6 kabupaten dan menyasar 1,2 juta penerima PKH non tunai dan 1,4 juta penerima bantuan pangan. Tahun ini kami target untuk diperluas lagi ghingga menjangkau 3 juta KPM di 98 kota dan 200 kabupaten se-Indonesia. Untuk Jawa Timur, ada 9 kota dan kabupaten yang sudah berdiri. Jika E-Warong bisa dimaksimalkan, saya optimistis pemberdayaan ekonomi akan seiring dengan pemerataan sosial.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here