Khofifah Maju, Cak Imin Ketar-Ketir Gus Ipul ‘Tenggelam’?

0
198

Nusantara.news, Surabaya – Direktur Eksekutif Indikator Burhanudin Muhtadi menilai Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin khawatir cagub yang diusungnya akan dikalahkan oleh Khofifah Indar Parawansa di Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018.

“Tergantung, itu melihatnya dari sisi mana? Menurut saya, di Pilgub Jatim ini seperti bagaimana kita melihat gelas setengah kosong. Survei terakhir yang kita lakukan di bulan Mei, ada pembelahan gender, Khofifah kuat di pemilih perempuan, Gus Ipul kuat di pemilih laki-laki. Belum ada calon yang bisa meraup suara di kedua gender. Dan, yang kita temukan masyarakat NU juga terbelah, mengikuti kiai mereka,” ujar Burhanudin Muhtadi di acara siaran langsung sebuah tayangan stasiun televisi swasta.

Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi.

Sebelumnya, Cak Imin kepada wartawan di Jakarta mengakui telah menemui Presiden Joko Widodo dan meminta kepada presiden agar Khofifah tidak maju di Pilgub Jawa Timur.

“Memang, saya sudah sampaikan kepada Presiden, satu-satunya provinsi yang NU-nya sangat kuat adalah Jawa Timur. Kalau bisa Ibu Khofifah tidak usah diizinkanlah, jadi menteri saja. Karena sudah saatnya dia (Khofifah) konsentrasi di menteri. Sudah dua kali kita mengusung Ibu Khofifah di Pilgub Jawa Timur, dan kalah terus. Sudah saatnya ganti kader lain sama-sama NU, eh sudah tiga kali kita usung Khofifah,” ujar Cak Imin, yang pernyataannya kembali diputar di tayangan Prime Talk televisi swasta, Rabu (10/8/2017).

Lanjut Cak Imin, untuk Pilgub Jawa Timur keputusan partainya telah final, PKB resmi mengusung Saifullah Yusuf. PKB juga merangkul dan menjalin komunikasi dengan partai-partai lain, termasuk Partai Gerindra untuk jalan bareng mengusung Gus Ipul.

“Kita juga merangkul partai-partai lain, kita berikan bergaining potition untuk wakil gubernur,” terang Cak Imin.

Menanggapi pernyataan Cak Imin, Khofifah menyebut Cak Imin tidak mengikuti perkembangan dan tidak update.

“Saya tidak tahu ya, Pilgub-nya saja baru dua kali. Yang sekali, saya rasa Pak Muhaimin lupa, waktu itu beliau mendukung Pak Ahmadi Bupati Mojokerto,” ucap Khofifah.

Khofifah menambahkan, dirinya tidak dalam posisi Cak Imin harus yakin atau ragu, karena dirinya masih proses dan belum resmi maju sebagai bakal calon dengan mengambil formulir dari partai politik.

Meski secara resmi belum menyatakan maju dan mengambil formulir pendaftaran melalui partai politik. Nama Khofifah terus menjadi perbincangan. Masyarakat banyak yang menghendaki Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Presiden Abdurrahman Wahid itu untuk kembali running di Pilgub Jawa Timur.

Banyak yang berpendapat rivalitas munculnya Gus Ipul juga Khofifah untuk berkompetisi Pilgub Jatim, bakal semakin seru. Tak sedikit juga yang menyuarakan Khofifah cukup kuat dan akan menjadi lawan berat bagi Gus Ipul, jika Arek Suroboyo itu maju di Pilgub Jawa Timur 2018, mendatang.

“Perang” Cak Imin-Khofifah Memantik Kemunduran NU

Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura, Mochtar W Oetomo, mengatakan psywar atau perang statment antara Cak Imin dan Khofifah ini jika berkepanjangan tidak menutup kemungkinan memantik meletusnya Perang Paregreg di Pilgub Jawa Timur.

Mochtar menyebut, perang Paregreg adalah perang antar saudara di era Kerajaan Majapahit. Saat itu, antara Bhre Wirabhumi dan Kusumawardhani atau Wikramawardhana saling dan terus mempertahankan argumen untuk memperebutkan kekuasaan.

Perang sesama anak kandung Hayam Wuruk tersebut yang kemudian mengakibatkan rusaknya sendi-sendi persatuan rakyat. Hingga akhirnya menjadi penyebab awal runtuhnya dan kehancuran Kejayaan Majapahit.

“Perang statment antara Cak Imin dan Khofifah, jika berkepanjangan dan tidak dikelola dengan dewasa, bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu hingga memicu Perang Paregreg di Pilgub Jatim nanti, yakni perang sesama anak kandung NU,” ujar Mochtar, Kamis (10/8/2017).

Kemudian, Direktur Surabaya Survey Center (SSC) itu memaparkan, polarisasi atau pertentangan tajam antar mereka memang kecil kemungkinan merembet ke wilayah konflik SARA.

“Karena semua kandidat tergolong pribumi dan Islam, dan mayoritas sama-sama NU. Potensi pertentangan yang kemungkinan besar muncul justru di internal NU, terkait Gus Ipul dan Khofifah yang sama-sama diklaim sebagai kader terbaik Nahdlatul Ulama,” urai dosen ilmu sosial dan ilmu politik itu.

NU Kultural Harus Tampil, Bukan Malah Jadi Aktor Polarisasi

Saat ini, yang mulai tampak adalah polarisasi antara NU struktural dengan NU kultural, mereka sengaja atau tidak telah terlibat dukung mendukung antar dua nama itu.

Jika itu terus terjadi hingga berlarut-larut. Tidak tertutup kemungkinan perseteruan akan melebar ke polarisasi antar wilayah, antar Banom (Badan Otonom) di tubuh Nahdlatul Ulama. Juga bisa juga merembet antar pondok serta kiai. Juga akan melebar antar santri sebagai akar rumput pendukung.

“Jika sudah begitu, potensi terjadinya konflik horizantal bisa semakin memuncak,” tegasnya.

Untuk menghindari perpecahan NU, kedua kubu pendukung baik Khofifah atau Gus Ipul harus bijak, cerdas mengelola isu. Lelaki itu mengingatkan, polarisasi yang menyeret konflik horizontal antar pendukung, apalagi dalam lingkup keluarga, itu sangat berbahaya dan menyakitkan.

“Konflik dalam keluarga (sama-sama Nahdlatul Ulama) justru lebih menyakitkan dan lukanya lama untuk disembuh. Yang menghawatirkan, sebagaimana akibat Perang Paregreg, perang sesama anak kandung NU itu jika tidak terkelola dengan baik bisa menjadi awal kemunduran NU,” ingat dia. Dia mengingatkan, kekuatan NU kultural di Jawa Timur harus bisa mengambil peran jika ada potensi rusuh untuk mendamaikan dan mengademkan situasi jika terjadi polarisasi.

“Bukankah sudah muncul desas-desus politik, jika Gus Ipul di dukung PDIP, maka Khofifah di dukung Jokowi, jadi sama juga sami mawon. Untuk apa sebenarnya Cak Imin dan Khofifah sampai berperang statment?” kelakarnya.

Surokim: Terlalu dini sebut Jokowi ‘Bermain’ di Pilgub Jatim

Pengamat politik, Surokim Abdussalam yang staf pengajar di Univ. Trunojoyo malah sebaliknya menyebut terlalu dini jika ada yang mengatakan Presiden Joko Widodo ikut “bermain dua kaki” di Pilgub Jawa Timur. Karena, urai Surokim, track record Jokowi selama ini belum pernah berseberangan dengan Ketum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. khususnya soal dukungan terhadap kandidat.

“Saya pikir Pak Jokowi masih akan melihat respons DPP PDI Perjuangan dulu, baru mengambil sikap terkait dukungan personal,” ujar Surokim.

Dia berpendapat, psywar Cak Imin dan Khofifah hanya ajang pemanasan memancing perhatian Presiden Jokowi. Dan, menurutnya, Jokowi belum terpancing untuk segera menanggapi hal itu.

“Sebab secara geopolitik, Jatim merupakan ajang pertaruhan dan harga diri parpol termasuk PDIP, sehingga mereka tidak mau gegabah mengambil sikap dan tidak mengulang kekalahan di Pilgub DKI Jakarta,” urainya.

Tidak Elegan Cak Imin Dikte Presiden

Masih menurut Surokim, PKB dinilai sangat punya kepentingan agar Khofifah tidak maju di Pilgub Jawa Timur. Karena akan menjadi pesaing kuat bagi Gus Ipul yang didukung PKB. Dan, hingga saat ini partai itu terus bergerilya mengumpulkan dan ingin menambah kekuatan.

Dari sisi komunikasi politik, pancingan Cak Imin dinilainya kurang elegan. Karena seolah mau mendikte Presiden Jokowi, tapi itu memang efektif untuk sekedar menjadi jurus peringatan bagi Jokowi. Dan, jika Khofifah reaktif, itu pertanda masuk perangkap, mudah disudutkan.

Namun, sebaliknya Khofifah ternyata bisa menahan diri, tidak terpancing. Dan, itu menarik malah mengundang simpati serta dukungan. “Yang dilakukan Cak Imin kurang elegan, itu justru mengundang simpatik untuk Khofifah,” terang Surokim.

Lanjut Surokim, di lihat dari sudut politik praktis, ruang tersebut menguntungkan Khofifah. Karena ring politik diperlebar ke level nasional, dan di Jawa Timur banyak pintu mulai tertutup. Khofifah tergolong pintar dan bisa bermain di level pusat.

Kekhawatiran Cak Imin Pada Khofifah

Mengamati perkembangan politik jelang Pilkada Jaberim 2018 memang “seru-seru sedap”. Bayangkan, sesama kader NU malah bakal saling berhadap-hadapan jika Khofifah pada Oktober 2017 akan mendeklarasikan dirinya masuk dalam jajaran Cagub Jatim 2018. Yang lebih seru lagi, Khofifah belum lagi bersedia dicalonkan, Cak Imin komandan PKB ini lebih dulu  bermanuver menghadang Khofifah, dengan cara ‘mengatur’ Presiden Jokowi melarang Mensosnya tidak turun ke gelanggang Pilkada Jatim 2018.

Cak Imin, menurut beberapa pengamat memang nampak lebih ketar-ketir jika Khofifah maju nyagub. Salah satu pengamat politik dari Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago pernah mengatakan kepada media, ada ketakutan dan kekhawatiran dalam diri Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul kalau Khofifah maju pakai kendaraan partai lain. “Dia bisa saja disalip dan ditenggelamkan oleh Khofifah, Rabu (9/8).

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dinilai Pangi memang lebih nyaman mengusung Saifullah Yusuf ketimbang Khofifah. Tetapi apabila Khofifah sudah mengantungi restu dari dari Presiden Joko Widodo untuk mundur demi maju pada Pilkada Jatim, hal itu bisa menghadang Gus Ipul dan Cak Imin menganggap hal itu berarti bunuh diri.

Pangi menilai, dirinya tidak bisa memungkiri kehadiran Khofifah merupakan lawan tanding yang tangguh dan sebanding yang justru mampu menenggelamkan Saefullah. Maka, menjadi wajar saja jika orang nomor satu di PKB ini agak sedikit panik dengan kabar belakangan ini yang mengatakan Khofifah akan mengikuti Pilkada Jatim. Masih menurut Pangi, bila membedah hasil pilkada Jatim sebelumnya, Khofifah kan hanya kalah tipis dari Gubernur Jawa Timur sekarang, yaitu Soekarwo.

Apabila Khofifah kembali maju dalam Pilkada Jatim, menurut Pangi, justru bisa membuat Saefullah Yusuf menyerah tanpa syarat. Saefullah Yusuf dapat bertekuk lutut di hadapan Khofifah nantinya.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here