Ki Hajar Dewantara, Si Pemberang yang Romantis

0
149

Nusantara.news, Jakarta – Nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, tetapi kemudian menanggalkan keningratannya dan mengganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Ia lahir pada 2 Mei 1889, yang hari kelahirannya itu dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ayahnya, Kajeng Pangeran Harjo Soeryaningrat adalah putra dari Paku Alam III yang ikut memerintah sebagian Yogyakarta. Sedangkan ibunya, Raden Ayu Sadijah, merupakan pewaris Kadilangu, keturunan langsung Sunan Kalijaga.

Sebagai keturunan priyayi, Soewardi dibesarkan dengan asuhan ajaran budi dan tradisi keraton yang halus dan penuh keteraturan. Tak ada raut seorang pemberang di wajah Soewardi. Kita mengenalnya sebagai orang tua yang bijak dan bapak pendidikan kebangsaan. Wajahnya, sebagaimana tampak dalam foto ‘resmi’ di sekolah-sekolah: teduh, santun, juga ringkih.

Namun di usia mudanya, Soewardi adalah seorang pemberani dan kritis di hadapan kuasa penjajah. Dia mencemooh kelakuan penjajah Belanda, sebagaimana ia pun mencela feodalisme ningrat keraton, kaumnya sendiri. Ia juga mengeritik keras, sebelum akhirnya keluar, organisasi Boedi Oetomo yang dirintisnya bersama koleganya di STOVIA karena menjadi organisasi priyayi yang loyo.

Keluar dari Boedi Oetomo, Soewardi bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ernest Douwess Dekker, mendirikan Indische Partij, organisasi pertama yang dengan gamblang mencita-citakan kemerdekaan. Dari sinilah darah perlawanan Soewardi mendidih, pidato dan tulisan-tulisannya membuka kesadaran rakyat bumiputera untuk lepas dari cengkraman kolonialisme.

Simak artikel Soewardi yang bergelora, “Als Ik Een Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Tulisan ini dimuat di surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker, 13 Juli 1913.  “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, melainkan juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya.”

Als ik een Nederlander was di harian De Expres

Itulah kritik pedas sebagai respons atas niat pemerintah Hindia Belanda mengumpulkan sumbangan dari kaum pribumi untuk perayaan kemerdekaan Belanda yang mereka rebut dari Prancis pada 1913. Lewat tulisannya itu, Soewardi menampar, tapi bukan dengan sikap kasar. Ia tidak memaki, melainkan memberi kata-kata yang tepat, jitu, serta indah susunannya. Ada humor, ada sinis, ada ironi bercampur satir yang jelas ditujukan kepada bangsa penjajah.

Pemerintah kolonial murka. Mereka mengancam akan membredel surat kabar tersebut. Tak terima, Tjipto menulis artikel di surat kabar De Express, 20 Juli 1913, berjudul “Kracht of Vreez” (Ketakutan atau Kekuatan). Intinya, dia menganggap sikap represi terhadap Komite Boemi Poetra dan Indische Partij adalah bentuk ketakutan pemerintah. Berselang sepekan, Soewardi kembali menohok pemerintah dengan artikel di surat kabar yang sama, 28 juli 1913, berjudul “Een voor Allen, Allen voor Een” (Satu untuk semua, semua untuk satu).

Pemerintah tak dapat lagi menahan diri. Pasukan Belanda dikirim ke Bandung untuk meringkus Soewardi dan Tjipto, serta menyegel kantor Indische Partij. Menolak kedua koleganya ditangkap, Ernest Douwes Dekker yang baru kembali dari Belanda, menulis di De Express, berjudul “Onze Helden Soewardi en Soetjipto Mangoenkoesoemo” (Pahlawan-pahlawan kita Suwardi dan Sucipto Mangunkusumo). Ernest pun akhirnya ditangkap. Mereka bertiga atau dikenal dengan sebutan “tiga serangkai”, kemudian diasingkan ke Belanda.

Di tanah pengasingan, Soewardi tak kapok melawan. Tekadnya makin tebal. Dia menulis dan menyunting terbitan berkala De Indier, yang isinya membongkar borok pemerintah kolonial di tanah jajahan. Dia kompori mahasiswa-mahasiswa bumiputera di sana untuk mengubah haluan Indische Vereeninging, sebuah paguyuban mahasiswa bumiputra di tanah asing, ke arah yang makin radikal dan bertujuan kemerdekaan dan kebangsaan.

Di ‘negeri kincir angin itu’, ia juga mendalami konsep-konsep pendidik Barat, seperti Frobel Montesori. Tak terkecuali konsep pendidikan Santiniketan dari India yang dipelopori oleh Rabindranath Tagore yang menggabungkan konsep nasionalisme, kebangsaan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi dunia Barat. Soewardi lalu meramu dan memasak semua itu menjadi konsep yang kelak menjadi landasan pendidikan nasional.

Perempuaan Hebat di Belakang Ki Hajar

Boleh jadi, Soewardi akan konsisten radikal melawan kolonial jika saja tak terjadi sesuatu kepada istrinya, Soetartinah. Sang istri jatuh sakit. Salah satu penyebabnya selalu memikirkan keselamatan suaminya yang kerap dikejar-kejar aparat kolonial, bahkan keluar-masuk penjara. Dari sinilah terjadi titik penting dalam kehidupan Soewardi. Ia mengurangi bahkan menghentikan aktivitas yang berpotensi mengancam keselamatannya dan fokus mendampingi sang istri sampai sembuh.

Soewardi amat mencintai istrinya. Betapa tidak, Soetartinah istrinya, perempuan ningrat yang cintanya tak pernah lekang. Dia selalu mendukung perjuangan suaminya, bahkan ikut menemani di tempat pengasingan. Ia pula yang meyakinkan keluarga besarnya untuk menerima Soewardi sebagai suaminya, saat Soewardi berstatus “buron” dan dicap pemberang oleh pemerintah.

Soetartinah pula yang meneguhkan Soewardi di kala semangatnya jatuh. Sebaliknya, saat istrinya menjenguknya di penjara, Soewardi berucap, “Kangmas tak akan jatuh, selain ke hatimu.” Tak heran, oleh Ernets Douwes Dekker, keduanya disebut pasangan paling romantis di masa pergerakan.

Kisah itu berawal pada Juni 1913. Soetartinah mendapat kabar tak sedap soal tunangannya, Soewardi, yang diburu pemerintah Hindia Belanda akibat tindakan dan tulisannya yang menyengat para pembesar kolonial. Raden Ajeng Soetartinah lahir pada 14 September 1890. Dia cucu Sri Paku Alam III sekaligus canggah atau keturunan kelima Pangeran Dipaonegoro.

Kabar penangkapan cepat beredar, bahkan sampai ke kerabat Paku Alaman di Yogyakarta. Sumardinah Martadirja melalui suratnya menanyakan perihal kabar itu kepada adiknya, Soetartinah. “Di Yogyakarta sudah tersiar kabar bahwa kangmas Soewardi hendak mencetuskan pemberontakan kepada pemerintah Hindia Belanda, tolonglah jawab, apakah berita itu benar?”

Soetartinah membalas surat itu, seperti dikutip Bambang Sokawati Dewantara dalam biografi Nyi Hajar Dewantara. “Kanda Sumardinah Martadirja, di Yogyakarta. Kalau berita itu benar, aku yang lebih dulu tahu. Dan jika pun benar, aku sudah siap menghadapi risiko apa pun dengan penuh kebanggaan sebagai keturunan brandal Diponegoro.”

Soetartinah bergegas menuju Bandung, namun terlambat, Soewardi sudah ditahan. Atas izin kepala militer setempat, Soetartinah bertemu Soewardi meski hanya lima menit. Di ruang khusus, Soewardi menggenggam tangan Soetartinah. Mereka bertukar sapu tangan yang diselipkan ke genggaman masing-masing tanpa sepengetahuan penjaga. Rupanya, masing-masing menulis pesan di dalamnya: saling bersetia dan akan memberikan dukungan satu sama lain.

Perihal penangkapan Soewardi, Soetartinah juga mendapat surat dari Ernest Douwes Dekker: “Tinah! jangan berkecil hati! kau harus bangga bahwa satu di antara pahlawan-pahlawan kita itu adalah manusia pujaanmu.” Soetartinah pun membalas: “Nest yang baik, Soewardi bukanlah pahlawanku. Tetapi pahlawan kita semua, seperti halnya dirimu dan Tjipto.”

Ki Hajar bersama istrinya, Soetartinah, yang setia mendampingi perjuangannya hingga masa tua

Sebulan, Soewardi bersama sahabatnya merasakan dinginnya kamar berjerajak besi. Pada 18 Agustus 1913, hakim memutuskan Tiga Serangkai akan dibuang ke Bangka, Banda Neira, Timor, dan Kupang. Namun, mereka menolak dan menginginkan pengasingan keluar tanah air, dengan negara tujuan adalah Belanda.

Sebelum berangkat, akhir Agustus 1913, Soewardi dan Soetartinah melangsungkan pernikahan sederhana di Puri Suryaningratan, Yogyakarta. Mereka sepertinya akan melangsungkan bulan madunya di tanah pengasingan. Pada 13 September 1913, kapal Bullow bertolak ke Belanda, membawa Tiga Serangkai serta Soetartinah.

Soetartinah tak menikmati bulan madunya. Selain sebagai istri Soewardi, dia juga mengatur belanja harian orang-orang buangan politik. Dana tersebut berasal dari Tado Fonds, badan bentukan Indische Partij yang menggalang dana dari organisasi atau masyarakat untuk membiayai buangan politik. Jumlahnya pun tak banyak. Untuk menambal kekurangan, Soetartinah menyediakan mengajar di taman kanak-kanak di Weimaar, Den Haag.

Namun, kali ini pertahanan Soetartinah lebur. Bukan soal apa-apa. Ia tak kuasa lagi menyaksikan penderitaan suaminya yang makin berat. Sebab, di masa-masa itu, Soewardi kerap berurusan dengan pemerintah kolonial: diancam, ditangkap, dipenjara, dan dibuang. Akhirnya, Soetartinah pun sakit. Sejak itu, Soewardi mengurangi sikap radikalnya.

Setelah Soetartinah sehat, jalan perjuangan Soewardi berubah. Di Yogyakarta, tempat di mana ia dilahirkan, ia menyusun cara perlawanan baru, yaitu lewat pendidikan. Tepat tanggal 3 Juli 1922, berdirilah Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Lembaga Pendidikan Nasional Taman Siswa. Sejak saat itu, Soewardi Soerjaningrat memakai nama baru: Ki Hajar Dewantara. Penggantian nama tersebut pun pada hakikatnya merupakan simbol filosofi dan perjuangannya: Ki Ajar (pengajar, pendidik).

Kendati tidak lagi menyerang secara frontal, Soewardi alias Ki Hajar tetap melakukan perlawanan. Taman Siswa murni independen, Ki Hajar menolak mentah-mentah subsidi dari pemerintah kolonial. Ia juga kerap melawan kebijakan pendidikan kolonial yang dianggapnya merugikan rakyat Indonesia.

Corak pendidikannya dapat dikatakan sebagai paduan pendidikan gaya Eropa yang telah ia pelajari selama di Belanda dan seni-budaya Jawa tradisional yang merupakan latar sosialnya sejak mula. Dia menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangan dengan memberikan penanaman kebangsaan, juga meninggikan emansipasi kaum pribumi: Merdeka lahir dan batin.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here