Khofifah: Ulama dan Pesantren Tonggak Penguatan Pancasila dan NKRI

0
123

Nusantara.news, Surabaya – Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa menyebut ledakan bom yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur mengindikasikan ada pihak yang tidak ingin Indonesia aman. Karena itu Khofifah berharap agar semua pihak tidak terpancing.

“Jangan terpancing dan jangan memancing-mancing,” ucap Khofifah saat menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani, di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5/2017) malam.

Khofifah menjelaskan, saat ini masyarakat sangat mudah terpancing menanggapi sesuatu sehingga membuat suasana semakin keruh.

Menurutnya, peristiwa bom di Kampung Melayu tersebut adalah tindakan memancing respons berlebihan masyarakat oleh kelompok tertentu.

“Makanya jangan terpancing,” katanya lagi.

Menurut Khofifah, peristiwa itu semakin menguatkan peran penting ulama serta tokoh agama untuk mengingatkan kembali agar masyarakat dan generasi di Indonesia tidak mudah terpengaruh ajakan orang atau kelompok-kelompok yang ingin mengganggu ketenangan dan ketenteraman bangsa.

“Peran ulama, kalangan pesantren dibutuhkan untuk mengingatkan pihak yang mau mengganggu negeri ini, misalnya mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Saya mau tanya, apakah di pesantren ini ada yang ingin mengganti Pancasila dengan sistem khilafah?” tanya Khofifah yang dijawab “Tidak!” secara serentak hadirin.

“Ini PR kita karena gangguan ini sering kali muncul,” tegasnya.

Ulama maupun pesantren, imbuhnya, berperan besar atas pendirian NKRI. Dicontohkan, ada KH Wahid Hasyim, salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

“Saya ingin sampaikan kalau Kiai Wahid Hasyim yang anggota BPUPKI dan PPKI yang akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia,” katanya.

“Kiai Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, ayahanda KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalau kemudian ada anak-anak muda yang mengaku ‘trahnya’ NU lalu ingin mengubah dasar negara, bentuk negara, dan sistem pemerintahan ini, tolong diingatkan. Inilah tugas kita.”

Khofifah berharap Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani menjadi penguatan muhasabah untuk menjaga keutuhan NKRI. “Tonggak-tonggak penguatan NKRI adalah pesantren-pesantren yang dikomandani para kiai NU, salah satunya ponpes ini,” katanya.

Apalagi usia ponpes ini jauh lebih tua dari Indonesia. dan banyak ponpes yang berusia 100 tahun bahkan lebih. “Tiga hari lalu saya mendatangi imtihan ke-100 Ponpes Sukamiskin. Kalau imtihan ke-100 berarti usia pesantren lebih dari 100 tahun,” katanya.

Begitu juga saat ada pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan para kiai di Jatim di sela pengukuhan Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin sebagai guru besar ilmu ekonomi muamalat syariah oleh UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Dalam pertemuan terbatas itu ada pengasuh pesantren yang pesantrennya didirikan dari tahun 1700.

“Artinya inilah pilar-pilar yang membangun semangat juang melawan penjajahan, apakah Belanda atau Jepang. Hanya saja para kiai ini, perannya tidak ingin di-publish. Maka banyak sekali kiai yang tidak mengajukan sebagai apakah calon pahlawan, bintang mahaputra dan seterusnya karena keikhlasannya begitu luar biasa,” papar Khofifah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here