Khofifah Terbaik, Gus Ipul Berat Tanpa Soekarwo

0
323

Nusantara.news, Surabaya – Kepastian Partai Golkar akan mengusung siapa dalam perhelatan Pilgub Jatim 2018 sudah tak samar lagi. Sudah hampir dipastikan, tiket Partai Golkar akan diserahkan ke Khofifah Indar Parawansa. Sinyal itu bisa ditangkap dari lampu hijau yang dinyalakan sebagian besar elit Partai Golkar.

Kendati belum ada pernyataan resmi, namun dukungan pada Khofifah diperkuat oleh pernyataan Wakil Ketua DPP Partai Golkar Zainuddin Amali. Bahkan, keputusan partai berlambang pohon beringin itu diakuinya sudah dibicarakan jauh-jauh hari antara Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto dengan KH Hasyim Muzadi sebelum wafat.

“Mas Nusron Wahid yang bertanggung jawab pada pemenangan pemilu untuk wilayah Jawa-Sumatera, secara tegas juga sudah mengatakan akan mendukung Mbak Khofifah,” kata Zainuddin Amali, saat berada di Jalan Raya Juanda Kabupaten Sidoarjo, Minggu (14/5/2017).

Sikap politik Partai Golkar juga sudah diungkapkan Setya Novanto, saat berada di Surabaya. Hanya saja, saat itu dia tidak menyebutkan langsung kepada siapa dukungan partai yang dinahkhodainya ditujukan.

Dia hanya menyebut akan menyerahkan dukungannya ke kader terbaik Nahdlatul Ulama (NU).

“Kader NU belum pernah memimpin Jawa Timur. Padahal, Jatim basisnya NU, sekarang ini saatnya Jatim dipimpin kader NU,” kata Setya Novanto, Sabtu (6/5/2017).

Setya Novanto mengaku, ada tiga nama yang saat ini bersaing dalam sejumlah survei Pilgub Jatim 2018. Mereka adalah Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, Khofifah Indar Parawansa, dan Tri Rismaharini atau Risma.

Di antara tiga nama itu, tercatat dua orang yang berada di lingkaran NU. Yakni, Gus Ipul, dua periode menjabat Ketua Umum GP Ansor, dan Khofifah yang sampai sekarang menduduki posisi sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU.

Khofifah Kader Terbaik NU

Bila mengamati reputasi, popularitas, dan elektabilitas, sosok Khofifah lebih patut dikedepankan sebagai kader terbaik NU. Selain karena rekam jejak politiknya yang moncer, Khofifah juga dinilai memiliki dukungan lebih riil lewat suara warga Muslimat NU.

Hal itu seperti yang dikatakan Wakil Sekretaris Pemenangan Pemilu Golkar Jawa Timur Aan Ainur Rofiq. “Setelah membandingkan dengan sejumlah capaian para kader NU, label kader NU terbaik melekat pada Khofifah,” Aan Ainur Rofiq.

Khofifah sebagai kader NU juga punya catatan positif selama dua kali menjabat menteri, dan Ketua Pmum PP Muslimat NU hingga saat ini. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi Partai Golkar untuk tidak mendukung Khofifah.

“Khofifah inilah kader terbaik NU yang saat ini yang namanya muncul sebagai kandidat dalam Pilgub Jawa Timur,” tegas politisi yang akrab disapa Aan itu.

Penilaian serupa juga pernah diungkapkan Ketua Bidang Bina Wilayah Jawa IV (Jawa Timur) DPP Partai Hanura Yunianto Wahyudi. Menurut politisi yang kerap dipanggil Masteng itu, sosok Khofifah bukan sekadar menjadi jangkar, tetapi juga ceruknya NU. Khofifah dinilai punya peran potensial untuk mempersatukan NU.

Predikat kader terbaik NU yang melekat pada Khofifah tak hanya disematkan para politisi. Perspektif sama juga diutarakan oleh kalangan akademisi.

Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Awang Dharmawan mengatakan, Khofifah dan Gus Ipul memang sama-sama punya elektabilitas tinggi sehingga keduanya juga punya nilai tawar untuk didukung parpol, termasuk Partai Golkar. Namun, jika Partai Golkar bicara kader terbaik NU, dia meyakini kader terbaiknya adalah Khofifah.

“Terlebih Golkar saat ini belum punya kader yang elektabilitasnya bisa menandingi Khofifah. Partai Golkar hanya bisa bersaing untuk Jatim 2 melalui Ridwan Hisjam. Oleh sebab itu, Khofifah layak diandalkan Partai Golkar pada Pilgub Jatim 2018 mendatang,” kata dosen muda Ilmu Komunikasi Unesa itu.

Hal sama diungkapkan aktivis dari LSM Center for Islam and Democracy Studies (CIDe’), Mathur Husyairi. Dikatakannya, antara Gus Ipul dan Khofifah sama-sama merupakan kader terbaik NU. Namun, jika melihat loyalitasnya pada NU dan program-program pemberdayaan masyarakat, Khofifah yang terbaik.

“Dilihat dari kepemimpinan, etos dan semangat kerja serta leadership-nya, Khofifah lagi lagi lebih unggul ketimbang Gus Ipul,” kata Mathur, aktivis anti-korupsi yang pernah ditembak orang tak dinekal lantaran getol menyuarakan kasus korupsi.

Menjelang gelaran Pilgub Jatim 2018, Khofifah lebih diunggulkan masyarakat untuk melanjutkan tongkat estafet kepimpinan Soekarwo (Pakde Karwo), setelah dua periode masa jabatannya sebagai Gubernur Jatim berakhir.

Ihwal peta dukungan masyarakat Jatim sebagai basis NU, tak bisa disangkal, Khofifah dikenal memiliki patron sosiologis dan kultural dengan tokoh strategis di NU. Khofifah lama menjadi santri politik KH Hasyim Muzadi (Alm), mantan Ketua Umum PBNU yang sangat loyal dan konsisten.

Dalam perspektif patron sosiologis, pondok pesantren merupakan institusi pencerahan paling strategis di kalangan warga NU. Khofifah berada di poros Tebuireng Jombang, pondok pesantren pimpinan K.H. Solahuddin Wahid (Gus Solah).

PusDeHam: Khofifah Layak Jadi Gubernur

Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Ham (PusDeHam) Jatim, Muhammad Asfar mengatakan, suara kaum nahdliyin di Jatim sangat besar, setidaknya bisa mencapai lebih dari 60 persen dari total pemilih.

Siapa yang akan dijagokan kaum Nahdliyin? NU memang memiliki sejumlah tokoh mumpuni untuk diusung sebagai bacagub. Hanya saja, menurut Asfar, gerakan politik kader nahdliyin cenderung tidak pernah menyatu karena terdiversifikasi ke dalam beberapa partai dan calon. Sehingga, sulit memiliki pasangan calon tunggal.

“Pada dua pilgub sebelumnya, NU terpecah dengan majunya Khofifah dan Gus Ipul. Akibatnya, NU yang seharusnya sudah memiliki gubernur 10 tahun lalu, akhirnya masih harus menunggu. Kalau 2018 juga terpecah, maka akan menjadi pekerjaan luar biasa bagi kader NU,” paparnya.

Asfar lantas mengingatkan, kalau saja kekuatan NU terpecah, menyatu, maka hampir bisa dipastikan nama di luar lingkaran NU seperti Risma bakal memanfaatkan peluang. Untuk itu dia berpesan, agar dukungannya warga NU tidak boleh lagi terpecah. Warga NU  harus berpihak kepada salah satu yang terbaik.

Persoalannya, siapa di antara kedua kader terbaik yang mampu memperjuangakan kemaslahatan warga NU dan yang integritasnya teruji dan layak didukung?

“Itu bisa dilihat track record mereka ketika memegang posisi di jabatan publik. Sejauh mana sang tokoh mampu berjuang untuk kepentingan NU melalui bidang pengabdian masing-masing, dia-lah yang disebut terbaik,” tegas Asfar.

Asfar menambahkan, kalau diminta memilih salah satu dari dua tokoh, maka pertanyaannya adalah, siapa di belakang mereka. Kalau dua tokohnya adalah Gus Ipul dan Khofifah, maka pertanyaannya, siapa di belakang masing-masing tokoh, dan siapa di antara keduanya yang bisa menunjukkan kemandirian dan tidak tersandera hingga menjadi “boneka” oleh orang yang berada di belakang mereka. “Yang mampu mandiri dan tidak menjadi boneka, itulah pilihan karena integritasnya teruji,” kata Asfar.

Terkait peluang menang, Asfar mengungkapkan, sosok Khofifah lebih berpeluang. Itu karena di ajang Pilgub 2018, Gus Ipul lepas dari figur Pakde Karwo.

“Dari pengalaman pribadi saya mengikuti dua kali Pilgub Jatim, maka pilgub kali ini ujian berat bagi Gus Ipul. Sebab, Gus Ipul tak bisa lagi mengandalkan langsung dukungan dan pengaruh Pakde Karwo,” terangnya.

Dalam konteks itu, Khofifah diprediksi memiliki ruang leluasa dan bakal tanpa beban bertarung di arena Pilgub 2018 nanti. Dengan modal elektabilitas dan dukungan masyarakat Jatim yang mayoritas warga NU, Khofifah diyakini akan dengan mudah mengungguli Gus ipul.

“Jadi kalau membandingkan kedua kandidat NU dari sisi elektabilitas, ibarat gunung batu dan gunung es. Gus ipul ibarat gunung batu dengan elektabilitasnya itu sebesar yang terlihat. Sedangkan Khofifah ibarat gunung es, yang di permukaan tampak kecil namun di dalam air luar biasa besarnya,” tutup Asfar. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here