Khofifah Tetap Terbaik, Yenny Wahid Merusak Suasana

0
232
Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang KH Sholahuddin Wahid menilai Khofifah tetap terbaik dari kader NU, bahkan meskipun dua keponakannya maju dalam Pilgub Jatim 2018.

Nusantara.news, Jawa Timur – Majunya tiga kader Nahdlatul Ulama (NU) yang bakal bersaing di Pilkada Jawa Timur 2018 tidak membuat gerah Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang KH Sholahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Sholah.

Bahkan menurutnya, meski dua keponakannya maju Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Zanubah Arifah Hapsah atau Yenny Wahid, putri Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dikabarkan maju diusung PAN, Gerindra, dan PKS, Gus Sholah tetap pada pendiriannya. Pilihannya tetap Khofifah Indar Parawansa.

“Ya enggak (berubah dukungan) lah kita pilih yang terbaik. Dari ketiga (Yenny, Gus Ipul, Khofifah) itu yang terbaik ya Khofifah. Jelas yang terbaik,” ujar Gus Sholah di Kantor DPP Partai NasDem, Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (2/1/2017).

Kata Gus Sholah, majunya dua keponakannya dalam Pilkada Jatim merupakan hak setiap partai untuk mencalonkan. Dirinya juga mengaku tidak masalah meski kedua keponakannya merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

Adanya rivalitas tiga kader NU tersebut, terang Gus Sholah, akan membuat partisipasi Pilkada Jatim 2018 semakin semarak.

Mantan Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) ini menambahkan, saat ini Khofifah memang yang paling memenuhi syarat untuk menjadi Gubernur Jawa Timur. Dia tidak melihat pilihan gubernur berdasarkan kekerabatan.

Baca juga: NU-Muhammadiyah Bersatu Bila Yenny Wahid Maju Pilgub Jatim

Yang namanya ikatan keluarga, lanjutnya, tak akan bicara banyak dalam pemilihan kepala daerah. Masyarakat Jawa Timur dipercaya bisa memilih sosok pemimpin yang baik. Bahkan seandainya yang maju adalah anaknya sekalipun, Gus Sholah akan tetap memilih Khofifah.

“Andaikan yang maju anak saya pun tetap Khofifah, karena anak saya tidak lebih baik dari pada Khofifah,” jelas adik dari Gus Dur ini.

Ketua Tim 9 yang berisikan para kiai dan ibu nyai tersebut juga optimistis bahwa Khofifah akan memenangi Pilgub Jatim 2018, meski pernah dua kali ‘dikalahkan’ pada Pilgub Jatim 2008 dan 2013.

Meski demikian, Gus Sholah menghargai dan mempersilakan Gerindra mencalonkan siapa saja, termasuk Yenny Wahid. “Tentunya hak semua partai mencalonkan, dan hak semua orang untuk dicalonkan,” ujarnya.

Kendati demikian, Gus Sholah tetap mengingatkan bahwa perbedaan pilihan politik jangan sampai mempengaruhi keutuhan NU.

“Saya cuma menyampaikan kepada tokoh-tokoh NU, kita jagalah, jangan rusak, jangan kita ganggu keutuhan NU,” katanya.

Gus Sholah menekankan, khusus Muslimat NU, organisasi perempuan Nahdliyin, yang terancam terpecah belah kalau ada pihak-pihak luar yang memaksakan mengajukan calon lain. “Jangan sampai anggota Muslimat dipaksa oleh tokoh NU yang bukan dari Muslimat,” tuturnya.

Disadarinya, bahwa yang namanya perbedaan pilihan tidak mungkin terhindarkan. Namun, pihaknya mewanti-wanti saling menjaga agar situasi politik tak memanas seperti dalam Pilkada DKI Jakarta pada 2017, terutama jika Partai Gerindra dan PKS memutuskan mencalonkan Yenny Wahid.

“Jadi, kalau anggota Muslimat terpengaruh atau dipaksa, itu mengganggu, dan tak mensyukuri nikmat Tuhan berupa organisasi Muslimat NU. Tentu lebih baik satu. Tapi kenyataannya ada dua (kader NU). Sekarang bagaimana ada dua calon ini tidak mengganggu keutuhan NU dan mengganggu keutuhan Muslimat NU,” ujarnya.

Khofifah Tidak Gentar

Khofifah mengaku tidak gentar apabila Yenny Wahid memilih maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur. Dikatakan Khofifah majunya Yenny Wahid tidak akan mempengaruhi soliditas dari tim pemenangannya. Menurutnya, majunya Yenny Wahid merupakan hal yang wajar.

“Saya tidak pernah melihat hadirnya, misalnya kandidat baru, pasangan baru, lebih berat atau lebih ringan. Saya harus tempatkan posisi harus dikuatkan dan solid. Saya (untuk Yenny Wahid) gak pada posisi mengomentari itu ya. Demokrasi ini membuka ruang kepada siapa saja untuk berproses dalam membangun negeri ini ya,” ujar Khofifah di Kantor DPP Partai NasDem, Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (2/1/2017).

Menteri Sosial RI tersebut juga menerangkan bahwa ia ingin membangun demokrasi yang berkualitas pada Pilkada Jawa Timur. Karena itu, ia tak ingin ada kampanye-kampanye hitam yang digunakan.

“Kita bersama ingin bangun demokrasi yang berkualitas. Jangan ada black campaign. Di lapangan sudah mulai ada. Insya allah kalau saya dan Mas Emil (Elistianto Dardak) enggak meladeni dan itu memang tidak bisa dihindari pada pilkada,” ucap Khofifah.

Khofifah saat ini diketahui sudah mendapat dukungan dari Partai Demokrat, Nasdem, PPP, dan Partai Golkar. Dari dukungan ini, Khofifah-Emil mengantungi total 38 kursi DPRD Jawa Timur.

Terpisah, Sekretaris Jenderal Jaringan Muda Nahdlatul Ulama (JMNU) M Adnan Rara Sina menilai, Yenny Wahid sebenarnya tidak perlu maju di Pilkada Jawa Timur. Sebab, dia memiliki tugas lebih berat daripada sekedar maju dalam gelaran Pilkada. Menurut dia, tugas menyatukan kaum Nahdliyin di Pilkada Jawa Timur itulah yang seharusnya menjadi tugas Yenny.

“Yenny saat ini sudah harus mengambil peran dan tugas sejarah di pundaknya dengan berdiri di tengah antara dua kader terbaik Nahdlatul Ulama (Khofifah dan Gus Ipul) yang maju di Pilkada Jatim,” ujar Adnan.

Meski belum semua Parpol mendukung Khofifah dan Gus Ipul, karen masih ada Gerindra, PAN dan PKS yang berpeluang mencari calon alternatif, tapi tidak seyogyanya memilih kader NU. Sebab, itu sama saja dengan membenturkan warga NU.

Meski Yenny Wahid notabene putri Gus Dur, dan memiliki garis keturunan langsung pendiri NU KH Hasyim Asyari, tapi daya tawar dan potensi elektoralnya belum tentu tinggi. Mengingat pertarungan sesungguhnya adalah Gus Ipul dan Khofifah.

Adnan menganggap, Yenny Wahid sebagai anak biologis dan anak ideologis Gus Dur harus berdiri dan mengayomi dua kader terbaik Gus Dur tersebut. “Yenny punya tugas sejarah dan warisan untuk mempersatukan semua kader NU,” terang dia.

Yenny Wahid sebenarnya sudah memulai langkah dengan baik saat mengundang Khofifah dan Gus Ipul di acara haul Gus Dur di Ciganjur 22 Desember 2017 silam. Dalam sambutannya, Yenny ikut mendoakan keduanya agar sukses serta tetap menjaga rasa ‘ukhuwah’ dan saling menghormati dalam berkompetisi. Langkah Yenny inilah yang membuat tradisi berdemokrasi di lingkungan NU sangat baik.

“Yenny mampu menjaga momen elektoral agar dapat mendewasakan tradisi demokrasi dalam keluarga besar NU bahwa perbedaan dalam melakukan ijtihad politik adalah hal yang lumrah, bukan malah mempertajam politik kubu-kubuan dalam keluarga besar NU,” kata dia.

Sudah saatnya Yenny mengambil peran dan tugas sejarah di pundaknya dengan berdiri di tengah antara Gus Ipul dan Khofifah. Pasalnya, positioning politik Yenny saat ini sudah berada di level nasional.

Yenny sendiri hingga pukul 21.00 WIB, baru memberi keterangan pada awak media setelah bertemu Prabowo Subianto di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/1/2018). Dia menolak pinangan Partai Gerindra untuk maju sebagai calon gubernur Jawa Timur.

“Tawaran tersebut saya pertimbangkan dengan matang, tetapi kami keluarga Gus Dur meyakini punya tugas sejarah untuk menjaga bangsa ini dan memastikan keluarga NU (Nahdlatul Ulama) tidak pecah,” kata Yenny.

Menurutnya, sebagai anggota keluarga Gus Dur, dirinya diminta untuk tidak masuk dalam kontestasi yang sedang berlangsung. Yenny juga berterima kasih kepada Prabowo karena telah menawarinya untuk maju di Pilkada Jawa Timur.

Ia mengaku sangat menghormati mantan Komandan Jenderal Kopassus itu meski menolak tawaran Prabowo. Menurut dia, Prabowo merupakan sosok dengan visi yang jauh ke depan.

“Sejak saya kenal beliau (Prabowo), visinya sangat jauh ke depan, beliau punya gagasan besar untuk Indonesia,” tutur Yenny.

Sementara itu, Prabowo menghormati sepenuhnya keputusan Yenny itu. “Kami hormati keputusan keluarga Gus Dur, NU, dan kami yakin beliau akan terus berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tutur Prabowo dalam kesempatan yang sama.

Selama ini klaim Yenny Wahid punya pengaruh besar dan dapat mengubah peta politik di Pilgub Jawa Timur, banyak yang memandang sebagai sebuah ilusi semata. Meski Yenny anak biologis Gus Dur, namun Yenny hanyalah dayang-dayang dan representasi kelompok sekuler yang tidak memiliki basis kuat di masyarakat.

Dengan mengandalkan nama besar Gus Dur untuk mengusung Yenny Wahid, Parpol koalisi (Gerindra, PKS, PAN) jelas akan menuai kekalahan telak. Bahkan memperburuk citra Prabowo dan Gerindra di mata rakyat.

Prabowo Subianto dan mitra koalisinya, memang harus berhitung matang agar tidak membuat keputusan yang konyol. Pasalnya, masih banyak tokoh asal Jatim yang patut dilirik oleh Gerindra dan partai kubu oposisi. Belum lagi rekam jejak Yenny Wahid terlanjur terkenal sebagai salah satu aktor yang gigih membela narapidana penista Alquran, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pilgub DKI 2017.

Beberapa nama politisi Gerindra, PKS dan PAN yang sempat muncul di publik, mestinya diberi kesempatan untuk tampil. Peluang mereka di Pilgub sebenarnya perlu dipertimbangkan, jangan sampai potensi yang tersedia dinafikan. Dari Gerindra sudah ada La Nyalla Mattaliti dan Moreno Suprapto. Sementara di PAN ada Bupati Bojonegoro Suyoto (Kang Yoto) dan Masfuk. Nama-nama inilah yang seharusnya diberi peluang untuk tampil.

Baca juga: Duet Suyoto-Moreno Ramaikan Pilkada Jatim

Peta pertarungan Pilgub Jatim harus diakui berada dalam pengaruh kuat jaringan kubu SBY. Tidak mungkin Cikeas rela membiarkan Prabowo dengan kelompoknya merebut wilayah tersebut. Saat ini Demokrat melalui Gubernur Soekarwo sudah sepakat untuk mengusung Khofifah. Dengan kemunculan Yenny Wahid, tentu membuat kubu SBY akan mati-matian menghadang. Kondisi demikian juga berlaku di Jawa Tengah, yang sejak lama telah menjadi basis kekuatan PDI Perjuangan.

Di kedua wilayah itu, tampaknya sulit bagi Prabowo untuk memperluas pengaruhnya. Sekalipun Yenny Wahid diusung, tetap tidak akan dapat berbuat apa-apa. Paling cuma menjadi penggembira, dan hanya meramaikan pesta demokrasi atau minimal menaikkan popularitas jelang Pilpres 2019, kalau memang itu tujuannya.

Secara hitung-hitungan, pasangan yang diusung kubu SBY nantinya akan tampil sebagai pemenang di Jatim. Nah, kenyataan ituini sulit dinafikan dan Prabowo harus berjiwa besar untuk legowo. Toh, daerah Jawab Barat, Sumatera Utara dan beberapa daerah lainnya dimungkinkan pasangan yang diusung Prabowo dan mitra koalisinya akan unggul. Jadi buat apa juga Gerindra dan partai Islam lainnya nekat mendukung Yenny Wahid. Kalau hal itu dipaksakan, tentu melecehkan keberadaan kader potensial. Hasilnya, menyulut kegaduhan di internal partai. Dalam hal ini Prabowo mesti bijak.[]

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here