Khofifah Paling Populer di Jatim, Gus Ipul Lewat

0
117
"Khofifah ungguli Gus Ipul, Anang Hermansyah, Azwar Anas dan Mahfud MD dengan perolehan angka 81.2 persen" (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Hanya 3,2 persen warga Jatim yang tidak mengenal Khofifah Indar Parawansa. Sedangkan yang tidak mengenal Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf lebih banyak lagi, 6 persen. Begitulah kesimpulan hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) di Hotel Yello, Surabaya, Rabu (13/12) siang tadi.

Secara keseluruhan tingkat popularitas Khofifah mencapai 96,8 persen, di tempat kedua Gus Ipul 94 persen, tempat ketiga Anang Hermansyah 77,3 persen, selanjutnya Abdullah Azwar Anas 75,1 persen, Mahfud MD 69 persen, Emil Dardak 66,6 persen, La Nyalla M Mattalitti 65,7 persen dan Yenny Wahid 57,6 persen

Peneliti Senior SSC Viktor Tobing menegaskan popularitas Khofifah saat ini menduduki posisi puncak. Menteri perempuan asal Surabaya itu namanya terus melejit jauh di atas nama-nama besar lainnya, dan dipastikan akan terus meroket dan meraup banyak dukungan di Pilgub Jatim yang akan digelar Juni 2018, mendatang.

Popularitas Khofifah ungguli nama-nama kandidat lain (Foto: Tudji)

“Lantaran Khofifah merupakan sosok yang dikenal oleh 96.8 persen responden. Sementara, Gus Ipul hanya 94 persen responden, disusul Anang Hermansyah dengan 77.3 persen, dan Azwar Anas 75.1 persen,” terang Viktor dalam paparannya yang diberi judul “Pilgub Jatim Pertarungan Dua Gajah” di Hotel Yello Surabaya, Rabu (13/12/2017).

Baca Juga: Ini Kiat Demokrat Pulihkan Pamor di Pilkada Jatim 2018

Bagaimana dengan nama Emil Dardak yang baru saja dipilih sebagai Cawagub Khofifah? Masih kata Viktor, dikatakan kalau Bupati Trenggalek tersebut menduduki posisi ke 6 dengan perolehan 66.6 persen.

Sementara, dari sisi akseptabilitas, Khofifah kembali juga mendapatkan poin tertinggi. Khofifah mengungguli Gus Ipul, Anang Hermansyah, Azwar Anas, dan Mahfud MD dengan perolehan sebesar 81.2 persen.

Akseptabilitas Khofifah ungguli nama-nama kandidat lain (Foto: Tudji)

Secara berurutan Gus Ipul memperoleh 80.9 persen, Anang Hermansyah mendapatkan 35.6 persen, Azwar Anas mendapat 60.9 persen, sedangkan Mahfud MD mengantongi 65.6 persen. Kemudian, Emil Dardak menjadi yang merupakan cawagub Khofifah oleh bakal pemilih dianggap layak menjadi wakil gubernur dengan perolehan angka 59.6 persen dari responden.

Juga Muncul Nama Yenny Wahid dan Azrul Ananda

Menariknya, masih kata Viktor dalam hasil survei kali ini, nama Yenny Wahid dan Azrul Ananda muncul dalam 10 besar hasil survei popularitas dan elektabilitas untuk nama-nama yang layak maju di Pilgub Jatim 2018. Padahal, sebelumnya, kedua nama tersebut tidak pernah muncul dalam hasil survei sebelumnya.

Nama Yenny Wahid muncul, digadang maju Pilgub Jatim

Yenny Wahid, yang merupakan putri dari Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mendapatkan perolehan 57.6 persen untuk popularitas dan 48.9 persen untuk akseptabilitas. Sedangkan Azrul Ananda yang anak dari Dahlan Iskan mantan Menteri BUMN di era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapatkan 11.8 persen untuk popularitas dan 7.6 persen untuk akseptabilitas.

Baca Juga: Cita-cita Emil, Bangun Jatim Seperti Belanda

Menurut Peneliti Senior SSC Viktor Tobing kembali menekankan, faktor popularitas dan akseptabilitas merupakan dua hal yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan untuk digunakan sebagai modal keterpilihan cagub dan cawagub. Akan tetapi, ada salah satu hal potensial lainnya yang menjadi sangat penting untuk kaitannya dengan Pilgub Jatim 2018.

“Popularitas positif yang mengerucut pada diri seseorang memang dapat menyedot perhatian masyarakat banyak. Namun, bukan berarti perhatian menjadi salah satu pilihan pada ujungnya nanti. Kita tahu bersama bahwa masyarakat Jawa Timur kental religiusitas. Kepatuhan akan panutan menjadi sangat penting. Jadi, faktor lain yang menjadi penting adalah restu dari para panutan. Itu menjadi salah satu jati diri masyarakat Jawa Timur. Nanti, semuanya itu akan menjadi satu kesatuan utuh dalam pertimbangan pemikiran masyarakat Jawa Timur dalam menentukan pilihannya,” jelas Viktor.

Viktor kembali menegaskan kalau data tersebut di atas diperoleh melalui survei yang dilakukan oleh Surabaya Survei Centre (SSC) di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur pada kurun waktu 25 November-8 Desember 2017. Survei yang dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan melakukan tatap muka langsung dengan 940 responden. Tingkat kepercayaan dari hasil tersebut sebesar 95 persen dengan margin of error 3.2 persen.

Untuk diketahui, hingga saat ini yang dikenal masyarakat sosok yang akan maju di Pilgub Jatim adalah pasangan Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas yang diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Serta pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak, mereka diusung Partai Golkar, Partai Demokrat (PD), Partai Nasional Demokrat (NasDem), Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Perlu Ada Terobosan Baru untuk Sosialisasi Pilgub Jatim

Masih dalam rangkaian hasil survei yang dilakukan Surabaya Survey Centre (SSC), disebutkan jumlah masyarakat Jatim yang belum paham bahwa di tahun 2018 akan diadakan Pilgub Jatim nampaknya masih sangat tinggi. Hasil survey yang telah dilakukan SSC menunjukkan bahwa 43.4 persen responden masih belum mengetahui bahwa pesta demokrasi untuk memilih pemimpin baru, yakni gubernur dan wakil gubernur Jatim bakal diselenggarakan Juni 2018.

KPU dinilai belum maksimal melakukan sosialisasi jelang pelaksanaan Pilgub Jatim

Itu terungkap dari sebanyak 940 responden, sebanyak 408 orang masih belum mengetahui tentang Pilgub Jatim yang akan diselenggarakan di tahun 2018. Kemudian, 66.6 persen sisanya atau 532 responden sudah paham bahwa Pilgub bakal diselenggarakan tahun depan.

Peneliti Senior SSC Surokim Abdussalam memandang bahwa temuan tersebut dapat diartikan bahwa KPU Jatim belum menunjukkan keseriusannya dalam kaitan sosialisasi terkait akan digelarnya pemilihan gubernur dan wakil gubenur Jatim 2018.

“Saat ini kan 10 bulan menjelang Pilgub, tapi gregetnya tidak ada terkait dengan informasi tahapan Pilkada serentak atau hal lain yang bisa memantik perhatian dan rasa ingin tahu publik,” kata Rokim.

Baca Juga: KPU Jatim Minta Masyarakat Gunakan Hak Pilih

Pria yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Trunojoyo, Madura tersebut juga memandang bahwa perlu ada kolaborasi antara KPU Jatim dengan berbagai kelompok masyarakat. Sosialisasi melalui jejaring dengan media yang potensial juga dilihat mampu untuk menyalurkan informasi tersebut kepada masyarakat di Jatim.

“Karena jika dibiarkan, wajar saja apabila kemudian masyarakat menjadi apatis dan adem ayem. Jumlah golput semakin lama akan semakin tinggi jika tidak ada yang bisa memantik partisipasi politik dalam pemilu. Disini, penyelenggara pemilu dituntut untuk proaktif dalam kaitan melakukan sosialisasi,” tegasnya.

Selanjutnya, masih kata Rokim, banyak faktor yang membuat publik tidak merespon terhadap pelaksanaan Pemilu. Seperti misalnya, penyelenggaraan Pemilu tidak mampu memberikan solusi kongkrit kepada para pemilih rasional. Kalau sudah begitu, apabila penyelenggara tidak kreatif dalam melakukan terobosan sosialisasi, maka masyarakat tidak akan tertarik.

Di sisi lain, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan juga didapatkan data bahwa 27.7 persen dari seluruh responden mengatakan bahwa mereka masih belum pasti akan menggunakan hak pilih mereka atau tidak. Temuan tersebut dapat diartikan bahwa 260 responden masih memiliki kemungkinan untuk tidak menggunakan hak pilihnya pada hari pemilihan kelak. Hal itu, Rokim menyebutnya merupakan bagian dari fenomena demokrasi yang merebak saat ini.

“Fenomena demokrasi mutakhir ini menjadikan angka swing voters dan angka undecided voters akan terus meningkat,” terang Rokim.

Selain itu, agar masyarakat tidak menjadi semakin apatis alias tidak mau tahu, Rokim ikut mengajak dan menghimbau agar para peserta Pemilu juga harus mampu membawa angin segar bagi proses demokrasi tersebut.

“Mereka (pasangan bakal calon di Pilgub Jatim) harus kreatif dalam adu program. Tidak boleh justru saling olok mengolok, itu justru menjadikan Pilgub Jatim nampak berselera rendah,” pungkasnya.

Jadi, bisa disimpulkan dari yang disampaikan peneliti dari SSC, yakni Rokim sangat gamblang dan terang benderang. Bahwa masyarakat Jatim butuh perubahan menuju lebih baik, di segala bidang. Bukan hanya saling olok, tetapi yang diharapkan adalah adu program, meyakinkan pemilih serta kelak bisa mewujudkan kemajuan di Jatim dan mensejahterahkan masyarakatnya.

Sejumlah bidang yang perlu mendapat penanganan serius dari kandidat terpilih nantinya yakni, harus bisa
1. Menuntaskan Kemiskinan,
2. Memeratakan pembangunan infrastruktur,
3. Mewujudkan pendidikan gratis,
4. Menciptakan perluasan lagangan kerja,
5. Menciptakan pelayanan kesehatan yang baik,
6. Memajukan pertanian,
7. Meningkatkan pelayanan publik dan lainnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here