Khofifah Siap Benahi Pasar, Gus Ipul Janji Bantu Nelayan

0
31
Deklarasi Tolak dan Lawan Politik Uang di Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim 2018 (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Ini yang dilakukan para Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur yang akan maju di Pilgub Jatim 2018. Blusukan, alias turun langsung ke berbagai komunitas dan kegiatan masyarakat terus dilakukan, ke berbagai wilayah di Jatim. Selain untuk menerapkan program kerja, melihat langsung kondisi masyarakat sepertinya sebuah keharusan. Termasuk juga untuk mendulang suara di ‘hari H’ pemilihan yang digelar 27 Juni 2018.

Khofifah misalnya, yang maju di pemilihan kepala daerah bersama Emil Elistianto Dardak, dari sejumlah kegiatan yang dilakukan tak lupa juga menyempatkan mendatangi pasar tradisional. Seperti yang dirumuskan, jika terpilih nanti akan melakukan pembenahan infrastruktur pasar tradisional, tidak becek, dan nyaman buat pedagang juga pembeli. Dan, rencana itu, tercatat dalam daftar teratas program kerjanya Nawa Satya Bhakti.

Pasar tradisional yang selama ini kumuh, becek dan tidak nyaman, harus dibenahi termasuk berbagai infrastrukturnya. Pasar tradisional sebagai pusat perekonomian, tempat bertemunya pedagang dan pembeli, selama ini tidak terawat dengan baik, kumuh dan berbau. Itu harus diubah, harus nyaman, bersih, dan harus dilengkapi dengan sejumlah fasilitas.

Pembenahan infrastruktur pasar tradisional masuk daftar pertama program kerjanya. Untuk segera dilakukan pembangunan dan pembenahan dan penambahan berbagai infrastruktur, agar pertemuan antara pedagang dan pembeli dalam jalinan jual-beli di pasar tradisional berlangsung nyaman.

“Kunjungan ini bagian dari navigasi program kami. Karena itu, saya harus turun dan melihat langsung problem di pasar tradisional,” ujar Khofifah saat melihat kondisi Pasar Taman di Sidoarjo, (28/2/2018).

“Mereka hanya minta jangan digusur, minta agar dilindungi dan seterusnya. Itu sesuatu yang tidak neko-neko, dan harus kita dengar”

Melihat dari dekat kondisi pasar adalah cara terbaik untuk mengenal, kemudian bisa melakukan pemetakan serta dilakukan solusi pemecahan masalah. Menurut Khofifah, pasar tradisional adalah kondisi natural yang terjadi sehari-hari. Pertemuan pedagang dan pembeli sangat natural, mereka tidak neko-neko. Mereka ingin yang dilakukan di pasar dilindungi dan memiliki fasilitas memadai.

“Mereka itu (pedagang dan pembeli) tidak neko-neko dan perlu dilindungi, bagi saya seeing is believing,” ungkapnya.

Melihat kondisi pasar tradisional yang terus terjadi seperti saat ini. Khofifah telah menyiapkan sejumlah program prioritas kerja, terobosan untuk membuat nyaman pasar tradisional.

“Untuk pasar yang basah, kita harus memberi prioritas infrastruktur. Kalau kita ingin melindungi pasar tradisional salah satunya memang harus nyaman. Mereka tidak menuntut harus ada AC, mereka hanya minta yang berjualan dan membeli sama-sama nyaman, tidak becek, aroma juga bisa dikurangi. Mereka sama-sama sehat,” urainya.

Rumusan yang dilakukan pasangan Khofifah-Emil, termasuk pembenahan pasar tradisional itu terjabar dalam programnya, Nawa Bhakti Satya. Tepatnya melalui kerja nyata yang terjabar di dalam program Jatim Akses. Karena pedagang dan pembeli yang setiap hari bertemu di pasar tradisional juga memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya, yakni menikmati fasilitas kenyamanan, yang merupakan bagian dari program pembangunan di Jatim. Dan, pastinya jika pasar tradisional bersih, nyaman dan dilengkapi fasilitas penunjang akan berdampak pada pengembangan wilayah terpadu. Serta memperlancar mobilitas komoditas pangan dan sandang ke berbagai daerah di Jatim. Termasuk juga untuk menurunkan angka ketimpangan antara kota dan desa.

“Mereka hanya minta tolong jangan digusur, minta dilindungi dan seterusnya dan itu harus kita dengar”.

Menurut Khofifah, kalau ingin melindungi pasar tradisional salah satunya harus diciptakan suasana yang nyaman dan sehat, karena itu lah hal pokok yang dibutuhkan oleh pedagang juga oleh para pembeli. Semoga terwujud.

Gus Ipul Ajak Nelayan Jadi Wirausahawan

Gus Ipul sambangi warga nelayan di Kenjeran, Surabaya (Foto: TIM GI)

Untuk pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur, bersama sejumlah Slankers Jatim menemui ratusan nelayan di kawasan Kenjeran, Bulak, Surabaya, siang tadi (28/2/2018).

Dibalut ‘Silaturahmi dan Sosialisasi’ menemui nelayan untuk menyerap aspirasi warga pesisir. Tujuannya, jika kelak terpilih sebagai Gubernur Jatim, pasangan itu bisa benar-benar sesuai yang diinginkan masyarakat, utamanya warga pesisir.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Gus Ipul tiba di kawasan Kenjeran, Surabaya dan langsung disambut para slankers kemudian masuk ke gang-gang sempit perkampungan nelayan.

Bersalaman dan menyapa dilakukan Gus Ipul di sepanjang gang-gang sempit perkampungan padat penduduk itu. Ketika berpapasan dengan anak-anak nelayan, Gus Ipul juga menyalaminya dan mengecup kening mereka.

Di ujung gang di pinggir laut, sebuah panggung telah disiapkan. Di tempat itu kemudian digelar dialog bersama warga. Dan, yang pasti bukan hanya menampung aspirasi yang diinginkan warga, harapan dukungan di pemilihan Gubernur Jatim, pastinya tak luput.

Ketua Paguyuban Udang Renon Sukolilo, Abdul Rohim mengatakan di kampungnya saat ini ada 154 nelayan, dengan perahu sederhana mereka mengais rezeki dengan menangkap udang rebon di pesisir. Masyarakat mengaku udang rebon adalah ikan andalan yang menjadi incaran mereka.

“Sayangnya kalau udang rebon melimpah kami ini tidak memiliki lokasi menjemur. Akhirnya udang banyak yang busuk, dan kami buang lagi ke laut,” kata Rohim.

Selain minimnya lokasi untuk menjemur ikan, para nelayan di kawasan itu juga mengeluhkan kondisi perahu mereka yang sudah tua dan banyak yang bocor.

Hanafi, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kecamatan Bulak menambahkan para nelayan masih cenderung menjual ikan mentah dengan harga murah. Karena belum ada sarana dan prasarana untuk dilakukan pengolahan. “Sehingga itu belum menguntungkan,” ujarnya.

Menanggapi itu, Gus Ipul menyebut satu di antara strategi yang akan diterapkan untuk meningkatkan taraf hidup nelayan, yakni akan dilakukan peningkatkan nilai hasil produksi.

“Nelayan seharusnya tak lagi menjual hasil mentah, bisa menjadikannya dalam bentuk olahan. Kami harus bekerja keras untuk memberikan nilai tambah hasil tangkapan nelayan ini. Caranya, bapaknya yang menangkap, ibunya memproses sehingga menjadi produk lain,” urai Gus Ipul yang ditanggapi antusias para nelayan.

Di contohkan, produk olahan ikan teripang misalnya, untuk satu kilogram teripang basah, hanya dihargai Rp3 ribu. Harga itu jauh di bawah teripang yang telah diproses, yang bisa mencapai Rp170-200 ribu per kilogram.

Pengolahan hasil tangkapan bisa dikembangkan oleh para kaum ibu. Kemudian bisa dijual dengan kemasan yang bagus, untuk menarik minat pembeli. Dalam pertemuan itu, Gus Ipul ingin menumbuhkan semangat para nelayan untuk menjadi wirausahawan, tak sekadar sebagai pencari ikan semata.

“Kami ingin menumbuhkan jiwa wirausaha di kalangan keluarga nelayan. Anak nelayan akan kami bimbing menjadi pengusaha dengan menciptakan pasar,” urainya.

Untuk mewujudkan itu, pihaknya akan melakukan beberapa langkah. Pertama, akan memberikan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kampung nelayan itu. Kedua, akan menyediakan permodalan dengan bunga yang sangat murah. Ketiga, akan melakukan riset pasar untuk memahami apa yang dibutuhkan oleh pasar.

“Sebab, yang jadi masalah sebenarnya adalah pasar serta bagaimana memproduksi sesuatu sesuai dengan yang dimaui pasar,” jelasnya.

Lanjut Gus Ipul, pihaknya sangat ingin ekonomi nelayan terus meningkat melalui pemberdayaan ekonomi perempuan serta mendatangkan teknologi pengolahan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here